Ghalif Putra Sadewa
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Rangkaian Close-Up, Ekspresi Visual Ritual Tiban: Wujud Pengorbanan Dalam Film Eksperimental Sadewa, Ghalif Putra
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 10 No 1 (2022): MEDIA PENERAPAN KARYA RUPA DALAM TEKNIK DAN TEKNOLOGI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v10i1.1837

Abstract

ABSTRACTTiban is a sacred performing art in Blitar, this tradition is trusted by the community to request rain during the dry season. The offerings, the spells, the calculation of days and the places of execution are considered necessary as a complement to traditional ceremonies. The culmination of Tiban's ritual is the sacrifice of citizens in the whip battle. But unfortunately, visibility is one of the factors that causes changes in the offender's emotions to become opaque. Visual expression of sacrifice is a manifestation of the realization of individual feelings, spontaneous, and emotional in interpreting rituals. Therefore, a close-up was chosen as a medium to closely observe the faces of Tiban participants. Close-up creates intimacy between characters, moves forward grooves or highlights details so the audience understands the moment in the ritual. This shot will simultaneously affect the structure and content of making experimental films. The close-up arrangement as a story style raises tension that focuses on the aesthetic aspects of the object of creation. The face shot provoked to show details that were previously ignored. Visual close-up is no longer a simple representation of reality, but imagery becomes a unit that creates atmosphere, defines character, intensifies the situation, and increases symbol status in the use of mise en scene as a plot. The aim is to produce meaning, emotion, rethink, while presenting a new perspective.Keywords : experimental, close-up, face expression, ritualABSTRAKTiban adalah seni pertunjukkan sakral di Blitar, tradisi ini dipercaya masyarakat guna memohon hujan saat musim kemarau. Sesaji, mantra, perhitungan hari serta tempat pelaksanaan dipandang perlu sebagai pelengkap upacara adat. Puncak dari ritual Tiban adalah pengorbanan warga dalam adu cambuk. Namun sayang, jarak pandang menjadi salah satu faktor penyebab perubahan emosi pelaku menjadi kabur. Visual ekspresi pengorbanan merupakan bentuk realisasi dari perasaan individu, spontan, dan emosional dalam memaknai ritual. Oleh karena itu, close-up dipilih sebagai medium untuk mengamati secara dekat wajah peserta Tiban. Close-up menciptakan keintiman antar karakter, menggerakkan alur ke depan atau menyoroti detail sehingga penonton memahami momen dalam ritual. Bidikan ini sekaligus akan memengaruhi struktur dan konten dalam penciptaan film eksperimental. Rangkaian close-up sebagai gaya penceritaan, menimbulkan ketegangan yang menitikberatkan kepada aspek estetik objek ciptaan. Close-up pada wajah, memprovokasi untuk menunjukkan detail-detail yang sebelumnya terlewatkan oleh pandangan. Visual dari rangkaian close-up bukan lagi representasi gambar sederhana dari realitas, tetapi gambar itu menjadi satu kesatuan yang menciptakan atmosfer, mendefinisikan karakter, mengintensifkan situasi, dan mengangkatnya ke status simbol dalam penggunaan pemanggungan (mise en scene) sebagai alur. Tujuannya menghasilkan makna, emosi, pemikiran ulang, sekaligus menyuguhkan cara pandang baru.Kata Kunci: eksperimental, close-up, ekspresi wajah, ritual
Film Dokumenter Mereka: “Episode Ekspresi Personal Risman Marah dalam Berkarya Seni Fotografi”, Genre Biografi sebagai Media Pendidikan Samaratungga, Oscar; Sadewa, Ghalif Putra
Rekam Vol 19, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v19i2.10963

