Helmi Geisfarad
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Esa Unggul

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Representasi Emosional terhadap Keterlibatan Penonton dan Kepuasan Menonton dalam Drama Korea The Frog Episode 3 di Netflix Dhesvia Sagita Permadi; Euis Nurul Bahriyah; Amar Nugraha; Helmi Geisfarad
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v7i4.1196

Abstract

Pertumbuhan pesat platform Over-the-Top (OTT) telah mengubah pola konsumsi konten audiovisual di Indonesia, terutama melalui popularitas drama Korea di Netflix. Episode 3 dari serial The Frog dipilih karena menandai titik balik dalam alur cerita serta menyajikan representasi emosional melalui rasa takut, ketegangan, empati emosional, dan dilema moral. Penelitian ini mengkaji pengaruh representasi emosional terhadap keterlibatan penonton dan kepuasan menonton, serta pengaruh keterlibatan penonton terhadap kepuasan menonton, dengan menggunakan teori Stimulus-Organism-Response (S-O-R). Paradigma positivistik dengan pendekatan kuantitatif eksplanatori dan metode survei diterapkan terhadap 100 penonton Netflix di Indonesia yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan rumus Slovin. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert lima poin yang telah lolos uji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana pada perangkat lunak SPSS setelah memenuhi asumsi normalitas, linearitas, dan heteroskedastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan penonton (R=0,863; R²=0,746; p=0,000) dan kepuasan menonton (R=0,790; R²=0,624; p=0,000), sementara keterlibatan penonton juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan menonton (R=0,840; R²=0,705; p=0,000). Seluruh hipotesis diterima. Temuan ini mendukung kerangka kerja S-O-R, yang menunjukkan bahwa representasi emosional berfungsi sebagai stimulus yang diproses melalui keterlibatan penonton sebelum menghasilkan kepuasan menonton. Penelitian ini merekomendasikan penguatan elemen emosional dalam konten streaming serta perluasan penelitian di masa mendatang yang mencakup berbagai variabel, genre, dan platform.
Konstruksi Karakter People Pleaser Tokoh Tari dalam Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis: Analisis Naratif Tzvetan Todorov Naura Putri Salsabila; Helmi Geisfarad
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v7i4.1201

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi karakter people pleaser atau Sindrom “Yes Man” pada tokoh Tari dalam film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis melalui struktur naratif. Fokus penelitian diarahkan pada cara trauma keluarga disfungsional dan tekanan di lingkungan profesional dimaknai melalui perkembangan alur tokoh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, paradigma konstruktivisme, dan analisis naratif Tzvetan Todorov yang diperluas menjadi lima tahap: equilibrium, disruption, recognition, attempt to repair, dan new equilibrium. Data primer berupa adegan, dialog, ekspresi, gestur, serta penanda waktu film yang dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada equilibrium, Tari hidup dalam keseimbangan semu yang ditandai penekanan emosi dan penghindaran konflik. Tahap disruption memperlihatkan eskalasi kekerasan domestik yang berkelindan dengan kepatuhan pasif di ruang kerja. Pada recognition, Tari mulai melepaskan emosi, memprotes kontrol, dan membangun batasan diri. Tahap attempt to repair ditandai keputusan keluar dari rumah dengan dukungan jaringan sosial. Pada new equilibrium, Tari mampu menolak beban kerja yang bukan tanggung jawabnya, menetapkan batasan interpersonal, dan membangun kehidupan domestik yang lebih aman. Temuan menegaskan bahwa struktur lima tahap tersebut mampu memetakan transformasi people pleasing dari mekanisme bertahan hidup menuju pemulihan dan kemandirian emosional.