Infeksi human immunodeficiency virus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan penatalaksanaan jangka panjang, dan keberhasilan terapi antiretroviral ditandai salah satunya dengan tercapainya supresi viral load. Survei pendahuluan tahun 2024 di Puskesmas Madukoro Kabupaten Lampung Utara menunjukkan bahwa lebih dari separuh pasien telah mencapai viral load tidak terdeteksi, sedangkan sisanya belum mencapai supresi, sehingga faktor perilaku pasien menjadi penting untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor-faktor Health Belief Model, yang meliputi persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri, terhadap keberhasilan supresi viral load pada pasien HIV. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan potong lintang. Seluruh populasi pasien HIV yang menjalani terapi antiretroviral di Puskesmas Madukoro turut menjadi sampel penelitian, yaitu sebanyak tiga puluh tujuh pasien. Data dikumpulkan melalui kuesioner Health Belief Model dan penelusuran rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam faktor Health Belief Model berpengaruh positif dan signifikan, baik secara parsial maupun simultan, terhadap keberhasilan supresi viral load, dengan isyarat untuk bertindak memberikan kontribusi terbesar. Model penelitian mampu menjelaskan sebagian besar variasi keberhasilan supresi viral load, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Dapat disimpulkan bahwa penguatan edukasi, konseling, dukungan tenaga kesehatan dan keluarga, serta pengingat jadwal pengobatan dan kontrol diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan terapi antiretroviral pada pasien HIV di layanan kesehatan primer.