Abstract

Dokumenter “Mereka” merupakan proyek jangka panjang, menceritakan kisah hidup tokoh yang tekun dan berdedikasi di bidangnya masing-masing. Pemilihan genre biografi sebagai cara tutur memudahkan penonton untuk mengikuti rangkaian peristiwa yang dialami tokoh hingga membentuk ekspresi personal dalam setiap karya-karyanya. Dokumenter biografi seringkali digunakan sebagai media untuk menginspirasi dan memberikan pemahaman yang lebih dalam dari subjek filmnya. Episode kali ini, membahas ekspresi personal Risman Marah sebagai seorang maestro fotografer. Risman Marah, bukan nama asing bagi dunia fotografi Indonesia. Karya, kepakaran, hingga dedikasinya tak perlu diragukan lagi. Namun, seperti apa kehidupan Risman Marah dahulu kala? Tempaan alam dan kondisi seperti apa hingga ia menemukan jalurnya dalam fotografi. Kisah-kisah di luar proses memotret diyakini juga memiliki andil yang besar dalam kiprahnya pada dunia fotografi, baik sebagai pendidik maupun praktisi. Pertanyaan-pertanyaan tadi akan dirumuskan dengan membongkar arsip visual subjek dan diceritakan kembali lewat medium film dokumenter guna menjadi satu pemahaman tentang kisah hidup, cara berpikir, dan berkarya. Metode penciptaan film dokumenter menggunakan tahapan pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Sedangkan hasil dari penciptaan film dokumenter akan dipublikasikan menggunakan media sosial sebagai medium promosi sekaligus edukasi dikarenakan kecenderungan akses masyarakat hari ini lebih dominan pada platform tersebut.Documentary Film “Mereka”: Episode of Risman Marah’s Personal Expression In Creating” Biography Genre As An Educational Medium. The documentary "Mereka" is a long-term project that tells the life stories of individuals who are diligent and dedicated in their respective fields. The choice of biography as a storytelling genre makes it easier for the audience to follow the series of events experienced by these individuals, leading to the formation of their personal expressions in each of their works. Biographical documentaries are often used as a means to inspire and provide a deeper understanding of the film's subjects. In this episode, we will delve into the personal expression of Risman Marah, a master photographer. Risman Marah is not an unfamiliar name in the world of Indonesian photography. His work, expertise, and dedication need no further confirmation. However, what was Risman Marah's life like in the past? How did the natural environment and conditions of that time influence his journey in the world of photography? It is believed that the stories beyond the photography process also play a significant role in his contributions to the world of photography, both as an educator and practitioner. These questions will be addressed by exploring visual archives of the subject and retelling them through the medium of a documentary film to provide a comprehensive understanding of Risman Marah's life, thoughts, and works. The documentary filmmaking process involves pre-production, production, and post-production stages. The results of this documentary will be published through social media as a means of promotion and education, considering that current society tends to be more dominant on that platform.
METODE PENGGUNAAN SATU SUMBER CAHAYA BUATAN DALAM PEMOTRETAN SEPEDA MOTOR Priambodo, Yohanes Baptista Baut; Sadewa, Ghalif Putra
specta Vol 8, No 1 (2024): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v8i1.12607

Abstract

Pemotretan produk otomotif merupakan kegiatan dengan tingkat kesulitan dan kompleksitas penataan cahaya yang sangat tinggi. Proses produksi pemotretan satu unit sepeda motor di studio membutuhkan waktu yang cukup lama karena memerlukan peralatan dan penataan cahaya yang kompleks. Fotografer sering mengalami stres dan kesulitan dalam mengendalikan, memosisikan, dan menghitung perbandingan intensitas cahaya yang mengenai objek sepeda motor di studio. Kesulitan semakin bertambah ketika sumber cahaya yang digunakan lebih dari lima unit guna mencapai hasil pemotretan yang maksimal. Seiring perkembangan teknologi dan inovasi dalam bidang fotografi, sebagai seorang pengajar dan peneliti, tertantang untuk bereksperimen dan mencari alternatif metode pemotretan dalam produksi foto otomotif di studio. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian tindakan (action research) dan berfokus pada pengembangan metode penggunaan satu sumber cahaya buatan dalam pemotretan sepeda motor. Metode ini merupakan suatu rangkaian metode produksi fotografi komersial, yaitu satu buah sumber cahaya ditempatkan secara berpindah-pindah secara prosedural, terukur, dan terarah mengelilingi objek. Proses ini kemudian menghasilkan beberapa data foto dengan kesamaan posisi objek, tetapi dengan karakter, arah, dan intensitas cahaya yang berbeda pada tiap fotonya. Pada tahap akhir, data foto tersebut digabungkan dengan menggunakan perangkat lunak Photoshop. Hasil penelitian berupa pengetahuan dan penjabaran rangkaian proses atau prosedur pemotretan menggunakan satu sumber cahaya buatan dalam pemotretan sepeda motor beserta analisis teknisnya. The Method of Utilizing One Source of Artificial Light in Motorcycle Photoshoot. Photographing automotive products is a photography that has a high level of difficulty and complexity in arranging lighting. The production process of photographing a motorcycle unit in the studio can be time consuming because it requires a complex set of equipment and lighting arrangements. Photographers can be under a lot of stress when they experience difficulty in controlling, positioning, and calculating the intensity of light that hits the object, the motorcycle, in the studio. This will be even more difficult when the lighting sources used are more than five units and it could even reach twelve units to achieve the maximum results of a photoshoot. With the advancement of technology and photography innovation, as a researcher and educator, there is a challenge to experiment and seek alternative methods, ways, or methods to overcome automotive photo production issues in the studio. This research used a qualitative method focusing on the development of the method of using one artificial light source. This method was a series of commercial photography production methods, where in its execution, one light source was placed procedurally, measurably, and directionally around the object. This process produced several photo data with the same object positions but different characteristics, directions, and intensities of light in each photo. In the final stage, the photo data was stacked and merged using Photoshop software. The results of the study are knowledge and elaboration of the series of processes or procedures for photographing using one artificial light source in motorcycle photoshoot, along with its technical analysis.
HAND-HELD CAMERA SEBAGAI REPRESENTASI “KEKACAUAN DAN KETIDAKPASTIAN” DALAM SERIAL TELEVISI SHŌGUN Ghalif Putra Sadewa; Yohanes Baptista Baud Priambodo
Sense: Journal of Film and Television Studies Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sense.v9i1.17504

