Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Self-Efficacy dengan Kepatuhan Diet Purin pada Lansia Penderita Asam Urat Meilinda Madika Putri; Muhammad Ra'uf; Hiryadi; Diah Retno Wulan
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i2.9258

Abstract

Asam urat pada lansia memerlukan pengelolaan jangka panjang melalui diet rendah purin, tetapi kepatuhan diet masih menjadi tantangan. Di wilayah Puskesmas Pekauman Banjarmasin, jumlah lansia dengan asam urat yang berobat meningkat dari 210 orang pada 2024 menjadi 276 orang pada 2025, sehingga diperlukan kajian terhadap faktor psikologis yang dapat mendukung pengelolaan diet. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan self-efficacy dengan kepatuhan diet purin pada lansia penderita asam urat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif observasional analitik dengan desain cross-sectional karena kedua variabel dapat diukur pada waktu yang sama secara efisien. Populasi penelitian berjumlah 201 lansia dan sampel sebanyak 67 responden dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan General Self-Efficacy Scale (GSES) dan kuesioner frekuensi konsumsi makanan untuk diet purin, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan self-efficacy responden paling banyak berada pada kategori sedang sebanyak 26 orang (38,8%), sedangkan kepatuhan diet purin paling banyak berada pada kategori sedang sebanyak 32 orang (47,8%). Uji Chi-Square memperoleh p = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara self-efficacy dan kepatuhan diet purin. Lansia dengan self-efficacy lebih tinggi cenderung memiliki kepatuhan diet yang lebih baik. Tenaga kesehatan perlu mengintegrasikan penguatan self-efficacy dalam edukasi diet purin, sedangkan penelitian lanjutan disarankan menggunakan desain longitudinal atau eksperimental dan memasukkan faktor dukungan keluarga, pengetahuan, serta kondisi sosial ekonomi.