Perkembangan pesat teknologi Kecerdasan Buatan Generatif, khususnya foundation models, telah mendisrupsi lanskap interaksi digital dan memunculkan berbagai dilema moral yang esensial. Peningkatan kemampuan komputasi mesin beriringan dengan kerentanan etis yang signifikan, mulai dari penyebaran halusinasi informasi, pelanggengan bias laten algoritma, eksploitasi hak cipta, hingga taktik manipulasi instruksi (prompt injection). Selama ini, pedoman tata kelola dan regulasi teknologi masih cenderung berfokus pada penyelarasan algoritma di tahap hilir dan mengabaikan kualitas niat serta kebajikan subjek manusia di baliknya. Menjawab kesenjangan tersebut, penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis ini bertujuan untuk memformulasikan filosofi Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga) sebagai metrik rekayasa etis bagi para pengembang perangkat lunak, khususnya dalam praktik prompt engineering. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedelapan unsur jalan mulia tersebut dapat dioperasionalisasikan menjadi tiga pilar tata kelola aktif: pembingkaian paradigma komputasi melalui kebijaksanaan (Panna) guna meruntuhkan ilusi determinisme algoritma, praksis rekayasa sintaksis melalui kemoralan (Sila) sebagai pelindung keamanan siber, serta pemeliharaan resiliensi kognitif melalui konsentrasi (Samadhi). Integrasi arsitektur batin ini terbukti mampu mentransformasi rekayasa instruksi dari sekadar pengetikan kode menjadi medium transformasi moral, memastikan bahwa pengembangan teknologi selalu berakar pada welas asih dan kesadaran penuh demi mencegah pelucutan kedaulatan nalar manusia oleh mesin