Merlin wulandari Agis
Universitas Widya Nusantara Palu

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan Nilai Gizi, Konsumsi Makanan Kemasan, dan Aktivitas Fisik dengan Gizi Lebih Siswa Laki-Laki SMP Negeri 1 Palu Merlin wulandari Agis; Nensy Florence Damanik; Lilik Sofiatus Solikhah
Indonesian Food and Nutrition Research Journal Vol 2 No 2 (2026): September
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi gizi lebih pada remaja terus mengalami peningkatan dan berpotensi menimbulkan berbagai penyakit kronis. Tingginya konsumsi makanan kemasan serta rendahnya aktivitas fisik diduga menjadi faktor dominan, sedangkan pengetahuan mengenai informasi nilai gizi berperan dalam menentukan pilihan konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara pengetahuan gizi, konsumsi makanan kemasan, dan aktivitas fisik dengan kejadian gizi lebih pada siswa laki-laki. Metode Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 100 siswa laki-laki SMP Negeri 1 Palu, dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Variabel bebas mencakup pengetahuan gizi, konsumsi makanan kemasan, dan aktivitas fisik, sementara variabel terikat adalah status gizi lebih. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran antropometri serta penggunaan kuesioner pengetahuan gizi, FFQ, dan PAL. Analisis data menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Sebanyak 76% responden tergolong mengalami gizi lebih. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi makanan kemasan (p=0,04) dan aktivitas fisik (p=0,03) dengan status gizi lebih. Sebaliknya, pengetahuan tentang informasi nilai gizi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p=0,449). Nilai PR/OR tidak dilaporkan dalam penelitian ini. Kesimpulan: Frekuensi konsumsi makanan kemasan yang tinggi dan tingkat aktivitas fisik yang rendah berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gizi lebih pada remaja. Sementara itu, pengetahuan gizi belum terbukti memberikan pengaruh langsung terhadap status gizi. Oleh karena itu, pendekatan intervensi yang berfokus pada perubahan perilaku dinilai lebih efektif dibandingkan hanya meningkatkan pengetahuan. Implikasi: Kebijakan gizi di lingkungan sekolah perlu diarahkan pada pengurangan konsumsi makanan kemasan serta peningkatan aktivitas fisik sebagai upaya utama dalam pencegahan gizi lebih pada remaja.