ng publik pariwisata identik dengan produksi citra, nilai, dan pengalaman yang dapat dipertukarkan secara ekonomi. Termasuk juga objek wisata di Indonesia yang populer dengan suhu dingin, yaitu Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi komodifikasi bahasa dalam lanskap linguistik Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan korpus awal 78 foto tanda publik dan komersial. Tanda dianalisis berdasarkan aktor pembuat tanda, jenis tanda, pilihan bahasa, fungsi informasional dan simbolik, serta derajat indikasi komodifikasi. Analisis menunjukkan bahwa 39 unit (53,4%) memiliki indikasi komodifikasi kuat hingga sangat kuat, 19 unit (26,0%) berkategori sedang, sedangkan tanda lain terutama menjalankan fungsi pelayanan, keselamatan, keagamaan, dan pengaturan ruang. Komodifikasi bahasa direpresentasikan melalui empat mekanisme utama: (1) penggunaan bahasa Inggris untuk mengindeks modernitas, profesionalitas, dan keterhubungan global; (2) hibridisasi bahasa lokal, nama tokoh, toponim, dan leksikon budaya dengan register wisata global untuk memasarkan autentisitas; (3) penggunaan nama “Dieng” sebagai penanda asal, mutu, dan jenama destinasi; serta (4) pengemasan bentang alam, cuaca, kuliner, mobilitas, dan aktivitas pertanian menjadi pengalaman wisata yang tersedia untuk pengunjung. Tanda bottom-up mendominasi praktik komodifikasi, sedangkan tanda top-down lebih konsisten menjalankan fungsi informasional. Temuan ini menegaskan bahwa komodifikasi tidak identik dengan setiap kemunculan bahasa asing, tetapi bergantung pada hubungan antara pilihan bahasa, desain representasi, aktor pembuat tanda, dan orientasi pasar.