p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal SENI MUSIK
Olivia Evelin Sundari
Universitas Pelita Harapan

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Evaluasi Dampak yang Dirasakan Mahasiswa Conservatory of Music UPH dalam Pelaksanaan Pertunjukan Musik Virtual [Evaluation of the Impact Perceived by UPH Conservatory of Music Students in the Implementation of Virtual Music Performances] Janice Evelyn Limoko; Olivia Evelin Sundari
Jurnal SENI MUSIK Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v17i2.3741

Abstract

Musical performance is a musical activity that is performed in a public situation, consisting of the physical presence of musicians and audience where both parties share mutual musical experiences in the same space when the show is being performed (Gracyk, 1997). However, since the COVID-19 pandemic hit Indonesia, onsite performances have been forced to shift into virtual performances. This has resulted in the lack of musician’s physical presence and interaction with the audience. This sudden change has confused musicians in implementing their music. The qualitative method with a phenomenological study approach was used for this research. An online survey was conducted with active students of Conservatory of Music UPH as respondents of this study. Data from an online survey was then processed into coding tables, analyzed, and interpreted. The results showed that the phenomenon of implementing virtual music performances has caused several negative and positive impacts for musicians. The negative impact of the implementation of virtual performances was classified into several factors, included: physical absence, motivational, psychological, and technical factors. Whereas, the positive impacts included: better personal encouragement, in-depth evaluation, and new experiences in music-making.   Bahasa Indonesia Abstract: Pertunjukan musik merupakan aktivitas musik yang ditampilkan di depan umum oleh penampil kepada audiens, yang terdiri dari kehadiran fisik pemusik dan audiens di mana keduanya saling berbagi pengalaman musik dalam satu ruang yang sama pada saat pertunjukan sedang ditampilkan (Gracyk, 1997). Namun semenjak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, pertunjukan onsite dengan terpaksa dilaksanakan secara virtual sehingga keberadaan fisik pemusik dan audiens menjadi terpisah. Perubahan sifat pertunjukan dari langsung menjadi virtual terjadi dengan sangat mendadak, sehingga menimbulkan beberapa kesulitan bagi pemusik dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Survei daring dilakukan kepada mahasiswa aktif Conservatory of Music UPH sebagai responden dari penelitian ini. Data dari survei daring kemudian diolah ke dalam tabel coding, dianalisis dan diinterpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena pelaksanaan pertunjukan musik virtual menghasilkan dampak negatif dan positif bagi pemusik. Dampak negatif dari pelaksanaan pertunjukan virtual tergolong ke dalam beberapa faktor meliputi: faktor ketidakhadiran fisik, faktor motivasi, faktor psikologis dan faktor teknis pelaksanaan pertunjukan. Dampak positif dari pelaksanaan pertunjukan tergolong ke dalam beberapa faktor meliputi: dorongan pribadi untuk menjadi lebih baik, melakukan evaluasi secara mendalam, dan terciptanya pengalaman baru dalam bermusik.
Analisis Deskriptif Keefektifan Komposisi “Karnivor” Karya Stefanus Prabaswara dalam Penyampaian Pesan Tentang Kerusakan Lingkungan Stefanus Medha Prabaswara; Olivia Evelin Sundari
Jurnal SENI MUSIK Vol. 13 No. 1 (2021): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v13i1.3744

