Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TOPONIMI KELURAHAN SUMUR MELELEH DAN KELURAHAN MALABERO: TOPONIMI KELURAHAN SUMUR MELELEH DAN KELURAHAN MALABERO Putriani, Eka; Rustinar, Eli
Lateralisasi Vol. 10 No. 02 (2022): LATERALISASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammmadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan toponimi dan struktur bahasa dari Kelurahan Sumur Meleleh dan Kelurahan Malabero. Membahas tentang toponimi karena toponimi memiliki peranan penting sebagai penanda dan kerap dihubungkan dengan identitas suatu tempat, sehingga toponimi berkaitan erat dengan makna. Penelitian ini juga berupaya untuk mendorong terbentuknya kepedulian masyarakat terhadap peristiwa masa lalu yang menjadi latar belakang terbentuknya nama suatu wilayah.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dijelaskan dengan metode deskriptif. Sumber data penelitian adalah informan. Teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, pencatatan, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data menerapkan teknik analisis isi yang berhubungan dengan isi komunikasi, baik secara verbal, dalam bentuk bahasa maupun non verbal seperti arsitektur dan lainnya. Isi komunikasi merupakan pesan yang terkandung sebagai akibat komunikasi yang terjadi. Penamaan Kelurahan Sumur Meleleh dan Kelurahan Malabero dipengaruhi oleh aspek perwujudan dalam toponimi. Hal ini dikarenakan terdapat sebuah sumur yang tidak berhenti mengeluarkan air di Kelurahan Sumur Meleleh dan terdapat sebuah benteng peninggalan zaman penjajahan Inggris yang bernama Fort Marlborough di Kelurahan Malabero. Struktur bahasa dari kedua nama kelurahan ini masih berada dalam tingkat kata dan mengalami proses morfologis Kedua nama kelurahan ini pada dasarnya dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Keberadaan sumur yang selalu mengalirkan air yang akhirnya menjadikan nama Kelurahan Sumur Meleleh, sedangkan Kelurahan Malabero ditandai dengan keberadaan benteng Fort Marlborough. "Sumur Meleleh" masuk ke dalam kata majemuk sedangkan "Malabero" masuk ke dalam kata tunggal. Selanjutnya, penulis berharap banyak lagi dilakukan penelitian mengenai toponimi daerah lainnya di Kota Bengkulu. Kata Kunci : (Toponimi, Struktur Bahasa, Kelurahan Sumur Meleleh, Kelurahan Malabero)
Implementasi Program Penanaman Bakau untuk Memperkuat Lahan Pesisir di Kelurahan Sinaboi Kota Kabupaten Rokan Hilir Zukhra, Ririn Muthia; Marsella, Anggi; Afriansyah, Azan; Afriani, Dita; Putriani, Eka; Sasmita, Ilyas; Irawan, Muhammad Rico; Ufiasari, Nor Hasanah; Situmorang, Ribka Susanti; Dewi, Yulia Nurmala
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 7 (2024): September
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i7.1301

Abstract

Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) adalah program wajib yang biasanya diadakan oleh perguruan tinggi. Dalam program ini, mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat di suatu daerah, terutama di desa-desa atau komunitas yang membutuhkan. Tujuan dari Kukerta adalah untuk memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa serta berkontribusi pada pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan proyek penanaman mangrove untuk memperkuat kawasan pesisir di subkawasan Sinaboi Kota dengan tujuan mengatasi permasalahan degradasi lahan pesisir dan perubahan iklim yang mempengaruhi seluruh ekosistem dan kesejahteraan masyarakat lokal. Proyek ini mencakup penanaman bakau yang dikenal efektif dalam melindungi pantai dari erosi, meningkatkan kualitas tanah, dan menciptakan habitat bagi berbagai spesies. Kegiatan utama proyek ini adalah pemilihan lokasi penanaman strategis, penyediaan benih mangrove berkualitas, serta pelatihan dan partisipasi masyarakat lokal dalam penanaman dan konservasi. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hiu dan mendorong upaya mereka dalam menjaga lingkungan. Hasil dari proyek ini meliputi penguatan infrastruktur pesisir, peningkatan kualitas tanah dan air, serta pemulihan keanekaragaman hayati di daerah yang terkena dampak. Efektivitas program akan dievaluasi secara berkala untuk mengukur keberhasilan penanaman mangrove dan melakukan penyesuaian yang tepat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Proyek ini diharapkan dapat menjadi model bagi upaya perlindungan pantai di wilayah lain yang mengalami kondisi serupa.