Oktaviani Suriyanti
Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Demokrasi Terpimpin Ala Sukarno: Analisis Historis Dan Reformulasi Kegagalan Demokrasi Terpimpin Di Indonesia: Sukarno’s Guided Democracy: A Historical Analysis and Reformulation of the Failure of Guided Democracy in Indonesia Oktaviani Suriyanti; Dewa Made Alit; Ni Luh Putu Tejawati
Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2026): Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/nirwasita.v7i2.7198

Abstract

Keruntuhan demokrasi tidak selalu diawali oleh kudeta, revolusi, ataupun penghapusan institusi politik secara tiba-tiba. Dalam sejumlah pengalaman historis, proses tersebut justru berlangsung perlahan melalui pemusatan kekuasaan, pelemahan institusi pengawasan, meningkatnya polarisasi elite, serta semakin terbatasnya ruang partisipasi publik. Analisis dilakukan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, kemudian diperdalam melalui analisis kausal-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keruntuhan Demokrasi Terpimpin tidak cukup dijelaskan oleh personalisasi kekuasaan di bawah Presiden Soekarno. Proses tersebut terbentuk melalui keterkaitan lima mekanisme, yakni pembesaran kekuasaan eksekutif, erosi institusional, polarisasi elite, meluasnya peran politik militer, serta pengendalian media dan ruang publik. Dari pola tersebut, hubungan antara tiga mekanisme utama dominasi eksekutif, polarisasi elite, dan kelemahan institusional dirumuskan sebagai Triadic Breakdown Mechanism. Mekanisme ini menunjukkan adanya hubungan umpan balik: konsentrasi kekuasaan memperdalam polarisasi politik, polarisasi mengurangi kapasitas institusi dalam membatasi kekuasaan, dan pelemahan institusional pada gilirannya menyediakan ruang yang lebih luas bagi ekspansi eksekutif. Dengan demikian, Demokrasi Terpimpin dapat dipahami sebagai suatu trajektori kemunduran demokrasi yang secara bertahap berkembang menuju keruntuhan demokrasi. Perspektif ini sekaligus memperluas pembacaan historiografi politik Indonesia dengan menempatkan pengalaman Demokrasi Terpimpin dalam percakapan yang lebih luas mengenai otokratisasi dan erosi institusi demokratis.