Diskriminasi terhadap penyandang disabilitas netra tidak hanya membatasi partisipasi sosial, tetapi juga membentuk penilaian diri, reaksi emosional, dan pilihan perilaku. Penelitian ini bertujuan menguraikan pengalaman diskriminatif beserta dinamika psikologis yang menyertainya pada anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kota Kupang. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan terhadap empat partisipan berusia 20–37 tahun yang dipilih secara purposif. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan ditelaah menggunakan analisis tematik, disertai konfirmasi temuan kepada partisipan. Lima tema teridentifikasi, yakni perlakuan merendahkan dan hambatan akses, respons kognitif, gejolak emosional, perubahan keterlibatan sosial, serta sumber penguatan. Pengalaman mencakup ejekan, perlindungan berlebihan, pengucilan, kendala layanan, dan pelecehan seksual yang dilaporkan seorang partisipan. Keraguan terhadap kompetensi diri, kesedihan, kemarahan, dan kecemasan hadir bersamaan dengan kewaspadaan serta pembatasan interaksi. Namun, beberapa partisipan menafsirkan pengalaman tersebut sebagai pendorong untuk membangun kemandirian. Dukungan keluarga, solidaritas komunitas, dan spiritualitas membantu proses penyesuaian. Variasi pengalaman berkaitan dengan tahap kehidupan, gender, dan waktu terjadinya kehilangan penglihatan. Keterbatasan akses publik memperkuat kebutuhan perubahan kebijakan layanan. Temuan menegaskan perlunya layanan aksesibel, penghormatan terhadap otonomi, dan penguatan dukungan psikososial berbasis komunitas guna mengurangi tekanan serta membuka peluang partisipasi yang setara.