Munandar, Bayu
Departemen Oseanografi, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KAITAN MONSUN TERHADAP VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A UNTUK PREDIKSI POTENSI FISHING GROUND DI PERAIRAN KARIMUNJAWA Munandar, Bayu; Purwanto, Purwanto; Kunarso, Kunarso
Journal of Oceanography Vol 5, No 4 (2016)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1360.861 KB)

Abstract

Nilai SPL dan klorofil-a di suatu perairan dapat mempengaruhi produktivitas perikanan di perairan tersebut. Hal ini disebabkan karena ikan pelagis suka hidup di perairan yang memiliki nilai SPL dan klorofil-a yang optimum untuk kehidupannya. Kondisi lingkungan dapat menggambarkan bahwa perairan tersebut cocok untuk kehidupan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh monsun terhadap variabilitas SPL dan klorofil-a untuk prediksi potensi fishing ground secara temporal dan spasial di perairan Karimunjawa. Pengambilan data lapangan dilakukan selama 2 hari yaitu pada tanggal 20 – 21 September 2015. Alat dan bahan yang digunakan yaitu Water Quality Checker (WQC), Global Positioning System (GPS), anemometer, bola duga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Data yang digunakan di penelitian ini bersumber dari data insitu dan data yang di download dari website. Angin monsun secara temporal berpengaruh terhadap SPL dan klorofil-a, SPL terendah terjadi bulan Januari dan Agustus sebesar 28,70C dan 28,40C dan klorofil-a tertinggi bulan Januari dan Juni sebesar 0,39 mg/m3 dan 0,45 mg/m3. Potensi fishing ground mengikuti pola kenaikan klorofil-a, dimana potensi fishing ground tertinggi pada bulan Mei – Agustus (Peralihan I dan Musim Timur). Pengaruh monsun secara spasial terlihat dari perbedaan suhu antara bagian selatan Karimunjawa yang lebih panas dibandingkan dengan bagian utara. Sedangkan untuk distribusi klorofil-a dan potensi fishing ground umumnya berpusat di sekitar pantai.
Respon Kecepatan Angin Terhadap Variabilitas Klorofil-a di Laut Filipina Dan Maluku Bagian Utara Bayu Munandar; Anindya Wirasatriya; Denny Nugroho Sugianto; Ambariyanto Ambariyanto; Sunaryo Sunaryo
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.38273

Abstract

Suplay massa air di Laut Filipina dan Maluku bagian utara berasal dari Samudera Pasifik. Variabilitas klorofil-a (chl-a) dapat dipengaruhi oleh suplay massa air dari suatu wilayah atau pengaruh interaksi atmosfer dan laut. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan pengaruh interaksi atmosfer-laut terhadap variabilitas chl-a secara spasial dan temporal. Data yang digunakan yaitu data citra satelit dengan periode 2003-2019 dan argo float. Hasil menunjukkan chl-a di Laut Filipina selalu berada dibawah 0,1 mg/m3 di sepanjang tahun dan Laut Maluku bagian utara mengalami peningkatan saat musim timur (0,27 mg/m3). Kenaikan chl-a di Laut Maluku bagian utara diikuti dengan kenaikan kecepatan angin (musim timur) yang menyebabkan Ekman Mass Transport (EMT). EMT bergerak kearah timur laut yang membawa massa air menjauhi pantai dan terjadi proses coastal upwelling. Coastal upwelling inilah menjadi faktor utama peningkatan chl-a di Laut Maluku bagian utara. Sebaliknya, kenaikan kecepatan angin di Laut Filipina tidak membangkitkan EMT dan tidak meningkatkan chl-a.  Chl-a yang stabil di sepanjang tahun di Laut Filipina membuktikan kecepatan angin kuat tidak terlalu dominan untuk mempengaruhi variabilitas chl-a. Rendahnya chl-a kemungkinan disebakan oleh massa air dari Samudera Pasifik yang dibawa oleh Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Water mass supply in the Philippine Sea and northern Maluku derived from the Pasific Ocean. The variability of chlorophyll-a (chl-a) was affected by the supply of water mass from the area or the impact of air and sea interactions. This study aimed to define the effect of air-sea interaction on the spatial and temporal variability of chl-a. The required data in this study was satellite image data with the period 2003-2019 and argo float. The results showed that chl-a in the Philippine Sea was always below 0.1 mg / m3 throughout the year and the northern Maluku Sea increased during the eastern monsoon (0.27 mg / m3). The increasing of chl-a in the northern Maluku Sea was followed by the increasing of wind speed (east monsoon) which impacted the Ekman Mass Transport (EMT). EMT moved to the northeast carrying the water mass away from the coast and turned up coastal upwelling process. Coastal upwelling was the main factor of chl-a increasing in the North Maluku Sea. In otherwise, wind speed increasing in the Philippine Sea caused vertical mixing (west monsoon) but did not increase chl-a. The stable value of chl-a throughout the years in the Philippine Sea verified that strong wind speeds are not too dominant to affect the variability of chl-a.. The low chl-a was probably caused by the water mass from the Pacific Ocean that carried by Indonesian Through Flow (ARLINDO).
Pengaruh Musim dan Pasang Surut Terhadap Konsentrasi Mikroplastik di Perairan Delta Sungai Wulan, Kabupaten Demak Sri Yulina Wulandari; Ocky Karna Radjasa; Bambang Yulianto; Bayu Munandar
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.46329

