Kajian penelitian ini diarahkan untuk melihat efektifitas komunikasi personil polri dalam mengendalikan agresivitas massa (Studi Tentang Sistem Pengendalian Massa Personil polri Pada Polisi Daerah Nusa Tenggara Timur) dalam penanganan unjuk rasa dikaitkan dengan kebebasan berpendapat di muka umum harus dilakukan dengan berbagai pendekatan yang humanis oleh aparat keamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan Efektifitas Komunikasi Personil Polri Dalam Mengendalikan Agresivitas Massa Pada Polisi Daerah Nusa Tenggara Timur, dan mengetahui serta mendeskripsikan Sistem Upaya Mengendalikan Agresivitas Massa Pada Polisi Daerah Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian Deskriptif kualitatif. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah Paradigma Fakta Sosial, yang memahami manusia sebagai orang yang aktif menciptakan kehidupan sosialnya sendiri. Penelitian kualitatif biasanya dikaitkan dengan sifatnya deskriptif analitis, komparatif, menitik beratkan pada makna, dan data yang diperoleh dapat melalui hasil pengamatan dan analisis dokumen. Dalam penelitian ini pengumpulan data dan analisa data berjalan secara simultan, dengan lebih mementingkan kedalaman isi ketimbang keluasan penelitian, dan peneliti sendiri sebagai informen kunci atau instrumen utama. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah: 1. Hasil temuan penelitian ini berfokus pada aspek efektifitas komunikasi personil polri dalam upaya mengedalikan agresivitas massa. Dimana hasil temuan lapangan pada tujuan pertama adalah efektiftas komunikasi akan berjalan baik jika dilakukan dengan cara dengan membangun komunikasi dua arah, dan juga Komunikasi kepentingan masing-masing serta Efektifitas komunikasi dengan bahasa yang Sederhana. 2. Hasil temuannya berhasil di identifikasi adalah tindakan anarkhisme, aksi damai, tidak terprovokasi dan melindungi dan mengamankan team negosiator. Jika dihunungkan dengan teori AGIL maka akan terlihat bahwa asumsi dasar yang dibangun. Temuan ini sangat erat hubungannya dengan asumsi yang dibangun peneliti bahwa Upaya Mengendalikan Agresivitas Massa Polisi Daerah Nusa Tenggara Timur dimana mereka mampu mengidentifikasi kelompok atau elemen yang terlibat dalam aksi massa, karena dalam aksi tersebut ternyata ada pembagian dari fungsi yang berlandaskan pada consensus akan nilai-nilai di antara para anggota aksinya