Nazriel Ilham Adhyaksa
Medical Student, Faculty of Medicine and Health Sciences, University of Mataram, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

CLINICAL EFFECTIVENESS AND MATERNAL–FETAL OUTCOMES OF SYSTEMIC CORTICOSTEROID THERAPY IN PREGNANCY-RELATED DERMATOSES : A SYSTEMATIC REVIEW Irenezka Maghfira Putri Dimulyo; Rafila Inatsania; Nazriel Ilham Adhyaksa; Yunita Hapsari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.61156

Abstract

Dermatosis terkait kehamilan merupakan kelompok kelainan kulit yang berkaitan dengan perubahan imunologis, hormonal, dan metabolik selama kehamilan. Kondisi ini dapat menyebabkan pruritus berat, lesi kulit inflamasi, serta memengaruhi kualitas hidup ibu hamil. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas klinis penggunaan kortikosteroid sistemik pada ibu hamil dengan dermatosis terkait kehamilan serta mengevaluasi luaran maternal dan neonatal yang berkaitan dengan terapi tersebut. Penelitian ini merupakan systematic review berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Artikel yang diikutsertakan merupakan penelitian asli full-text berbahasa Indonesia atau Inggris dalam 10 tahun terakhir yang membahas penggunaan kortikosteroid sistemik pada dermatosis terkait kehamilan. Sebanyak 10 studi, terdiri atas 9 case report dan 1 studi retrospektif, memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif. Dermatosis yang paling banyak dilaporkan adalah pemphigoid gestationis. Kortikosteroid yang paling sering digunakan adalah prednison, prednisolon, dan metilprednisolon. Terapi umumnya memberikan respons klinis yang baik berupa perbaikan lesi kulit, penurunan inflamasi, berkurangnya pruritus, dan remisi klinis. Luaran maternal dan neonatal sebagian besar baik, meskipun beberapa studi melaporkan preeklamsia, oligohidramnion, flare postpartum, persalinan prematur, intrauterine growth restriction, lesi kulit neonatal, dan stillbirth pada kasus berat. Kortikosteroid sistemik efektif untuk dermatosis terkait kehamilan dengan manifestasi sedang hingga berat, namun pemantauan maternal dan neonatal tetap diperlukan.
RECENT ADVANCES IN THE TREATMENT OF AGE-RELATED MACULAR DEGENERATION FROM ANTI-VEGF THERAPY TO COMPLEMENT INHIBITION Nazriel Ilham Adhyaksa; I Putu Reza Wedangga; I Wayan Putra Kesumantara Wiguna
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i3.63167

Abstract

Degenerasi makula terkait usia (age-related macular degeneration/AMD) merupakan salah satu penyebab utama kehilangan penglihatan sentral pada usia lanjut, terutama pada bentuk neovaskular (nAMD) dan atrofi geografis (GA). Perkembangan terapi AMD telah melampaui inhibisi vascular endothelial growth factor (VEGF) konvensional dengan hadirnya terapi berdurasi lebih panjang dan terapi yang dapat memperlambat progresi atrofi retina. Narrative review ini bertujuan meninjau perkembangan terbaru terapi AMD, meliputi terapi anti-VEGF, inhibisi komplemen, dan strategi terapi yang masih dalam tahap pengembangan. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed/MEDLINE dan Google Scholar, dengan publikasi tahun 2023–2026 sebagai sumber utama. Literatur dipilih berdasarkan relevansinya terhadap efektivitas, keamanan, interval pemberian, beban pengobatan, dan perkembangan terapi AMD. Pada nAMD, aflibercept 8 mg yang diberikan setiap 12 atau 16 minggu mampu mempertahankan ketajaman penglihatan yang sebanding dengan aflibercept 2 mg setiap 8 minggu. Faricimab juga memberikan hasil penglihatan yang sebanding dengan aflibercept, dengan sebagian pasien dapat menerima pengobatan setiap 12 atau 16 minggu. Pada GA, pegcetacoplan dan avacincaptad pegol dapat memperlambat pertumbuhan area atrofi, dengan efek pegcetacoplan tetap terlihat setelah 36 bulan pengobatan. Terapi gen seperti RGX-314 menunjukkan potensi menghasilkan efek anti-VEGF secara berkelanjutan pada penelitian fase awal. Perkembangan ini memperluas pilihan terapi AMD dan berpotensi mengurangi frekuensi pemberian obat serta memperlambat kerusakan retina, meskipun keamanan jangka panjang, durasi efek, manfaat fungsional, dan beban pengobatan masih perlu diperhatikan.