Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Perbandingan Penggunaan Bioenzim Dan Abu KayuSebagai Bahan Stabilisasi Tanah Lempung Bagus Maisur Alwi Alwi; Wiji Lestarini; Ahmad Alfin
Pasak: Jurnal Teknik Sipil dan Bangunan Vol. 4 No. 1 (2026): September
Publisher : Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Sains Al-Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/pasak.v4i1.10891

Abstract

Tanah lempung merupakan jenis tanah yang sering menimbulkan masalah pada konstruksi jalan karena karakteristiknya yang memiliki daya dukung rendah, plastisitas tinggi, serta sifat kembang-susut yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan efektivitas penggunaan Bioenzim Organik dan Abu Kayu sebagai bahan stabilisasi tanah lempung yang diambil dari Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Lokasi tersebut dipilih karena kondisi jalannya yang mengalami kerusakan serius berupa retakan hingga amblas. Metode penelitian dilakukan melalui pengujian laboratorium dengan variasi penambahan campuran Bioenzim Organik sebesar 0,03%, 0,04%, dan 0,05%, serta variasi Abu Kayu sebesar 12,5%, 15%, dan 17,5%. Pengujian yang dilakukan meliputi uji sifat fisik (analisa butiran dan batas-batas Atterberg) serta uji sifat mekanik melalui pemadatan (Standard Proctor) dan California Bearing Ratio (CBR). Hasil pengujian menunjukkan bahwa kedua bahan tersebut efektif dalam memperbaiki karakteristik tanah lempung. Penggunaan Bioenzim Organik mampu menurunkan nilai indeks plastisitas tanah dan meningkatkan nilai CBR, Nilai CBR tertinggi untuk stabilisasi bioenzim ditemukan pada variasi dosis 0,05% (CBR 3.c) dengan nilai 10,59% mengalami peningkatan sebesar 126% sebesar 4,68%.  Sementara itu, penambahan Abu Kayu mampu meningkatkan nilai CBR tertinggi variasi dosis 17,5% (CBR 7.c) dengan nilai mencapai 11,82% mengalami peningkatan sebesar 153% dari nilai CBR tanah asli. Terjadi peningkatan  signifikan setelah distabilisasi dengan kombinasi gabungan bioenzim dan abu kayu, dengan hasil kisaran 10,03%–17,02%. Nilai tertinggi mencapai 17,02% pada capuran Bioenzim 0,1% dan Abu kayu 17,5% (CBR 16.c), menunjukkan peningkatan daya dukung yang sangat signifikan dibandingkan tanah asli. Secara keseluruhan, abu kayu memberikan nilai peningkatan daya dukung (CBR) yang lebih tinggi dibandingkan bioenzim organik untuk sampel tanah Desa Jono. Namun, bioenzim tetap menjadi alternatif yang sangat potensial karena efektif dalam dosis yang sangat kecil (0,06% - 0,1%) dan lebih ramah lingkungan, dan untuk memaksimalkan penggunaan dianjurkan menggabungkan kedua bahan agar mendapatkan hasil yang lebih optimal.
MDP 2024 RIGID PAVEMENT THICKNESS DESIGN FOR THE KESENENG -CANDIYASAN ROAD SECTION BASED ON MANUAL PERKERASAN JALAN 2024 : PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN KAKU RUAS JALAN KESENENG CANDIYASAN BERDASARKAN MANUAL PERKERASAN JALAN 2024 Ahmad Alfin; Joko Adi Wicaksono; Iqbal; Asrul Saputra
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 12 No. 02 (2026): Oktoer 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan keseneng candiyasan merupakan jalan altenatif yang mengurai kemacetan jalan di sekitar pasar kertek (jalur tengkorak) yang rawan kecelakaan. Panjang ruas jalan keseneng candiyasan 9,5 km dengan lebar jalan 6 m, dengan tipe perkerasan kaku sepanjang 4 km dalam kondisi baik, perkerasan lentur 1,5 km kondisi baik dan 4 km jalan dalam kondisi rusak sedang sampai berat. Metodologi perencanaan dimulai dari studi literasi, pengambilan data primer (LHR dan geometrik), data sekunder (CBR dan status jalan) kemudian analisa data berdasarkan MDP 2024. Dalam perencanaan perkerasan kaku ruas jalan keseneng candiyasan didapat data CBR desain jalan sebesar 2,26 dengan nilai keseragamnnya 43,12%, sedangkan data LHR 2764 kendaraan/hari dan data LHRN sebesar 117 kendaraan/hari. Beban muatan sumbu tunggal (MST) maksimal 8 ton, dengan menggunakan beton kuat lentur minimum 3,8 Mpa dengan tebal 200 mm dan beton kurus dengan mutu 8-10 Mpa dengan tebal 100 mm, tebal lapis pondasi agregat sebesar 250 mm. Untuk pembesiannya jarak sambungan melintang 4,0 m, batang pengikat menggunakan baja mutu BjTS 30 dengan diameter 16 mm panjang 700 mm dan besi ruji dengan diameter 25 mm dengan panjang 300 mm. Biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 28.814.831.000,00.