Sajida Putri
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLIGAMI DALAM AL-QUR’AN (STUDI PENDEKATAN TAFSIR MAQASIDI) Ismawati Ismawati; Moh Yusuf; Sajida Putri
At-Tibyan Vol 7 No 1 (2024): AT-TIBYAN: Journal of Qur'an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v7i1.182

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi dengan praktik poligami yang tidak sesuai dengan tuntunan syari’at dan ketentuan yang telah dijelaskan di dalam al- Qur’an.  salah satu fenomena yang terjadi dipelopori oleh Coach Hafidin selaku mentor poligami di Banten telah melakukan poligami tanpa izin istri praktik ini menyalahi tuntunan hukum negara. Hal ini merupakan kesalahan dalam menafsirkan ayat-ayat tentang poligami secara adil. Fenomena ini mendorong peneliti untuk menganalisa makna adil dalam praktik poligami di Indonesia.  Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library Research) yaitu teks ayat-ayat Al-Qur’an, buku, jurnal, artikel, dan literature lainnya. Jenis kualitatif dengan menggunakan pendekatan Tafsir Maqasidi. Tafsir Maqasidi ialah tafsir yang menjelaskan maksud-maksud dari ayat yang didefinisikan terlebih dahulu untuk mendapatkan makna yang seutuhnya. Penelitian ini menggunakan tehnik pengumpulan semua data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis isinya sesuai dengan topik utama penelitian. Hasil penelitian ini melihat dari sudut pandang Al-Qur’an terhadap ayat-ayat poligami yang bukan hanya boleh dilakukan akan tetapi dilihat dari segi adil dalam melakukan poligami. Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an terhadap konteks poligami Peneliti mendapati dua ayat yang membahas tentang keadilan dalam berpoligami yaitu: pertama QS. An-Nisa ayat 3 ini membahas tentang adil dalam segi materi dan kedua QS. An-Nisa ayat 129 ini membahas tentang adil dalam segi immaterial.
PENAFSIRAN KATA HIJAB  (TABIR) PADA QS. AL-AHZAB  AYAT 53 PERSPEKTIF MA’NA CUM  MAGHZA DAN SIGNIFIKASINYA TERHADAP FENOMENA IKHTILATH Anggun Septiani; Sajida Putri
At-Tibyan Vol 7 No 2 (2024): AT-TIBYAN: Journal of Qur'an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/ney9z068

Abstract

Fenomena ikhtilath saat ini cukup marak terjadi, sebab tidak adanya batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama Islam melalui Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat gabaran ikhtilath  di Indonesia, kemudian melihat ragam penafsiran Qs. Al-Ahzab  ayat 53 yang berhubungan dengan larangan bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, serta untuk melihat signifikasi Qs. Al-Ahzab  ayat 53 terhadap tindakan ikhtilath  dengan pendekatan ma’na cum maghza. Penelitian ini berjeniskan kepustakaan dengan metode kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari pendekatan ma’na cum maghza yaitu dengan cara analisis linguistik, intratekstualitas, analisis histori baik makro maupun mikro, dan dignifikasi fenomenal historis, serta signifikasi fenomenal dinamis. Hasil temuan dalam penelitian ini menyatakan bahwa pertama, fenomena ikhtilath ini sangat marak terjadi di Indonesia. Kemudian hasil dari interpretasi terhadap Qs. Al-Ahzab  ayat 53 dengan pendekatan ma’na cum maghza maka ditemukan signifikasi fenomenal historis yaitu, perintah menggunakan Hijab pada saat bertemu dengan yang bukan mahram. Kedua, larangan memasuki rumah orang lain tanpa izin. Ketiga, larangan berlama-lama ketika bertamu tanpa adanya kepentingan khusus. Jika dilihat di masa sekarang hal ini memunculkan signifikasi fenomenal dinamis berupa perintah menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram untuk menghindari perilaku ikhtilath  dalam upaya minimalisasi pergaulan bebas. Salah satu bentuk ikhtilath tersebut yakni berdua-duaan ataupun berkumpulnya laki-laki dan perempuan tanpa adanya batasan, sehingga memungkinkan terjadinya perbuatan yang dilarang Allah SAW. Fenomena ikhtilath merupakan perilaku yang sangat tercela, sebagaimana tergambarkan pada Qs. Al-Ahzab ayat 53.