Tawassul merupakan salah satu isu teologis yang paling diperdebatkan dalam tradisi keislaman Indonesia. Perdebatan ini memuncak pada penafsiran QS. Al-Mā'idah (5): 35 yang memerintahkan pencarian wasīlah (jalan mendekatkan diri) kepada Allah. Di antara sekian banyak karya tafsir Nusantara, Tafsir An-Nūr karya T.M. Hasbi ash-Shiddieqy (1904–1975) menempati posisi penting sebagai representasi pemikiran reformis-modernis yang membawa semangat purifikasi (pemurnian) dalam memahami praktik tawassul. Penelitian ini mengkaji secara mendalam penafsiran Hasbi ash-Shiddieqy terhadap QS. Al-Mā'idah (5): 35 serta konteks historis-sosiologis yang melatarbelakanginya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis isi, penelitian ini menemukan bahwa Hasbi ash-Shiddieqy menafsirkan wasīlah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui amal saleh dan ketaatan, serta membatasi tawassul hanya pada doa orang-orang yang masih hidup. Ia secara tegas menolak tawassul melalui orang-orang yang telah wafat dengan argumentasi bahwa praktik tersebut tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tidak ditemukan dalam dalil otentik (dalil ma'tsūr), dan hanya bersumber pada hadis-hadis lemah (ḍa'īf). Penafsiran Hasbi sangat dipengaruhi oleh konteks keilmuan (metodologi tafsir bi al-ma'tsūr dan bi al-ma'qūl), konteks sosio-kultural (semangat purifikasi terhadap praktik sinkretik masyarakat), serta konteks ideologis (keterlibatannya dalam gerakan reformis-modernis). Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir An-Nūr merepresentasikan upaya sistematis Hasbi ash-Shiddieqy dalam memurnikan pemahaman keagamaan masyarakat Indonesia melalui medium penafsiran Al-Qur'an, sekaligus menjadi salah satu pilar penting dalam khazanah tafsir Nusantara bercorak reformis-purifikatif
Copyrights © 2026