Kawasan Bandung Utara menghadapi tantangan berupa degradasi lingkungan, pengelolaan limbah peternakan yang belum optimal, dan rendahnya nilai tambah hasil pertanian yang berdampak pada keberlanjutan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. Menanggapi kondisi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga AFT Husein Sastranegara mengembangkan Program Inovasi Sosial Nyaah ka Parahyangan sebagai bagian dari implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang mengintegrasikan konservasi keanekaragaman hayati, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi program serta mengidentifikasi bentuk inovasi sosial yang dihasilkan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi program terletak pada integrasi pengelolaan lingkungan, penguatan ekonomi lokal, dan kolaborasi multipihak dalam satu sistem pemberdayaan yang saling mendukung. Implementasi program mendorong perbaikan kualitas lingkungan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penguatan kelembagaan lokal, sehingga menunjukkan bahwa pendekatan inovasi sosial dapat menjadi strategi CSR yang adaptif dan berkelanjutan di kawasan hulu. The North Bandung area plays a vital role in maintaining ecological balance as a water catchment for the Greater Bandung region. However, environmental degradation, inadequate livestock waste management, and the low added value of agricultural products continue to threaten both ecosystem sustainability and local livelihoods. In response to these challenges, AFT Husein Sastranegara initiated the Nyaah ka Parahyangan Social Innovation Program as part of its Corporate Social Responsibility (CSR) commitment. The program integrates biodiversity conservation, circular economy practices, and community empowerment into a single development approach. This study aims to examine the implementation of the program and identify the social innovation generated through its activities. A qualitative case study was conducted in Suntenjaya Village, Lembang District, West Bandung Regency. Data were collected through field observations, in-depth interviews, document analysis, and literature review. The findings indicate that the program's innovation lies in its ability to integrate environmental conservation, local economic development, and multi-stakeholder collaboration within a community-based empowerment system. The program has contributed to improving environmental quality, strengthening local institutions, and enhancing community capacity, demonstrating that social innovation can serve as an adaptive and sustainable CSR strategy for upland areas.