I Gusti Ayu Amelia Purnama Sari
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dekonstruksi Bias Pribumi-Sentris: Studi Representasi Etnis Tionghoa Dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Kurikulum Merdeka: Deconstructing Indigenist Bias: A Study of the Representation of Ethnic Chinese in Indonesian History Textbooks under the Kurikulum Merdeka Maria Elaviana Arni; Ni Komang Sri Yoga Donia; Ni Putu Yuniarika Parwati; I Gusti Ayu Amelia Purnama Sari
Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2026): Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/nirwasita.v7i2.7147

Abstract

Artikel ini mengkaji secara kritis bagaimana etnis Tionghoa direpresentasikan dalam buku teks sejarah Indonesia yang dirancang dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis dan kerangka teori poskolonial, penelitian ini berusaha membongkar struktur narasi yang cenderung menempatkan komunitas Tionghoa di posisi marginal, sementara kelompok pribumi dijadikan subjek tunggal dari sejarah nasional. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa meskipun Kurikulum Merdeka mengusung semangat kebhinekaan dan inklusivitas, representasi etnis Tionghoa dalam materi ajar sejarah masih menyisakan ketimpangan yang signifikan: kontribusi mereka kerap direduksi menjadi narasi ekonomi semata, partisipasi mereka dalam perjuangan kemerdekaan nyaris tidak tampak, dan identitas mereka lebih sering dikonstruksi melalui lensa kecurigaan historis ketimbang pengakuan kewarganegaraan yang setara. Penelitian ini berpendapat bahwa bias pribumi-sentris bukan sekadar kelalaian editorial, melainkan cerminan dari ideologi kenegaraan yang belum sepenuhnya berdamai dengan pluralitas sejarahnya sendiri. Implikasi dari temuan ini mencakup perlunya reformasi konten buku teks yang lebih radikal, pelibatan komunitas Tionghoa dalam proses penyusunan kurikulum, serta pengadopsian paradigma sejarah multikultural yang melampaui batas-batas etnosentrisme. Artikel ini diharapkan berkontribusi pada perdebatan yang lebih luas tentang keadilan epistemik dalam pendidikan sejarah di Indonesia.
Tantangan Pembelajaran IPS dalam Menghadapi Disinformasi Visual di Era Deepfake: Challenges of Social Studies Education in Addressing Visual Disinformation in the Deepfake Era I Gusti Ayu Amelia Purnama Sari; Ni Komang Sri Yoga Donia Widiantari; Putu Esha Indhu Bhaskara
Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2026): Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/nirwasita.v7i2.7150

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Namun, kemajuan tersebut juga memunculkan tantangan baru berupa disinformasi visual melalui teknologi deepfake yang semakin sulit dikenali. Kondisi ini menjadi perhatian penting, terutama bagi siswa sebagai generasi yang sangat dekat dengan media digital dan rentan terhadap penyebaran informasi yang tidak akurat. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tantangan pembelajaran IPS dalam menghadapi disinformasi visual di era deepfake serta mengidentifikasi peran dan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk membantu siswa mengembangkan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur (literature review) melalui pengkajian berbagai jurnal ilmiah, artikel akademik, dan dokumen institusional yang relevan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa deepfake menjadi tantangan baru dalam dunia pendidikan karena dapat memengaruhi cara siswa memahami informasi, membentuk persepsi yang keliru, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis jika tidak disikapi secara tepat. Dalam konteks tersebut, pembelajaran IPS memiliki peran strategis dalam membantu siswa memahami fenomena sosial di era digital melalui pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, adaptif, dan berorientasi pada penguatan literasi digital.