Bagas Godang, yang secara harfiah berarti "Rumah Besar", merupakan bangunan adat tradisional suku Angkola di Sumatera Utara yang berfungsi sebagai tempat tinggal raja (pemimpin adat/raja pamsuk) dan pusat pemerintahan adat. Secara arsitektural, Bagas Godang dicirikan dengan konstruksi kayu berbentuk panggung, atap berbentuk tarup silengkung dolok (menyerupai atap pedati atau rumah gadang namun khas Angkola), serta tiang-tiang ganjil yang kokoh. Bagas Godang biasanya terletak bersebelahan dengan Sopo Godang (balai sidang adat) dan masjid, membentuk pusat komunitas adat yang disebut Bona Bulu. Bangunan ini tidak hanya menonjolkan nilai estetika, tetapi juga memuat manifestasi nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal seperti Dalihan Na Tolu, gotong royong, dan musyawarah dalam kepemimpinan. Secara keseluruhan, arsitektur Bagas Godang adalah manifestasi fisik dari identitas budaya dan pandangan hidup masyarakat Tapanuli Selatan yang menghargai keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai-nilai adat. Bagas Godang khususnya Tapanuli Selatan menggunakan bahan bangunan kayu dan jenis kayu yang digunakan di Bagas Godang masih menggunakan kayu Ingul dan kayu Kapur dengan menggunakan sambungan bibir miring, sambungan baut dan juga sambungan paku. Pondasi Bagas Godang berupa rumah panggung menggunakan jenis pondasi Umpak dan batukali. Dan jenis jendela model jalusi, dan dimensi kolomnya sebesar 15 x 15 cm.