Keberagaman budaya dan agama di Indonesia idealnya menjadi kekayaan yang dikenalkan sejak usia dini melalui pendidikan multikultural, namun keterbatasan media pembelajaran konkret kerap membuat pengenalan keberagaman berhenti pada penyampaian informasi tanpa pengalaman yang benar-benar menumbuhkan sikap toleransi anak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan multikultural berbasis literasi digital serta menganalisis kontribusinya terhadap tumbuhnya sikap toleransi anak usia dini terhadap keberagaman budaya dan agama. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus pada taman kanak-kanak multietnis dan multiagama, melibatkan kepala sekolah, guru kelompok B, dan anak didik sebagai partisipan, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, yang keabsahannya diuji melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital seperti video animasi dan simulasi virtual mengenai rumah ibadah dan tradisi budaya cukup efektif meningkatkan pengenalan anak terhadap keberagaman, namun sikap toleransi yang lebih dalam, seperti kesediaan bermain lintas latar belakang dan rasa ingin tahu positif terhadap tradisi lain, baru tumbuh optimal ketika pengenalan digital tersebut ditindaklanjuti dengan interaksi langsung dan pembiasaan sehari-hari di kelas. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa pemetaan mekanisme bertahap yang menghubungkan literasi digital, pengenalan keberagaman, dan tumbuhnya sikap toleransi anak usia dini, sekaligus menawarkan model penguatan yang memadukan media digital dengan interaksi sosial langsung sebagai strategi paling efektif dalam pendidikan multikultural PAUD.