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan kamera hand-held dalam pembangunan karakter Toranaga pada serial televisi Shōgun, yang terdiri atas sepuluh episode dan tayang perdana pada 27 Februari 2024 di platform Disney + Hotstar. Serial ini berlatar masa akhir feodalisme Jepang. Fokus kajian terletak pada penerapan kamera hand-held sebagai strategi visual dalam membangun karakter Toranaga sepanjang episode. Pengaplikasian hand-held tampak dominan pada adegan-adegan krusial, seperti: pengasingan Toranaga, penyergapan, adu strategi, hingga kematian beberapa koleganya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui observasi langsung pada serial televisi yang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa pergerakan kamera hand-held ditemukan pada ketujuh episode dan berperan membentuk karakter Toranaga. Pergerakan kamera ini berkorelasi dengan konflik personal yang dialaminya, seperti pengkhianatan sesama Regen, kehilangan anak dan sekutunya, serta upayanya bangkit dari keterpurukan. Temuan ini menjadi alternatif pemanfaatan strategi visual hand-held dalam mendukung pembangunan karakter utama film atau serial televisi.
Peningkatan Kapasitas Desain Grafis Digital pada Kelompok Seni Media Disabilitas Yogyakarta Muhamad Ilham; Andri Nur Patrio; Tanto Harthoko Tanto Harthoko; Ghalif Putra Sadewa; Veronica Suryaning V; Afina Khusnul Khotimah
Jurnal Pengabdian Seni Vol 7, No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v7i1.19492

Abstract

Artikel pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas desain grafis digital pada Kelompok Seni Media Disabilitas sebagai bagian dari upaya pemberdayaan seni yang inklusif dan berkelanjutan di ruang digital. Program pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek aktif dalam proses kreatif, dengan tahapan asesmen kebutuhan, pelatihan desain grafis digital, praktik langsung, pendampingan intensif, serta evaluasi hasil karya. Pelatihan difokuskan pada pemanfaatan perangkat lunak Canva yang mudah diakses, adaptif, dan ramah bagi penyandang disabilitas, baik untuk kerja kelompok maupun pengembangan karya secara mandiri, serta telah terintegrasi dengan fitur kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung eksplorasi ide visual. Pascapelaksanaan pengabdian, peserta secara konsisten melanjutkan aktivitas desain grafis melalui produksi konten visual untuk kebutuhan komunitas dan media sosial. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan teknis dasar penyuntingan desain grafis, pemahaman prinsip komposisi, tipografi, dan warna, serta kemampuan menyusun desain yang lebih terstruktur dan komunikatif dibandingkan kondisi awal. Kegiatan ini juga berdampak pada peningkatan kepercayaan diri, partisipasi aktif, dan kemandirian kreatif peserta dalam memanfaatkan media digital sebagai ruang ekspresi seni. Rekomendasi dari kegiatan ini adalah perlunya penguatan program lanjutan melalui pendampingan berkelanjutan, pengembangan materi desain grafis tingkat menengah, serta integrasi teknologi digital dan AI secara lebih optimal untuk memperluas peluang produksi karya dan keberdayaan kelompok seni media disabilitas. This community service article aims to enhance the Media Arts Group for Persons with Disabilities' capacity in digital graphic design as part of an inclusive and sustainable arts empowerment initiative in the digital space. The program was implemented through a participatory approach, positioning persons with disabilities as active subjects in the creative process. The methodology encompassed several stages: needs assessment, digital graphic design training, hands-on practice, intensive mentoring, and evaluation of creative outputs. The training specifically used Canva, an accessible, adaptable software that is disability-friendly, supporting both collaborative work and independent creative development. Notably, the program integrated Artificial Intelligence (AI) features to facilitate more effective exploration of visual ideas. Following the program's completion, participants continued their graphic design activities, producing visual content for community purposes and for social media platforms. The results indicate a significant improvement in technical skills, particularly in basic editing, as well as a deeper understanding of composition, typography, and color selection. Furthermore, the participants demonstrated the ability to produce more structured and communicative designs compared to their initial conditions. Beyond technical gains, the program contributed to increased self-confidence and creative independence in utilizing digital media as a medium for artistic expression. It is recommended that future initiatives strengthen follow-up programs through continuous mentoring and more optimal integration of AI technology to expand creative production opportunities for media arts groups within the disability community.
Peningkatan Kapasitas Desain Grafis Digital pada Kelompok Seni Media Disabilitas Yogyakarta Muhamad Ilham; Andri Nur Patrio; Tanto Harthoko Tanto Harthoko; Ghalif Putra Sadewa; Veronica Suryaning V; Afina Khusnul Khotimah
Jurnal Pengabdian Seni Vol 7, No 1 (2026): MEI 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v7i1.19492

