Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan DTA Al-Amin terhadap sarana belajar yang lebih nyaman dalam kegiatan pembelajaran. Kondisi awal mitra menunjukkan bahwa sebagian siswa masih menggunakan meja lesehan tanpa kursi sehingga posisi belajar kurang mendukung kenyamanan. Program difokuskan pada identifikasi kebutuhan mitra, penyediaan meja dan kursi belajar, penataan ruang, dokumentasi kondisi sebelum dan sesudah, serta evaluasi manfaat pada 40 siswa. Evaluasi dilakukan melalui kuesioner skala Likert 1–5 sebelum dan sesudah penggunaan furnitur. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan skor kenyamanan dari 2,35 menjadi 4,12, konsentrasi dari 2,58 menjadi 4,05, motivasi dari 2,71 menjadi 4,18, dan interaksi dari 2,64 menjadi 3,98. Keluhan fisik pada skala asli menurun dari 3,10 menjadi 1,90 atau sebesar 38,7%. Dokumentasi visual juga memperlihatkan perubahan sarana belajar dari meja lesehan menjadi meja dan kursi belajar. Temuan ini menunjukkan bahwa penyediaan furnitur baru memberi manfaat langsung bagi mitra dan mendukung terciptanya suasana belajar yang lebih nyaman. Secara praktis, kegiatan ini membantu pengelola menyediakan fasilitas yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Namun, hasil evaluasi masih terbatas pada satu lokasi dan satu kelompok peserta, sehingga pengembangan selanjutnya perlu melibatkan sekolah lain, dokumentasi teknis yang lebih lengkap, serta evaluasi jangka panjang untuk menilai keberlanjutan manfaat terhadap kenyamanan dan aktivitas pembelajaran siswa. This community service program was conducted to address DTA Al-Amin’s need for more comfortable learning facilities. The initial condition showed that some students still used low floor desks without chairs, resulting in a learning posture that did not adequately support comfort. The program focused on identifying partner needs, providing desks and chairs, arranging the classroom, documenting conditions before and after implementation, and evaluating benefits among 40 students. Evaluation was carried out using a 1–5 Likert scale questionnaire administered before and after the furniture was used. The results showed that the comfort score increased from 2.35 to 4.12, concentration from 2.58 to 4.05, motivation from 2.71 to 4.18, and interaction from 2.64 to 3.98. Physical complaints on the original scale decreased from 3.10 to 1.90, representing a reduction of 38.7%. Visual documentation also demonstrated a change from low floor desks to new desks and chairs. These findings indicate that the provision of new furniture delivered direct benefits to the partner and supported a more comfortable learning environment. Practically, the program helped the institution provide sustainable facilities. However, future programs should involve other schools, complete technical documentation, and long-term evaluation to assess benefit sustainability for students’ comfort and learning activities more broadly.