Bimo Prakasa Wirokusumo
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbedaan Efek Konsumsi Air Kelapa dan Minuman Elektrolit Berkarbohidrat Terhdap HRR Fadrizan Nezar Azqia; Ike Rahmawaty Alie; Bimo Prakasa Wirokusumo
Bandung Conference Series: Medical Science 457-464
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22223

Abstract

Abstract. Increased heart rate (HR) is one indicator of fatigue and dehydration, requiring optimal rehydration. This study aims to analyze the differences in the effects of potassium-rich coconut water (AK) and commercial carbohydrate-electrolyte beverages (MEB) on heart rate recovery (HRR) after the Harvard Step Test. This quasi-experimental study with a pretest-posttest design with a control group involved 80 male students (N=40 per group) who underwent the Harvard Step Test, followed by consumption of 250 mL of AK or MEB, then HRR was measured at 1, 2, and 3 minutes. Data normality was tested using Kolmogorov–Smirnov, then analyzed using Paired T-Test/Wilcoxon for pulse changes within groups, and Independent T-Test/Mann–Whitney for intergroup comparisons. The results showed that, in absolute terms, all subjects experienced a highly significant decrease (p<0.001) in HRR from maximum HRR to the 3rd minute of recovery. Comparisons between groups showed no significant differences in the early recovery phase. In the advanced recovery phase (D3), there was a statistically significant difference. Carbohydrate-electrolyte beverages were proven to be more effective in accelerating HRR at minute 3 post-fitness test compared to AK. This effectiveness is believed to be driven by the optimal carbohydrate and sodium ratio in the composition of MEB, which supports rehydration and acceleration of parasympathetic reactivation in the advanced phase. Abstrak. Peningkatan laju denyut jantung (LDJ) merupakan salah satu indikator kelelahan dan dehidrasi sehingga memerlukan rehidrasi optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efek Air Kelapa (AK) yang kaya Kalium dan Minuman Elektrolit Berkarbohidrat (MEB) komersial terhadap pemulihan laju denyut jantung (PLJ/HRR) pasca Harvard Step Test. Penelitian quasi-experimental dengan desain pretest-posttest with control group melibatkan 80 mahasiswa laki-laki (N=40 per kelompok) yang menjalani Harvard Step Test, diikuti dengan konsumsi 250 mL AK atau MEB, kemudian PLJ diukur pada menit ke-1, ke-2, dan ke-3. Data diuji normalitasnya dengan Kolmogorov–Smirnov, lalu dianalisis menggunakan Paired T-Test/Wilcoxon untuk perubahan nadi dalam kelompok, dan Independent T-Test/Mann–Whitney untuk perbandingan antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara absolut, seluruh subjek mengalami penurunan LDJ yang sangat signifikan (p<0,001) dari LDJ maksimum menuju menit-3 pemulihan. Perbandingan antar kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada fase awal pemulihan. Pada fase lanjutan pemulihan (D3), terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik. Minuman Elektrolit Berkarbohidrat terbukti lebih efektif dalam mempercepat HRR pada menit ke-3 pasca-tes kebugaran dibandingkan dengan AK. Efektivitas ini diyakini didorong oleh rasio karbohidrat dan natrium yang optimal dalam komposisi MEB, yang mendukung rehidrasi dan akselerasi reaktivasi parasimpatis pada fase lanjutan.
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Keterlambatan Diagnosis Tuberkulosis Paru Dewasa di Kabupaten Bandung tahun 2025 Raissa muhammad dzaki; Fajar Awalia Yulianto; Bimo Prakasa Wirokusumo
Bandung Conference Series: Medical Science 853-860
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22407

Abstract

Abstract. Pulmonary tuberculosis remains one of the most prevalent infectious diseases in Indonesia, including in Bandung Regency, which is among the regions with the highest TB burden. Delayed diagnosis contributes to increased transmission, late treatment initiation, and higher risk of complications. Educational level is often associated with health-seeking behavior; however, previous studies have shown inconsistent findings. This study aimed to determine the relationship between educational level and delayed diagnosis of pulmonary tuberculosis among adults in Bandung Regency in 2025. An observational analytic case-control design was employed involving 87 adult pulmonary TB patients diagnosed between April and September 2025. Samples were selected using purposive sampling across three primary health centers, and data were collected via an online questionnaire covering onset of symptoms, first healthcare visit, and date of confirmed diagnosis. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. Results showed that 39 respondents (45%) experienced delayed diagnosis, while the remaining 48 respondents (55%) did not. Most respondents had senior high school or higher education (55%) Chi-square analysis yielded a p-value of 0.088, indicating no significant relationship between educational level and diagnostic delay. These findings suggest that healthcare system factors, geographic access, diagnostic procedures, prolonged referral processes, and the number of healthcare contacts may have greater influence than educational attainment. This study highlights the need to strengthen TB services at the primary healthcare level. Abstrak. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular dengan beban kasus tertinggi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bandung yang menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penderita TB terbanyak. Keterlambatan diagnosis TB paru berdampak pada meningkatnya penularan, keterlambatan pengobatan, dan risiko komplikasi. Tingkat pendidikan sering diasosiasikan dengan perilaku pencarian pengobatan, namun berbagai studi sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan keterlambatan diagnosis TB paru dewasa di Kabupaten Bandung tahun 2025. Penelitian menggunakan desain analitik observasional case-control dengan jumlah sampel 87 pasien TB paru dewasa yang terdiagnosis pada April–September 2025. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling di tiga puskesmas dan data dikumpulkan melalui kuesioner daring mengenai waktu munculnya gejala, kunjungan pertama ke fasilitas kesehatan, serta waktu diagnosis ditegakkan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39 responden (45%) mengalami keterlambatan diagnosis, sementara 48 responden lainnya (55%) tidak mengalami keterlambatan. Mayoritas responden berpendidikan SMA/SMK atau pendidikan tinggi (55%) Uji Chi-square menunjukkan nilai p = 0.088, sehingga tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dan keterlambatan diagnosis TB paru. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor pelayanan kesehatan, akses geografis, prosedur diagnostik , rujujan yang berkepanjangan, dan jumlah kontak kesehatan kemungkinan lebih berperan dibandingkan variabel pendidikan. Penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan mutu pelayanan TB di fasilitas kesehatan primer