Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan budaya pembiasaan religius dalam pembentukan karakter anak serta menjelaskan alasan efektivitasnya di TPQ Asrama Darul Hikmah Karanganyar Paiton Probolinggo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksplanatori. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan kepala TPQ, ustadz/ustadzah, dan wali murid, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius anak berlangsung secara sistematis melalui lima elemen utama yang saling bersinergi: (1) sistem rutinitas harian yang konsisten yang menggeser kepatuhan eksternal menjadi kesadaran internal; (2) keteladanan pendidik sebagai model perilaku moral (social learning); (3) penerapan metode Tartila yang secara implisit melatih kedisiplinan dan kesabaran; (4) praktik salat Ashar berjamaah sebagai media pembiasaan ibadah dan tanggung jawab kolektif; serta (5) sinergi berkelanjutan antara TPQ dan lingkungan keluarga. Kesimpulannya, efektivitas pembentukan karakter religius di TPQ Asrama Darul Hikmah tidak bergantung pada metode tunggal, melainkan pada integrasi antara konsistensi rutinitas, keteladanan moral, metodologi pembelajaran yang sistematis, dan penguatan dari lingkungan keluarga. Kebaruan penelitian, terletak pada penggambaran secara kontekstual mengenai bagaimana budaya pembiasaan religius di lingkungan TPQ yang terintegrasi dengan kehidupan asrama berperan dalam membentuk karakter anak, sehingga memperlihatkan hubungan antara praktik kegamaan rutin dan pembentukan karakter dalam konteks pendidikan nonformal berbasis pesantren/asrama.