Abstract

Every year, an average of 270 million tons of plastic were produced in the world, 8 million tons of which ended up on the coast, while 10-100 thousand tons of plastic were in seawater (Hannah & Roser, 2018). This alarming issue of environmental damage needs to be raised so that more people are encouraged to take part in preserving the environment. In recent years, several musicians took part by promoting concerning environmental issues through their music. Kathleen Marie Higgins in her book entitled "The Music Between Us: Is Music a Universal Language?", argued that music moved people beyond linguistic boundaries. In this research, the writer who is also a music composer, creates a musical composition entitled “Karnivor”, which contains messages of environmental preservation utilizing composition techniques such as mixed-media, soundscape, and word-painting. The work was then analyzed for its effectiveness in conveying messages descriptively with quantitative research methods. The musical composition was broadcasted live online via the Youtube site. Through the Google Forms platform, questionnaires were distributed to 33 respondents or audience, who were mainly students and lecturers of the Conservatory of Music Pelita Harapan University and the general public. The data that has been processed using the Binomial Distribution Formula and IBM SPSS software v.26 showed that the compositional work "Karnivor" was effective in conveying messages of environmental damage to the audience. Setiap tahun, rata-rata 270 juta ton plastik diproduksi di dunia ini, 8 juta ton di antaranya berakhir di pesisir pantai, sedangkan ada 10-100 ribu ton plastik yang berada di air laut (Hannah & Roser, 2018). Isu kerusakan lingkungan yang memprihatinkan ini perlu diangkat supaya semakin banyak masyarakat terdorong untuk turut melestarikan lingkungan. Dewasa ini, beberapa musisi telah ikut berperan dalam mengkampanyekan isu kerusakan lingkungan melalui karya musik mereka. Kathleen Marie Higgins dalam bukunya yang berjudul “The Music Between Us: Is Music a Universal Language?”, berargumen bahwa musik menggerakkan orang melebihi batas linguistik. Dalam penelitian ini, penulis yang juga adalah seorang komponis musik, menciptakan suatu karya musik yang di dalamnya terkandung pesan pelestarian lingkungan dengan teknik komposisi mixed-media, soundscape, dan word-painting. Komposisi tersebut kemudian diteliti keefektifannya dalam menyampaikan pesan tersebut secara deskriptif dengan metode penelitian kuantitatif. Karya musik tersebut disiarkan langsung secara daring melalui situs Youtube. Melalui platform Google Forms, kuesioner dibagikan kepada 33 responden atau penonton yang berasal dari mahasiswa dan dosen Conservatory of Music Universitas Pelita Harapan dan kalangan umum. Data yang telah diolah dengan Binomial Distribution Formula dan perangkat lunak IBM SPSS v.26 menunjukkan bahwa karya “Karnivor” efektif dalam menyampaikan pesan kerusakan lingkungan kepada pendengar.
Evaluasi Efektivitas Penggunaan Teknik Perekaman Engaged Filming dalam Sesi Terapi Musik dengan Lansia di Universitas Pelita Harapan [Evaluation of the Effectiveness of Using Engaged Filming Recording Technique in Music Therapy Sessions with the Elderly at Universitas Pelita Harapan] Theresia Dorothy; Olivia Evelin Sundari
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i2.4798

Abstract

Video recording of music therapy sessions holds an important role in helping music therapists evaluate their sessions. The purpose of this research is to evaluate the effectivity of engaged filming in recording music therapy sessions, especially during the evaluation process. This research compares two video recorded sessions using engaged filming on the fourth sessions, and unmanned camera on the fifth sessions. Three UPH Music Therapy students participate in this research, in which all participants work with senior clients.  Questionnaires are distributed to participants in order to analyze their perspectives on the effectiveness of both recording techniques. By comparing both videos, this research analyzes the strengths and weaknesses of each recording technique. This research uncovers that engaged filming is able to capture details of the clients' facial expressions and body movements compared to unmanned camera. However, this research also discovers the inflexibility use of engaged filming, especially in recording psychoanalysis-based sessions. Rekaman video sesi terapi musik memiliki peran penting dalam proses terapi musik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi peran teknik perekaman video engaged filming, khususnya dalam proses evaluasi sesi terapi musik. Untuk mendapat gambaran yang luas mengenai teknik engaged filming, penelitian membandingkan penggunaan teknik engaged filming dengan teknik unmanned camera terhadap tiga partisipan yang merupakan mahasiswa Terapi Musik di UPH. Penelitian dilaksanakan dengan cara merekam praktik sesi terapi musik partisipan, yakni sesi keempat dengan menggunakan teknik engaged filming dan sesi kelima dengan menggunakan teknik unmanned camera. Setelah membandingkan kedua teknik perekaman video, peneliti menganalisis kelebihan dan kekurangan dari dua teknik perekaman tersebut. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas dari pengaplikasian teknik perekaman video engaged filming dalam praktik terapi musik dengan lansia, khususnya dari aspek detail ekspresi dan gerakan klien. Penelitian ini menemukan bahwa teknik engaged filming unggul dalam menangkap detail ekspresi dan gerakan klien pada saat sesi terapi musik. Namun, teknik engaged filming hanya efektif digunakan dalam sesi terapi musik dengan pendekatan dan objektif tertentu saja.
From Musik Seriosa to Tembang Puitik: A History of Indonesian Art Songs [Dari Musik Seriosa Menuju Tembang Puitik: Sejarah Perkembangan Art Song di Indonesia] Olivia Evelin Sundari
Jurnal SENI MUSIK Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v12i1.4851

