Perusahaan konstruksi merupakan salah satu bidang yang dinamis jika dibandingkan dengan perusahaan lain, perusahaan konstruksi merupakan salah satu bidang usaha yang memiliki resiko tinggi. Manajemen risiko dalam mengelola perusahaan jasa konstruksi merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam langkah perusahaan untuk terus mengembangkan perusahaannya. Australian / New Zealand Risk Management Standard (AS/NZS 4360) adalah metode yang dipilih untuk mengidentifikasi risiko pada proyek pembangunan Gedung Rawat Inap Termasuk Isolasi RSUD Sultan Iskandar Muda Kabupaten Nagan Raya Propinsi Aceh, melakukan penilaian dan merekomendasikan upaya pengendalian risiko. Jumlah korban kecelakaan fatal terbesar disebabkan oleh kelalaian pekerja dalam mengaplikasikan Alat Pelindung Diri (APD) terjadi pada kegiatan pemasangan mall ringbalk lantai II. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis manajemen risiko pada proyek pembangunan Gedung Rawat Inap Termasuk Isolasi RSUD Sultan Iskandar Muda Kabupaten Nagan Raya Propinsi Aceh di CV. Agung Mulya Pratama selaku penyedia jasa konstruksi. Jenis penelitian kualitatif analitik dengan instrumen wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Analisis data menggunakan triangulasi sumber, data, dan metode. Penelitian dilakukan di CV. Agung Mulya Pratama pada bulan Juli sampai dengan Desember 2021. Terdapat 8 responden dari owner dan penyedia jasa yang menangani langsung proyek pembangunan Gedung Rawat Inap Termasuk Isolasi RSUD Sultan Iskandar Muda Kabupaten Nagan Raya. Penilaian tingkat kemungkinan dan konsekuensi. faktor-faktor yang teridentifikasi sebagai bagian dari sumber risiko dianalisis menggunakan standar pengukuran AS/NZS 4360, dalam hal memperoleh aspek-aspek risiko utama dengan menggunakan metode analisis faktor dan analisis komponen utama dari data hasil kuesioner. Dalam pengelompokan extreme risk terdapat 4 indikator risiko yaitu indikator risiko kondisi lokasi yang sulit dijangkau, desain yang salah atau tidak lengkap, kesulitan penerapan teknologi baru/khusus, dan keterlambatan pengiriman material, minimnya kesadaran pekerja dalam hal memakai APD, sehingga ada yang terjatuh, terjepit, dan terpijak paku.