Fajar Awalia Yulianto
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Stigma dan Diskriminasi Sosial Terhadap Pasien Tuberkulosis di Kabupaten Bandung Kavin Abdurrahiem; Fajar Awalia Yulianto; Winni Maharani Mauliani
Bandung Conference Series: Medical Science 847-852
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22406

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) remains one of the major public health problems in Indonesia, and Bandung Regency is one of the areas with a high incidence of TB. In addition to medical problems, social stigma and discrimination against TB patients are still common and can affect patients’ psychological conditions, social interactions, and treatment adherence. This study aimed to describe social stigma and discrimination against TB patients in Bandung Regency in 2025. This study was a qualitative study with a descriptive approach. Data were collected through online Triaadiv Interview conducted in the working areas of Paseh and Soreang Community Health Centers, involving TB patients, family members of TB patients, and community members and health cadres. Informants were selected using purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Triadic Interview data were transcribed verbatim and analyzed using thematic analysis through open coding, axial coding, and selective coding. The results showed that TB is still perceived as a dangerous, contagious, and shameful disease, leading to social stigma and discrimination against TB patients. Forms of stigma and discrimination included social exclusion, restricted interaction, separation of eating utensils and personal belongings, and limitations on patients’ social activities. Stigma and discrimination affected patients’ psychological conditions, such as feelings of shame, low self-esteem, and social withdrawal. This study concludes that stigma and discrimination against TB patients still occur in Bandung Regency and that joint efforts involving families, communities, health cadres, and the government are needed to reduce stigma and discrimination against TB patients. Abstrak. Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia dan Kabupaten Bandung merupakan salah satu wilayah dengan angka kejadian TB yang tinggi. Selain permasalahan medis, stigma dan diskriminasi sosial terhadap pasien TB masih sering terjadi dan dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien, interaksi sosial, serta kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan stigma sosial dan diskriminasi terhadap pasien TB di Kabupaten Bandung tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui Triadic Interview secara daring di wilayah kerja Puskesmas Paseh dan Puskesmas Soreang dengan melibatkan pasien TB, keluarga pasien TB, serta masyarakat dan kader kesehatan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data Triadic Interview ditranskrip secara verbatim dan dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TB masih dipersepsikan sebagai penyakit yang berbahaya, menular, dan memalukan sehingga memunculkan stigma dan diskriminasi sosial terhadap pasien TB. Bentuk stigma dan diskriminasi yang ditemukan meliputi pengucilan sosial, pembatasan interaksi, pemisahan alat makan dan barang pribadi, serta pembatasan aktivitas sosial pasien. Stigma dan diskriminasi tersebut berdampak pada kondisi psikologis pasien, seperti rasa malu, rendah diri, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB masih terjadi di Kabupaten Bandung dan diperlukan upaya bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, kader kesehatan, serta pemerintah untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB.
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Keterlambatan Diagnosis Tuberkulosis Paru Dewasa di Kabupaten Bandung tahun 2025 Raissa muhammad dzaki; Fajar Awalia Yulianto; Bimo Prakasa Wirokusumo
Bandung Conference Series: Medical Science 853-860
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22407

Abstract

Abstract. Pulmonary tuberculosis remains one of the most prevalent infectious diseases in Indonesia, including in Bandung Regency, which is among the regions with the highest TB burden. Delayed diagnosis contributes to increased transmission, late treatment initiation, and higher risk of complications. Educational level is often associated with health-seeking behavior; however, previous studies have shown inconsistent findings. This study aimed to determine the relationship between educational level and delayed diagnosis of pulmonary tuberculosis among adults in Bandung Regency in 2025. An observational analytic case-control design was employed involving 87 adult pulmonary TB patients diagnosed between April and September 2025. Samples were selected using purposive sampling across three primary health centers, and data were collected via an online questionnaire covering onset of symptoms, first healthcare visit, and date of confirmed diagnosis. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. Results showed that 39 respondents (45%) experienced delayed diagnosis, while the remaining 48 respondents (55%) did not. Most respondents had senior high school or higher education (55%) Chi-square analysis yielded a p-value of 0.088, indicating no significant relationship between educational level and diagnostic delay. These findings suggest that healthcare system factors, geographic access, diagnostic procedures, prolonged referral processes, and the number of healthcare contacts may have greater influence than educational attainment. This study highlights the need to strengthen TB services at the primary healthcare level. Abstrak. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular dengan beban kasus tertinggi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bandung yang menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penderita TB terbanyak. Keterlambatan diagnosis TB paru berdampak pada meningkatnya penularan, keterlambatan pengobatan, dan risiko komplikasi. Tingkat pendidikan sering diasosiasikan dengan perilaku pencarian pengobatan, namun berbagai studi sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan keterlambatan diagnosis TB paru dewasa di Kabupaten Bandung tahun 2025. Penelitian menggunakan desain analitik observasional case-control dengan jumlah sampel 87 pasien TB paru dewasa yang terdiagnosis pada April–September 2025. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling di tiga puskesmas dan data dikumpulkan melalui kuesioner daring mengenai waktu munculnya gejala, kunjungan pertama ke fasilitas kesehatan, serta waktu diagnosis ditegakkan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39 responden (45%) mengalami keterlambatan diagnosis, sementara 48 responden lainnya (55%) tidak mengalami keterlambatan. Mayoritas responden berpendidikan SMA/SMK atau pendidikan tinggi (55%) Uji Chi-square menunjukkan nilai p = 0.088, sehingga tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dan keterlambatan diagnosis TB paru. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor pelayanan kesehatan, akses geografis, prosedur diagnostik , rujujan yang berkepanjangan, dan jumlah kontak kesehatan kemungkinan lebih berperan dibandingkan variabel pendidikan. Penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan mutu pelayanan TB di fasilitas kesehatan primer