Abstract

Artikel pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas desain grafis digital pada Kelompok Seni Media Disabilitas sebagai bagian dari upaya pemberdayaan seni yang inklusif dan berkelanjutan di ruang digital. Program pengabdian dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek aktif dalam proses kreatif, dengan tahapan asesmen kebutuhan, pelatihan desain grafis digital, praktik langsung, pendampingan intensif, serta evaluasi hasil karya. Pelatihan difokuskan pada pemanfaatan perangkat lunak Canva yang mudah diakses, adaptif, dan ramah bagi penyandang disabilitas, baik untuk kerja kelompok maupun pengembangan karya secara mandiri, serta telah terintegrasi dengan fitur kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung eksplorasi ide visual. Pascapelaksanaan pengabdian, peserta secara konsisten melanjutkan aktivitas desain grafis melalui produksi konten visual untuk kebutuhan komunitas dan media sosial. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan teknis dasar penyuntingan desain grafis, pemahaman prinsip komposisi, tipografi, dan warna, serta kemampuan menyusun desain yang lebih terstruktur dan komunikatif dibandingkan kondisi awal. Kegiatan ini juga berdampak pada peningkatan kepercayaan diri, partisipasi aktif, dan kemandirian kreatif peserta dalam memanfaatkan media digital sebagai ruang ekspresi seni. Rekomendasi dari kegiatan ini adalah perlunya penguatan program lanjutan melalui pendampingan berkelanjutan, pengembangan materi desain grafis tingkat menengah, serta integrasi teknologi digital dan AI secara lebih optimal untuk memperluas peluang produksi karya dan keberdayaan kelompok seni media disabilitas. This community service article aims to enhance the Media Arts Group for Persons with Disabilities' capacity in digital graphic design as part of an inclusive and sustainable arts empowerment initiative in the digital space. The program was implemented through a participatory approach, positioning persons with disabilities as active subjects in the creative process. The methodology encompassed several stages: needs assessment, digital graphic design training, hands-on practice, intensive mentoring, and evaluation of creative outputs. The training specifically used Canva, an accessible, adaptable software that is disability-friendly, supporting both collaborative work and independent creative development. Notably, the program integrated Artificial Intelligence (AI) features to facilitate more effective exploration of visual ideas. Following the program's completion, participants continued their graphic design activities, producing visual content for community purposes and for social media platforms. The results indicate a significant improvement in technical skills, particularly in basic editing, as well as a deeper understanding of composition, typography, and color selection. Furthermore, the participants demonstrated the ability to produce more structured and communicative designs compared to their initial conditions. Beyond technical gains, the program contributed to increased self-confidence and creative independence in utilizing digital media as a medium for artistic expression. It is recommended that future initiatives strengthen follow-up programs through continuous mentoring and more optimal integration of AI technology to expand creative production opportunities for media arts groups within the disability community.
Wacana Feminisme Interseksional dalam Film Before, Now & Then (Nana) Karya Kamila Andini Elara Karla Nugraeni; Sadewa Ghalif Putra
MEDIAKOM Vol. 9 No. 01 (2025): Mediakom, September 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/mdk.v9i01.4396

Abstract

Film Before, Now & Then (Nana) karya Kamila Andini menampilkan representasi kompleks tentang pengalaman perempuan dalam konteks sosial. Wacana feminisme interseksional menjadi relevan untuk mengkaji bagaimana film ini memvisualkan berbagai bentuk penindasan yang dialami perempuan dari latar sosial yang berbeda. Teori feminisme interseksional digunakan sebagai kerangka konseptual untuk memahami hubungan antara gender, kelas sosial, dan struktur kekuasaan yang memengaruhi karakter perempuan dalam film. Metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus diterapkan dengan memfokuskan pada dialog, teknik sinematografi, dan elemen mise-en-scène yang dianggap mewakili ekspresi wacana feminisme interseksional dalam film tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Before, Now & Then (Nana) menampilkan lapisan penindasan yang saling terkait, baik secara sosial maupun psikologis, yang dialami oleh tokoh-tokoh perempuan. Representasi tersebut memperlihatkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan tidak bersifat tunggal, melainkan dapat terjadi dalam relasi intra-gender dan dipengaruhi oleh konteks sosial serta budaya.