Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Kalsium dalam Serum Darah pada Pasien Osteoartritis Genu di Posyandu Larasati, Dukuh Kupang, Surabaya Cantika Nuzulia Rahmayanti; Ayly Soekanto; Handy Arief; I Made Subhawa Harsa
Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober: Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/termometer.v4i4.7009

Abstract

Osteoarthritis genu is a degenerative joint disease influenced by mechanical and metabolic factors. A high body mass index (BMI) increases intra-articular loading, whereas serum calcium reflects mineral homeostasis related to bone health. To analyze the association between BMI and serum calcium levels among patients with osteoarthritis genu at Larasati Posyandu, Dukuh Kupang, Surabaya. This analytic observational study used a cross-sectional design and was conducted in January 2026 among 30 female respondents aged 35-75 years who were diagnosed with osteoarthritis genu and selected through purposive sampling. BMI was calculated from measured body weight and height, while serum calcium was measured using spectrophotometry. The Shapiro-Wilk normality test was followed by Pearson correlation analysis. Most respondents were aged 46-57 years (53.3%). The most frequent BMI categories were overweight and obesity, each comprising 10 respondents (33.3%). All respondents had normal serum calcium levels (8.5-10.5 mg/dL). Pearson analysis showed a weak, non-significant negative correlation between BMI and serum calcium (r = -0.250; p = 0.183). There was no significant association between BMI and serum calcium levels among patients with osteoarthritis genu. BMI monitoring remains important as a mechanical risk indicator, whereas a single serum calcium measurement should not be used as a standalone marker of osteoarthritis genu.
Pengaruh Frekuensi Latihan Sepeda Statis sebagai Intervensi Fisioterapi terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Quadriceps pada Pasien Osteoarthitis di Pondok Osteoarthitis Larasati Dukuh Kupang Surabaya Fitriyani Fitriyani; Ayly Soekanto; Handy Arief; I Made Subhawa Harsa
Public Health Journal Vol. 3 No. 3 (2026): July-September, In Progress
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/wjr71978

Abstract

Latar belakang: Osteoarthritis (OA) genu merupakan penyakit sendi degeneratif yang dapat menurunkan fungsi lutut dan kekuatan otot quadriceps, terutama pada perempuan usia lanjut. Latihan sepeda statis bersifat low-impact sehingga berpotensi menjadi modalitas fisioterapi yang aman untuk memperkuat otot sekitar lutut tanpa meningkatkan beban aksial sendi. Tujuan: Menganalisis pengaruh latihan sepeda statis terhadap peningkatan kekuatan otot quadriceps dan membandingkan hasilnya antara kelompok latihan rutin dan tidak rutin pada pasien osteoarthritis genu. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental two group pre-test and post-test pada 30 responden perempuan usia 35-75 tahun di Pondok Osteoarthritis Larasati, Dukuh Kupang, Surabaya, pada Mei-Juni 2026. Intervensi berupa latihan sepeda statis 10 menit per sesi, 3 kali per minggu selama 4 minggu. Kekuatan otot quadriceps diukur menggunakan Back-Leg-Chest (BLC) Dynamometer. Data dianalisis menggunakan Shapiro-Wilk, Paired T-test, Independent Sample T-test, dan Mann-Whitney U dengan taraf signifikansi p<0,05. Hasil: Rerata kekuatan otot quadriceps meningkat dari 26,37 kg (SD=8,78) menjadi 33,00 kg (SD=12,44). Peningkatan signifikan ditemukan pada kelompok rutin (p=0,001) dan tidak rutin (p=0,003). Namun, perbedaan post-test antar kelompok (p=0,118) dan delta peningkatan (p=0,315) tidak signifikan. Kesimpulan: Latihan sepeda statis efektif meningkatkan kekuatan otot quadriceps pada pasien osteoarthritis genu, tetapi perbedaan frekuensi latihan belum menunjukkan efek antar kelompok yang signifikan secara statistik.