Abstract

Kedatangan orang Eropa di kepulauan Indonesia pada abad ke-16 telah berdampak pada banyak aspek di Indonesia. Dalam aspek musik, kedatangan orang Portugis telah memberi dampak dalam kelahiran musik Keroncong, sedangkan orang Belanda telah membawa lagu dansa populer Eropa ke Indonesia. Pada awal abad ke-20, terbukanya akses terhadap sistem pendidikan bagi orang Indonesia telah berujung pada pergerakan atau perjuangan mencapai kemerdekaan dari pemerintah kolonial Belanda. Pada saat ini, lahirlah komposer Indonesia generasi pertama yang menciptakan karya musik yang bersifat patriotik. Setelah Indonesia merdeka, Radio Republik Indonesia (RRI, stasiun radio pertama di Indonesia) berdiri dan Bintang Radio menjadi salah satu acara terpopuler pada saat itu. Popularitas kontes Bintang Radio telah mendorong kelahiran komposer musik generasi kedua, yang pada umumnya banyak menciptakan lagu vokal yang disebut sebagai Musik Seriosa. Pada abad ke-21, istilah dari lagu vokal klasik (art song) bergeser menjadi Tembang Puitik, dan istilah Musik Seriosa mulai ditinggalkan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang sejarah umum dari art song di Indonesia, dari Musik Seriosa menuju Tembang Puitik. Penelitian ini pertama-tama menjelaskan tentang sejarah masuknya musik barat dan berdirinya sekolah/akademi musik di Indonesia, yang dilanjutkan dengan studi historis mengenai perkembangan musik modern di Indonesia. Kemudian, melalui studi literatur, karya tulis ini ditutup dengan analisis singkat mengenai istilah art song Indonesia yang telah bergeser, yakni Musik Seriosa dan Tembang Puitik. The arrival of the Europeans in the 16th century at the Indonesian archipelago has influenced many aspects of Indonesia. In music, the Portuguese have influenced the birth of Keroncong music, whereas the Dutch have brought European popular and dance songs to Indonesia. In the early 20th century, access to the education system has somehow led to the sparks of the independence movement. During this era, the first generation of Indonesian composers was born and patriotic songs were composed. After gaining independence, the first radio station in Indonesia, Radio Republik Indonesia (RRI), was established, and the Bintang Radio (Radio Star) became one of the most popular programs. The popularity of Bintang Radio contest has urged the birth of second-generation Indonesian composers, who mostly composed vocal songs, or then called Musik Seriosa. In the 21st century, the term for Indonesian art songs shifted to Tembang Puitik, and the term Musik Seriosa was not as familiar as before. This study aims to uncover the general history of Indonesian art songs, from Musik Seriosa to Tembang Puitik. The paper will firstly elaborate on western music dissemination and the establishments of music academies in Indonesia, followed by a historical study about the development of Indonesian modern music. Then, the paper will conclude with the analysis of the shifting terms, Musik Seriosa and Tembang Puitik, mainly through literature review.