Alfaris Cindy Lavhasa
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis fungsi penggunaan ilokusi dalam pidato politik Prabowo Subianto HUT Partai Gerindra tahun 2025 Alfaris Cindy Lavhasa; Teguh Setiawan; Tadkiroatun Musfiroh
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 8 No. 2 (2026): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v8i2.16154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tindak ilokusi yang digunakan Prabowo Subianto dalam pidato politik resminya sebagai Presiden dan Ketua Umum Partai Gerindra pasca Pemilu 2024 dan menginterpretasikan tindak ilokusi dalam pidato politik. Fokus analisis diarahkan pada pidato Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Ulang Tahun Ke-17 Partai Gerindra pada 15 Februari 2025. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara rinci jenis tindak ilokusi yang muncul dan mengintrepretasikan fungsi tindak ilokusi dalam pidato berdasarkan jenis tindak ilokusi yang dikemukakan Searle. Data penelitian dikumpulkan melalui metode simak dengan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan simak bebas libat cakap (SBLC). Keabsahan data diuji melalui triangulasi teori dan triangulasi peneliti. Analisis data dilakukan menggunakan metode padan pragmatis dengan teknik pilah unsur penentu (PUP) dan hubung banding menyamakan (HBS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat jenis tindak ilokusi dalam pidato tersebut, meliputi asertif, direktif, komisif, dan ekspresif, sedangkan deklaratif tidak ditemukan. Secara persentase, tindak ekspresif menjadi kategori yang paling dominan dengan 42,31%, diikuti asertif 33,85%, direktif 18,46%, dan komisif 5,38%, temuan ini mengindikasikan bahwa pidato Prabowo cenderung menonjolkan jenis ekspresif sebagai sebagai legitimasi narasi dan problem framing, penunjukkan superioritas dan mobilisasi massa, penyampaian kontrak sosial dan intensif politik, serta fenomena distingtif (khas): populisme karismatik, konsolidasi relasional, dan disrupsi retorika elite.