Aldina Eka Andirani
Universitas Negeri Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH MODEL PROBLEM-BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK Eva Nur Hidayah; Aldina Eka Andirani
Joyful Learning Journal Vol. 14 No. 2 (2025): Joyful Learning Journal: Juni 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jlj.v14i2.64451

Abstract

Problem-Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik dan menekankan pada pemecahan masalah kontekstual untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan mensintesis temuan-temuan penelitian terkait efektivitas model PBL dalam meningkatkan kemmapuan berpikir kritis peserta didik pada berbagai jenjang Pendidikan. Metode yang digunakan adalah studi literatyr dengan menganalisis delapan jurnal nasional terbitan tahun 2024-2025 yang relevan dengan topik penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan PBL secara konsisten memberikan pengaruh positif dan signiffikan terhadao peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik, baik pada jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas dan sederajatnya. PBL terbukti mampu meningkatkan kemampuan analisis, evaluasi, sintesis, dan pemecahan masalah mealui pembelajaran yang menuntut keaktifan, kolaborasi, serta keterlibatan peserta didik secara langsung. Meskipun demikian, implementasi PBL juga menghadapi beberapa tantangan. Seperti kebutuhan waktu pembelajaran yang lebih Panjang dan tuntutan kompetensi guru yang memdai. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa PBL merupakan model pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik apabila didukung oleh perencanaan dan pelaksanaan yang optimal.  
EFEKTIVITAS PROGRAM LITERASI TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR Sri Sulistyorini; Hanifa Mutia Mastuti; Aldina Eka Andirani
Joyful Learning Journal Vol. 14 No. 1 (2025): Joyful Learning Journal: Maret 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jlj.v14i1.64459

Abstract

Rendahnya indeks minat baca di Indonesia yang hanya menyentuh angka 0,001 menurut data UNESCO menjadi tantangan krusial bagi dunia pendidikan dasar karena berkolerasi langsung dengan penurunan motivasi serta hasil belajar kognitif siswa. Masalah sistematis ini sering kali dipicu oleh faktor latar belakang keluarga, seperti kondisi broken home, yang berdampak signifikan pada rendahnya kemampuan literasi baca-tulis dan semangat belajar anak di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai implementasi program literasi dalam meningkatkan motivasi dan capaian akademik siswa di jenjang Sekolah Dasar. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi pustaka (literature review) terhadap sepuluh artikel ilmiah relevan pada periode 2021-2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa berbagai program intervensi seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS), pembiasaan membaca harian selama 15 menit, hingga penggunaan media inovatif seperti board game, memberikan dampak positif yang nyata. Sebagai gambaran kuantitatif, program literasi harian mampu meningkatkan rata-rata nilai Bahasa Indonesia dari skor 55 menjadi 82,6 serta meningkatkan jumlah siswa yang mencapai KKM dari angka 18% hingga mencapai 90,6%. Selain itu, aktivitas interaktif seperti kuis merdeka dan kelas literasi terbukti efektif membangkitkan keterlibatan kognitif siswa secara mendalam. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan literasi sangat bergantung pada komitmen sekolah sebagai desainer pembelajaran, ketersediaan fasilitas perpustakaan yang memadai, serta dukungan penuh orang tua sebagai motivator di rumah. Sinergi antara komponen-komponen tersebut menjadi fondasi utama dalam memastikan pembelajaran yang adil, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan individual siswa guna menciptakan budaya literasi berkelanjutan secara menyeluruh bagi generasi mendatang.