Isna Qadrijati
Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN MASA KERJA DENGAN DERAJAT GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA INDUSTRI MANUFAKTUR Rizqy Kartika Sari; Isna Qadrijati; Tyas Lilia Wardani; Jihan Faradisha; Reni Wijayanti; Afrian Eskartya Harjono; Ayu Prima Kartika; Ratna Fajariani
Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Lentera 'Aisyiyah
Publisher : BPPM Politeknik 'Aisyiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58170/jkla.v9i1.318

Abstract

Industri pembuatan pakaian memiliki potensi pajanan debu dan serat kain yang dapat menimbulkan gangguan pernapasan pada pekerja. Karakteristik individu dan pekerjaan, seperti jenis kelamin dan masa kerja, diduga berkaitan dengan derajat sesak yang dialami pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan jenis kelamin dan masa kerja dengan derajat sesak pada pekerja industri pembuatan pakaian. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian sebanyak 50 pekerja, dengan 39 pekerja dipilih sebagai sampel menggunakan purposive sampling. Data jenis kelamin dan masa kerja diperoleh melalui kuesioner, sedangkan derajat sesak dinilai berdasarkan pemeriksaan fungsi paru menggunakan spirometer. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan derajat sesak (p<0,001), serta antara masa kerja dengan derajat sesak (p=0,040). Pekerja perempuan lebih banyak mengalami sesak derajat sedang hingga sangat berat, sedangkan pekerja dengan masa kerja ≥5 tahun menunjukkan proporsi sesak sangat berat lebih tinggi. Pengendalian paparan debu dan serat kain, penggunaan alat pelindung pernapasan, perbaikan ventilasi, dan pemeriksaan kesehatan pernapasan secara berkala diperlukan sebagai upaya pencegahan gangguan pernapasan pekerja.