Debat publik merupakan salah satu bentuk komunikasi politik yang digunakan kandidat untuk menyampaikan visi, misi, program, serta membangun citra di hadapan masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan fungsi pesan politik dan penekanan kebijakan yang digunakan oleh pasangan calon dalam Debat Publik Pilkada Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis isi. Unit analisis dalam penelitian ini adalah pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh kedua pasangan calon selama debat publik Pilkada Kabupaten Semarang. Pengodean dilakukan berdasarkan functional theory yang dikemukakan oleh Benoit, meliputi fungsi pesan politik (acclaim, attack, dan defense) serta isu kebijakan (past deeds dan future plans). Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui perbedaan antar kandidat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan fungsi pesan politik antara kedua kandidat (χ² = 32,843; p < 0,001). Pasangan calon 1 lebih dominan menggunakan fungsi acclaim (86,5%), sedangkan pasangan calon 2 lebih sering menggunakan fungsi attack (32,3%). Selain itu, terdapat perbedaan yang signifikan dalam penekanan kebijakan yang disampaikan oleh kedua kandidat (χ² = 4,123; p = 0,042). Pasangan calon 1 menunjukkan proporsi yang seimbang antara past deeds dan future plans, sementara pasangan calon 2 lebih banyak menekankan future plans. Penelitian ini menunjukkan bahwa masing-masing kandidat menerapkan strategi komunikasi politik yang berbeda dalam debat publik untuk memperoleh dukungan pemilih. Temuan ini memperkuat relevansi functional theory dalam menjelaskan pola komunikasi kandidat pada kontestasi politik lokal serta memberikan gambaran mengenai strategi komunikasi yang digunakan dalam Pilkada Kabupaten Semarang.