Budaya hustle telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat usia produktif, termasuk mahasiswa, dan tidak jarang memunculkan toxic productivity. Penelitian ini bertujuan mengungkap pengalaman budaya hustle dan toxic productivity pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi melalui observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya hustle telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Budaya tersebut terbentuk karena adanya keinginan untuk mengaktualisasikan diri, lingkungan kampus yang memfasilitasi mahasiswa untuk aktif dalam berbagai kegiatan, serta dorongan untuk memenuhi ekspektasi diri sendiri dan orang lain. Budaya hustle kemudian berkontribusi terhadap munculnya toxic productivity yang ditandai oleh perasaan bersalah dan menyesal ketika individu tidak melakukan aktivitas produktif. Pada informan tertentu, toxic productivity berkembang menjadi perilaku sickness presenteeism yang ekstrem, ketika individu tetap memilih menyelesaikan agenda organisasi meskipun kondisi kesehatan memerlukan tirah baring di rumah sakit. Temuan ini menunjukkan bahwa dorongan untuk terus produktif dapat memengaruhi cara mahasiswa merespons kebutuhan kesehatan dan waktu istirahat.