I Wayan Putra Kesumantara Wiguna
Medical Student, Faculty of Medicine and Health Sciences, University of Mataram, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RENAL SAFETY AND KIDNEY FUNCTION CHANGES ASSOCIATED WITH SGLT2 INHIBITORS IN PATIENTS WITH HFpEF/HFmrEF AND CKD : A SYSTEMATIC REVIEW I Wayan Putra Kesumantara Wiguna; Pande Komang Inten Widya Iswari Oka; I Putu Reza Wedangga; Ni Made Shinta Putri Kesumantara
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.62909

Abstract

Heart failure with preserved or mildly reduced ejection fraction (HFpEF/HFmrEF) sering disertai chronic kidney disease (CKD), sehingga meningkatkan risiko gangguan kardiorenal. SGLT2 inhibitors terbukti memperbaiki luaran gagal jantung, tetapi penurunan awal estimated glomerular filtration rate (eGFR) dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan ginjal. Systematic review ini bertujuan mengevaluasi keamanan renal dan perubahan fungsi ginjal pada pasien dewasa dengan HFpEF/HFmrEF, terutama pada pasien dengan CKD. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Google Scholar, Wiley Online Library, ScienceDirect, dan Cochrane CENTRAL selama April-Juli 2026. Bukti utama berasal dari analisis renal EMPEROR-Preserved dan DELIVER. Hasil menunjukkan bahwa SGLT2 inhibitors dapat menyebabkan initial eGFR dip ringan setelah terapi dimulai, tetapi perubahan tersebut tidak menunjukkan pola kerusakan ginjal progresif. Pada EMPEROR-Preserved, perlambatan penurunan eGFR konsisten pada pasien dengan dan tanpa CKD, sedangkan hard kidney composite outcome tidak menunjukkan perbedaan bermakna berdasarkan definisi renal yang digunakan dalam trial. Pada DELIVER, dapagliflozin memperlambat penurunan eGFR jangka panjang meskipun composite kidney outcome tidak berbeda bermakna. Secara keseluruhan, SGLT2 inhibitors menunjukkan profil renal yang dapat diterima pada HFpEF/HFmrEF. Penurunan eGFR awal yang ringan tidak seharusnya menjadi alasan tunggal untuk menghentikan terapi, tetapi fungsi ginjal dan status volume tetap perlu dipantau secara klinis.
RECENT ADVANCES IN THE TREATMENT OF AGE-RELATED MACULAR DEGENERATION FROM ANTI-VEGF THERAPY TO COMPLEMENT INHIBITION Nazriel Ilham Adhyaksa; I Putu Reza Wedangga; I Wayan Putra Kesumantara Wiguna
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.63167

Abstract

Degenerasi makula terkait usia (age-related macular degeneration/AMD) merupakan salah satu penyebab utama kehilangan penglihatan sentral pada usia lanjut, terutama pada bentuk neovaskular (nAMD) dan atrofi geografis (GA). Perkembangan terapi AMD telah melampaui inhibisi vascular endothelial growth factor (VEGF) konvensional dengan hadirnya terapi berdurasi lebih panjang dan terapi yang dapat memperlambat progresi atrofi retina. Narrative review ini bertujuan meninjau perkembangan terbaru terapi AMD, meliputi terapi anti-VEGF, inhibisi komplemen, dan strategi terapi yang masih dalam tahap pengembangan. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed/MEDLINE dan Google Scholar, dengan publikasi tahun 2023–2026 sebagai sumber utama. Literatur dipilih berdasarkan relevansinya terhadap efektivitas, keamanan, interval pemberian, beban pengobatan, dan perkembangan terapi AMD. Pada nAMD, aflibercept 8 mg yang diberikan setiap 12 atau 16 minggu mampu mempertahankan ketajaman penglihatan yang sebanding dengan aflibercept 2 mg setiap 8 minggu. Faricimab juga memberikan hasil penglihatan yang sebanding dengan aflibercept, dengan sebagian pasien dapat menerima pengobatan setiap 12 atau 16 minggu. Pada GA, pegcetacoplan dan avacincaptad pegol dapat memperlambat pertumbuhan area atrofi, dengan efek pegcetacoplan tetap terlihat setelah 36 bulan pengobatan. Terapi gen seperti RGX-314 menunjukkan potensi menghasilkan efek anti-VEGF secara berkelanjutan pada penelitian fase awal. Perkembangan ini memperluas pilihan terapi AMD dan berpotensi mengurangi frekuensi pemberian obat serta memperlambat kerusakan retina, meskipun keamanan jangka panjang, durasi efek, manfaat fungsional, dan beban pengobatan masih perlu diperhatikan.