This study investigates traditional measurement systems employed by rice farmers in Tanjung Saleh, namely depak, jengkal (handspan), and lunar-cycle-based calculations, as tangible representations of ethnomathematical concepts in agricultural practice. The research is grounded in the argument that mathematics does not solely emerge from formal classrooms and symbolic abstractions but is also deeply rooted in everyday practices embedded within local cultures. Adopting a qualitative methodology with an ethnographic approach, this study explores how individuals lacking formal education nonetheless apply mathematical reasoning in farming activities, such as determining planting seasons, measuring land area, and organizing planting patterns. Through field documentation and interviews with three key informants, it was discovered that agricultural decision-making relies on calculations that integrate natural knowledge, empirical experience, and habitual practices. These practices reflect an implicit mastery of geometric concepts, numerical patterns, statistics, and even basic trigonometry. The study also incorporates insights from Atomic Habits to illustrate how small, repeated behaviors in daily life contribute significantly to the development of mathematical thinking. The significance of this study lies in its proposition to broaden the horizon of mathematics education through the integration of ethnomathematical knowledge into the curriculum. By bringing traditional measurement systems into the classroom, mathematics instruction becomes not only more contextual and inclusive but also plays a vital role in preserving indigenous knowledge that has long remained embedded in cultural practice. Penelitian ini berfokus pada sistem ukur tradisional yang digunakan masyarakat petani di Tanjung Saleh—yakni depak, jengkal, dan perhitungan berdasarkan siklus bulan—sebagai representasi nyata dari konsep etnomatematika dalam praktik pertanian. Kajian ini dilandasi oleh argumentasi bahwa matematika tidak hanya lahir dari ruang kelas dan rumus-rumus formal, tetapi juga tumbuh dari praktik sehari-hari yang berakar pada budaya lokal. Dengan pendekatan kualitatif dan metode etnografi, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana masyarakat tanpa pendidikan formal tetap menerapkan konsep-konsep matematis dalam aktivitas bertani, seperti penentuan waktu tanam, pengukuran lahan, dan pengaturan pola tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani Tanjung Saleh memiliki pola berpikir matematis yang terstruktur dan konsisten, meskipun tidak terungkap dalam bahasa formal. Melalui dokumentasi lapangan dan wawancara dengan tiga informan utama, ditemukan bahwa keputusan pertanian didasarkan pada kalkulasi yang memadukan pengetahuan alam, pengalaman, dan kebiasaan yang berulang. Praktik-praktik tersebut mencerminkan penguasaan atas konsep geometri, pola bilangan, statistika, hingga trigonometri dasar. Pendekatan Atomic Habits turut memperkuat analisis bahwa kebiasaan kecil yang terinternalisasi dalam keseharian petani berkontribusi pada terbentuknya kebiasaan berpikir matematis. Signifikansi kajian ini terletak pada tawarannya untuk memperluas cakrawala pendidikan matematika melalui integrasi etnomatematika ke dalam kurikulum. Dengan mengangkat sistem ukur tradisional ke dalam ruang belajar, pendidikan matematika tidak hanya menjadi lebih kontekstual dan inklusif, tetapi juga turut melestarikan pengetahuan lokal yang selama ini tersembunyi dalam praktik budaya.