Residu antibiotik yang terdapat dalam air minum termasuk ke dalam kelompok emerging contaminants yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan manusia serta berperan dalam meningkatnya resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR). Artikel ini bertujuan untuk menelaah keberadaan residu antibiotik pada air minum, mengevaluasi risiko kesehatan akibat paparannya, serta mengkaji kaitannya dengan perkembangan resistensi antimikroba. Penelitian dilakukan menggunakan metode literature review dengan mengacu pada pendekatan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian artikel dilakukan melalui basis data Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, dan Elsevier menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan residu antibiotik, air minum, risiko kesehatan, dan resistensi antimikroba. Artikel yang disertakan merupakan publikasi tahun 2020-2026, tersedia dalam bentuk teks lengkap, serta memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa residu antibiotik telah ditemukan pada berbagai sumber air minum dengan golongan yang paling banyak dilaporkan meliputi makrolida, sulfonamida, fluorokuinolon, dan β-laktam. Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa nilai Hazard Quotient masih berada pada tingkat risiko non-karsinogenik yang rendah. Meskipun demikian, paparan yang berlangsung dalam jangka panjang serta keberadaan residu antibiotik di lingkungan perairan berpotensi memberikan tekanan seleksi terhadap mikroorganisme, sehingga dapat mempercepat penyebaran bakteri resisten antibiotik maupun gen resistensi antibiotik dalam sistem penyediaan air minum. Dengan demikian, pengelolaan kualitas air minum perlu memperhatikan keberadaan residu antibiotik beserta implikasinya terhadap resistensi antimikroba melalui penerapan pendekatan One Health sebagai upaya mendukung perlindungan kesehatan masyarakat dan pengendalian AMR secara berkelanjutan.