Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang berlimpah dan berpotensi mendukung pengembangan ekonomi biru sebagai negara maritim. Namun, optimalisasi ekonomi biru masih terkendala oleh berbagai persoalan, seperti penangkapan ikan berlebihan, keterbatasan infrastruktur dan akses listrik, serta degradasi lingkungan laut. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi pangsa ekonomi biru di 34 provinsi di Indonesia selama periode 2021 hingga 2024. Analisis dilakukan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Analisis dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan model data panel melalui metode Panel Least Squares (PLS) dan pendekatan Fixed Effects Model (FEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan penjelasan yang sangat tinggi dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,997. Secara parsial, variabel Electricity Consumption (EC) terbukti memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap pangsa ekonomi biru dengan koefisien sebesar -0,208869, sedangkan variabel Information and Communication Technology (ICT) memiliki pengaruh positif dan signifikan dengan koefisien sebesar 0,010090. Sementara itu, Trade Openness (TO), Gross Fixed Capital Formation (GFCF), dan Fisheries and Aquaculture production (FNA) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pangsa ekonomi biru. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan pemanfaatan teknologi digital serta pengelolaan energi yang lebih berkelanjutan merupakan faktor penting dalam mendorong pengembangan pangsa ekonomi biru di Indonesia.