Arina Al Haq
Universitas Muhammadiyah Kudus

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FORMULASI SEDIAAN NAIL POLISH PEEL OFF DAN UJI ANTIJAMUR EKSTRAK BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.) TERHADAP Candida albicans Arina Al Haq; Hasriyani Hasriyani; Bintari Tri Sukoharjanti; Ratna Dewi Isnaini
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 10, No 1 (2025): IJF (Indonesia Jurnal Farmasi)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v10i1.3524

Abstract

Onikomikosis merupakan infeksi jamur pada kuku yang salah satu penyebabnya adalah Candida albicans. Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) mengandung fenol, flavonoid, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antijamur dan karakteristik fisik nail polish peel off bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.). Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratorium yang dilaksanakan di Laboratorium Biologi Farmasi Universitas Muhammadiyah Kudus pada bulan Februari–Maret 2026. Sampel berupa 1.000 gram serbuk simplisia dari 4 kg bunga kembang sepatu merah dengan kriteria inklusi bunga segar, tidak rusak, dan bebas pestisida. Variabel independen penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak bunga kembang sepatu dan variabel dependen meliputi aktivitas antijamur serta karakteristik fisik sediaan. Formulasi terdiri atas F1 (25%), F2 (30%), dan F3 (35%), dengan F0 sebagai kontrol negatif serta ketokonazol krim sebagai kontrol positif. Aktivitas antijamur diuji menggunakan metode difusi sumuran, sedangkan karakteristik fisik dievaluasi melalui pengujian organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, waktu kering, dan viskositas. Analisis data menggunakan uji Shapiro–Wilk, Levene, One Way ANOVA, dan Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formulasi memenuhi persyaratan karakteristik fisik nail polish peel off. Diameter zona hambat F1, F2, dan F3 berturut-turut sebesar 5,06 mm, 5,93 mm, dan 5,98 mm yang termasuk kategori sedang, sedangkan kontrol positif sebesar 12,15 mm termasuk kategori kuat dan kontrol negatif tidak menunjukkan zona hambat. Formulasi F3 (35%) menghasilkan daya hambat terbesar, namun tidak berbeda signifikan secara statistik. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan sediaan dengan konsentrasi ekstrak lebih tinggi serta melakukan uji stabilitas, iritasi, dan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM).