bambang sujatmiko
Universitas Dr Soetomo

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Substitusi Serbuk Kapur Tohor Terhadap Semen Pada Beton Memadat Mandiri (Self-Compacting Concrete) Ditinjau Dari Kuat Tekan: The Effect of Tohor Lime Powder Substitution for Cement in Self-Compacting Concrete in View of Compressive Strength Maria Angelina Getrisiani Piusaputri; safrin zuraidah; bambang sujatmiko
CONCRETE: Construction and Civil Integration Technology Vol. 1 No. 02: October 2023
Publisher : Dr. Soetomo University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/concrete.v1i02.6944

Abstract

Self-compacting concrete (SCC) adalah teknologi beton yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tiga karakteristik utamanya, yaitu filling ability (syarat EFNARC, 2002: 65-80 cm), passing ability (syarat EFNARC, 2002: 0,8-1,00) dan segregation resistance (syarat EFNARC, 2002: 0-15 detik). Komposisi material yang digunakan untuk membuat benda uji (SCC) terdiri dari semen portland tipe I, agregat halus, agregat kasar, serbuk kapur tohor, air dan superplasticizer. Terdapat empat variasi serbuk kapur tohor terhadap semen, yaitu variasi 0%, 4%, 8% dan 12%. Keempat variasi ini memenuhi syarat karakteristik SCC dengan masing-masing nilai yang didapatkan pada setiap variasi secara berurutan (0%, 4%, 8%, 12%), yaitu filling ability (66,50 cm; 67,33 cm; 69,17 cm; 67,50 cm), passing ability (0,80; 0,823; 0,823; 0,82) dan segregation resistance (8,67 detik; 9,00 detik; 9,33 detik; 9,00 detik). Pada penelitian ini, substitusi serbuk kapur tohor terhadap semen memberikan pengaruh pada kuat tekan SCC, yaitu semakin besar variasi serbuk kapur tohor terhadap semen, maka semakin kecil kuat tekannya. Adapun hasil kuat tekan yang didapatkan berbanding lurus dengan nilai berat volume pada setiap variasi atau dengan kata lain semakin tinggi variasi serbuk kapur tohor maka semakin kecil berat volumenya. Hasil tersebut dapat dibuktikan dengan nilai berat jenis semen (2,75) yang lebih tinggi dibandingkan berat jenis serbuk kapur tohor (2,4). Untuk kuat tekan optimum terdapat pada variasi 0% pada umur 28 hari dengan perbandingan nilai kuat tekan terhadap variasi lainnya pada umur yang sama sebagai berikut: variasi 0% sebesar 25,17 MPa; variasi 4% sebesar 23 MPa; variasi 8% sebesar 22,34 MPa dan variasi 12% sebesar 13,76 MPa. Berdasarkan hasil kuat tekan yang didapatkan dalam penelitian ini, maka substitusi serbuk kapur tohor terhadap semen dengan komposisi sebanyak 4% dan 8% bisa digunakan untuk struktur ringan, seperti rumah dan pasangan bata.
Pengaruh Limbah Peleburan Tembaga Sebagai Substitusi Agregat Halus Dengan Curing Menggunkan Air Laut Ditinjau Dari Kuat Tekan Beton: The Effect of Copper Smelting Waste as a Substitute for Fine Aggregate by Curing Using Sea Water in View of the Compressive Strength of Concrete Leonita Paska; safrin zuraidah; bambang sujatmiko
CONCRETE: Construction and Civil Integration Technology Vol. 1 No. 02: October 2023
Publisher : Dr. Soetomo University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/concrete.v1i02.6945

Abstract

Copper slag merupakan hasil peleburan tembaga yang mempunyai susunan kimia Silicon Dioxide (SiO2) sekitar 30 – 36%, Iron Oxide (FeO) mencapai 45 – 55%, Calcium Oxide (CaO) sekitar 2 –7 %, Alumunium Oxide (Al2O3) sekitar 3 –6%. Karena bentuknya menyerupai pasir alam maka dapat dipakai sebagai substitusi pasir. Penelitian dengan metode experimental ini, menggunakan proporsi rancangan campuran (Mix desain) metode SNI 03-2834-2000. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan copper slag sebagai substitusi agregat halus dengan curing menggunakan air laut dengan variasi persentase copper slag 0%, 25%, 45%, 65%, dan 85% yang masing-masing variasi dibuat 3 sampel untuk umur 7, 14 dan 28 hari, benda uji yang dipakai berbentuk silider dengan ukuran Ø 15 cm x 30 cm dengan jumlah benda uji sebanyak 90 buah dengan mutu beton adalah f’c = 30 MPa. Peningkatan penggunaan proporsi copper slag dapat meningkatkan berat volume beton dan kuat tekan beton. Dari hasil pengujian, variasi 85% merupakan nilai optimum berat volume beton dengan curing air PAM sebesar 2,60 kg/m3. Kuat tekan optimum terjadi pada variasi 65% sebesar 28,48 MPA. Sedangkan dari hasil pengujian, variasi 85% merupakan nilai optimum berat volume beton dengan curing air Laut sebesar 2,59 kg/m3. Kuat tekan optimum terjadi pada variasi 85% sebesar 27,31 MPA. Dari hasil penelitian ini maka direkomendasikan limbah tembaga (copper slag) dipakai dalam campuran beton sebagai substitusi agregat halun dan untuk bangunan di Laut atau pesisir pantai akan tetapi tidak direkomendasikan untuk bangunan bertingkat tinggi.
PEMANFAATAN SERBUK DARI LIMBAH CANGKANG TELUR UNTUK SUBSTITUSI SEMEN PADA MORTAR: USE OF EGG SHELL WASTE POWDER AS A SUBSTITUTE FOR CEMENT IN MORTAR Alan Putra Hatu; Safrin Zuraidah; Bambang Sujatmiko
CONCRETE: Construction and Civil Integration Technology Vol. 3 No. 02 (2025): October 2025
Publisher : Dr. Soetomo University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/concrete.v3i02.10527

Abstract

Mortar merupakan campuran semen, pasir, dan air dengan presentase yang bervariasi. Sebagai bahan pengikat, mortar harus mempunyai konsisten/kekentalan yang standart. Konsisten mortar ini nantinya akan membantu menentukan kekuatan mortar (spesi atau dinding yang plaster), sehingga diharapkan mortar tidak rusak akibat gaya tekan yang ditimbulkan oleh beban kerja. Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui penggunaan limbah cangkang telur sebagai substitusi semen tehadap berat volume dan kuat tekan mortar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang ditinjau terhadap kuat tekan mortar, dengan variasi serbuk cangkang telur 0%, 3%, 6% dan 9% dari berat semen, cetakan yang akan digunakan untuk membuat benda uji berbentuk silinder dengan ukuran 10 cm x 20 cm, dengan jumlah benda uji sebanyak 36 buah, untuk pengujian kuat tekan akan dilakukan pada umur 7, 14, dan 28 hari. Dari hasil penelitian yang dilakukan, pada mortar umur 28 hari kaut tekan mortar mengalami penurunan seiring dengan penambahan serbuk cangkang telur. Pada campuran tanpa serbuk cangkang telur (0%), nilai kuat tekan sebesar 12,95 MPa, Pada Penambahan serbuk cangkang telur dengan variasi 3% mengalami penurunan sebesar 13,13% dengan nilai kuat tekan sebesar 11,25 MPa, Pada Penambahan serbuk cangkang telur dengan variasi 6% mengalami penurunan sebesar 22,99% dengan nilai kuat tekan sebesar 9,97 MPa, Dan pada Penambahan serbuk cangkang telur variasi 9% mengalami penurunan sebesar 32,85% dengan nilai kuat tekan sebesar 8,70 MPa dari mortar normal.
EVALUASI DAN STRATEGI PERBAIKAN JARINGAN IRIGASI DAERAH NGUDIKAN KIRI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (STUDI KASUS: JARINGAN IRIGASI NGUDIKAN KIRI KABUPATEN NGANJUK) : EVALUATION AND IMPROVEMENT STRATEGIES FOR THE NGUDIKAN KIRI IRRIGATION NETWORK USING THE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS METHOD (CASE STUDY: NGUDIKAN KIRI IRRIGATION NETWORK IN NGANJUK REGENCY) Egha Stevania; Bambang Sujatmiko; Dayat Indri Yuliatuti
CONCRETE: Construction and Civil Integration Technology Vol. 3 No. 02 (2025): October 2025
Publisher : Dr. Soetomo University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/concrete.v3i02.10970

Abstract

Irigasi yang efisien sangat penting untuk mendukung produktivitas pertanian di Kabupaten Nganjuk, di mana sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja jaringan irigasi Ngudikan Kiri seluas 645 hektar yang belum berfungsi secara optimal, dengan menggunakan teori KP-01 tahun 2013 dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) menurut teori Saaty. Data dikumpulkan melalui penyelidikan lapangan, dokumentasi, dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil analisis Water Balance menunjukkan defisit air tertinggi pada musim tanam padi mencapai 7,58 m³/detik pada bulan Mei I, sedangkan pada masa tanam palawija defisit maksimum sebesar 1,56 m³/detik terjadi pada November I. Analisis AHP mengungkapkan bahwa kriteria dukungan sosial memiliki bobot tertinggi sebesar 0,23, dengan prioritas utama pada rehabilitasi saluran (0,24), diikuti irigasi berjadwal (0,23) dan pintu air terukur (0,20). Studi ini menegaskan perlunya perbaikan pengelolaan irigasi melalui peningkatan infrastruktur dan pengaturan distribusi air yang lebih efisien agar sistem irigasi berfungsi optimal dan mendukung produktivitas pertanian yang berkelanjutan.