Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Akreditasi Fasilitas Kesehatan dan Kepemimpinan Transformasional terhadap Mutu Pelayanan melalui Budaya Keselamatan Pasien Davin Takaryanto; Kosasih; Etty Sofia Mariati Asnar; Vip Paramarta; Farida Yuliaty
Indonesian Health Journal Vol. 5 No. 3 (2026): Indonesian Health Journal
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/ihj.v5i3.929

Abstract

Mutu pelayanan kesehatan merupakan luaran utama yang mencerminkan keberhasilan integrasi struktur dan proses organisasi, khususnya pada layanan kardiovaskular yang menuntut penanganan cepat dan aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh akreditasi fasilitas kesehatan dan kepemimpinan transformasional terhadap mutu pelayanan, baik secara langsung maupun melalui budaya keselamatan pasien sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang dan analisis Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Sampel ditetapkan melalui total sampling terhadap seluruh tenaga kesehatan Klinik Utama Jantung Hasna Medika Bandung (n=46). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert lima poin dan dianalisis dengan SmartPLS melalui evaluasi model pengukuran, model struktural, dan pengujian hipotesis dengan bootstrapping 5.000 subsampel. Hasil menunjukkan akreditasi fasilitas kesehatan (B=0,528; p<0,001) dan kepemimpinan transformasional (B=0,334; p=0,028) berpengaruh signifikan terhadap budaya keselamatan pasien. Budaya keselamatan pasien berpengaruh paling kuat terhadap mutu pelayanan (B=0,602; p<0,001). Akreditasi berpengaruh langsung terhadap mutu pelayanan (B=0,366; p<0,001) sekaligus tidak langsung melalui budaya keselamatan pasien (B=0,318; p=0,004), menunjukkan mediasi parsial. Sebaliknya, kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh langsung (B=0,007; p=0,941) tetapi berpengaruh tidak langsung secara signifikan (B=0,201; p=0,020), menunjukkan mediasi penuh. Budaya keselamatan pasien terbukti menjadi mekanisme sentral yang menghubungkan tata kelola mutu dan kepemimpinan dengan mutu pelayanan. Klinik disarankan memperkuat program budaya keselamatan pasien dan pengembangan kepemimpinan yang terinternalisasi hingga tingkat unit operasional.