ABSTRACT Loss to Follow Up (LTFU) of antiretroviral (ARV) therapy among people living with HIV (PLHIV) remains a major challenge because it can lead to treatment failure, increased viral load, drug resistance, and a higher risk of HIV transmission. South Central Timor Regency is one of the regions experiencing an increasing number of HIV cases accompanied by a high rate of LTFU. To analyze the risk factors associated with Loss to Follow Up (LTFU) of antiretroviral therapy among people living with HIV in South Central Timor Regency. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 83 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through interviews using structured questionnaires and analyzed using Chi-square tests and multiple logistic regression. The results showed that 63.9% of respondents experienced LTFU of ARV therapy. Bivariate analysis revealed significant associations between knowledge (p=0.000), drug side effects (p=0.037), socio-cultural factors/naketi (p=0.024), access to health services (p=0.000), family income (p=0.000), and family support (p=0.000) with LTFU. Multivariate analysis showed that socio-cultural factors/naketi (p=0.021; OR=3.727) and access to health services (p=0.000; OR=10.423) significantly influenced LTFU. Access to health services was identified as the most dominant factor. Difficult access to health services and socio-cultural influences increase the risk of LTFU among PLHIV. Improving health service accessibility, strengthening health education, and integrating local cultural approaches into HIV/AIDS programs are necessary to reduce the incidence of LTFU. Keywords: HIV/AIDS, Antiretroviral, Loss To Follow Up, PLHIV, Access To Health Services. ABSTRAK Loss to Follow Up (LTFU) terapi antiretroviral (ARV) pada Orang dengan HIV (ODHIV) masih menjadi masalah serius karena dapat menyebabkan kegagalan terapi, peningkatan viral load, resistensi obat, serta meningkatkan risiko penularan HIV. Kabupaten Timor Tengah Selatan merupakan salah satu wilayah dengan peningkatan kasus HIV dan tingginya angka LTFU terapi ARV. Menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Loss to Follow Up (LTFU) terapi antiretroviral pada Orang dengan HIV di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 83 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-square serta regresi logistik berganda. Sebanyak 63,9% responden mengalami LTFU terapi ARV. Analisis bivariat menunjukkan bahwa pengetahuan (p=0,000), efek samping obat (p=0,037), sosial budaya/naketi (p=0,024), akses layanan kesehatan (p=0,000), pendapatan keluarga (p=0,000), dan dukungan keluarga (p=0,000) berhubungan dengan kejadian LTFU. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa sosial budaya/naketi (p=0,021; OR=3,727) dan akses layanan kesehatan (p=0,000; OR=10,423) berpengaruh signifikan terhadap kejadian LTFU, dengan akses layanan kesehatan sebagai faktor yang paling dominan. Akses layanan kesehatan yang sulit dan pengaruh sosial budaya/naketi meningkatkan risiko terjadinya LTFU terapi ARV pada ODHIV di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Peningkatan keterjangkauan layanan kesehatan, penguatan edukasi, dan pendekatan budaya lokal dalam pelayanan HIV/AIDS diperlukan untuk menurunkan angka LTFU terapi ARV. Kata Kunci: HIV/AIDS, Antiretroviral, Loss To Follow Up, ODHIV, Akses Layanan Kesehatan.