Abstract. Pulmonary tuberculosis remains one of the most prevalent infectious diseases in Indonesia, including in Bandung Regency, which is among the regions with the highest TB burden. Delayed diagnosis contributes to increased transmission, late treatment initiation, and higher risk of complications. Educational level is often associated with health-seeking behavior; however, previous studies have shown inconsistent findings. This study aimed to determine the relationship between educational level and delayed diagnosis of pulmonary tuberculosis among adults in Bandung Regency in 2025. An observational analytic case-control design was employed involving 87 adult pulmonary TB patients diagnosed between April and September 2025. Samples were selected using purposive sampling across three primary health centers, and data were collected via an online questionnaire covering onset of symptoms, first healthcare visit, and date of confirmed diagnosis. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. Results showed that 39 respondents (45%) experienced delayed diagnosis, while the remaining 48 respondents (55%) did not. Most respondents had senior high school or higher education (55%) Chi-square analysis yielded a p-value of 0.088, indicating no significant relationship between educational level and diagnostic delay. These findings suggest that healthcare system factors, geographic access, diagnostic procedures, prolonged referral processes, and the number of healthcare contacts may have greater influence than educational attainment. This study highlights the need to strengthen TB services at the primary healthcare level. Abstrak. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular dengan beban kasus tertinggi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bandung yang menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penderita TB terbanyak. Keterlambatan diagnosis TB paru berdampak pada meningkatnya penularan, keterlambatan pengobatan, dan risiko komplikasi. Tingkat pendidikan sering diasosiasikan dengan perilaku pencarian pengobatan, namun berbagai studi sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan keterlambatan diagnosis TB paru dewasa di Kabupaten Bandung tahun 2025. Penelitian menggunakan desain analitik observasional case-control dengan jumlah sampel 87 pasien TB paru dewasa yang terdiagnosis pada April–September 2025. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling di tiga puskesmas dan data dikumpulkan melalui kuesioner daring mengenai waktu munculnya gejala, kunjungan pertama ke fasilitas kesehatan, serta waktu diagnosis ditegakkan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39 responden (45%) mengalami keterlambatan diagnosis, sementara 48 responden lainnya (55%) tidak mengalami keterlambatan. Mayoritas responden berpendidikan SMA/SMK atau pendidikan tinggi (55%) Uji Chi-square menunjukkan nilai p = 0.088, sehingga tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dan keterlambatan diagnosis TB paru. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor pelayanan kesehatan, akses geografis, prosedur diagnostik , rujujan yang berkepanjangan, dan jumlah kontak kesehatan kemungkinan lebih berperan dibandingkan variabel pendidikan. Penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan mutu pelayanan TB di fasilitas kesehatan primer