Abstract

Sungai merupakan jalur penting masuknya mikroplastik ke perairan laut. Mikroplastik baik primer atau sekunder merupakan polutan partikel plastik yang berukuran kurang dari 5 mm (ukuran partikel mirip dengan partikel suspensi atau plankton). Termasuk sampah plastik, mikroplastik berpotensi menyebabkan terganggunya rantai makanan pada biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi mikroplastik di kolom air pada musim hujan dan kemarau saat kondisi pasang dan surut di perairan Delta Wulan, Kecamatan Wedung Kabupaten Demak. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Total sebanyak 32 sampel air laut diambil dengan menggunakan plankton net dari 8 stasiun pengamatan yang ditentukan secara purposive. Pengambilan sampel dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi musim dan pasang surut. Analisa kandungan mikroplastik dalam sampel air laut dilakukan dengan menggunakan metode yang direkomendasikan oleh NOAA. Prosedur analisa meliputi penyaringan sampel air, penambahan reagen (Fe (II) 0,05M, H2O2 30%, NaCl), pemanasan, pemisahan berdasarkan densitas dan analisa gravimeri, Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konsentrasi mikroplastik lebih tinggi pada musim kemarau dibanding musim hujan, dengan nilai rerata berturut-turut sebesar 2,608 mg/L dan 2,247 mg/L. Dari analisa regresi ANOVA menunjukkan ada perbedaan konsentrasi berdasarkan musim (p-value sebesar 0,007), namun tidak ada perbedaan berdasarkan kondisi pasang dan surut (p-value sebesar 0,840).   Rivers are an important pathway for the entry of microplastics into marine waters. Microplastics, both primary and secondary, are pollutants of plastic particles that are less than 5 mm in size (particle size is similar to sediment suspense or plankton). Including plastic waste, microplastics have the potential to disrupt the food chain in marine biota. This study aims to determine the concentration of microplastics in the water column during the rainy and dry seasons during high and low tide conditions in the waters of the Wulan Delta, Wedung District, Demak Regency. The method used is descriptive quantitative. A total of 32 seawater samples were taken using a plankton net from 8 observation stations which were determined purposively. Sampling was carried out by considering seasonal and tidal conditions. Analysis of microplastic content in seawater samples was carried out using the procedure recommended by NOAA. The analytical procedure includes filtering of water samples, addition of reagent (Fe (II) 0.05M, 30% H2O2, NaCl), heating, density separation and gravimetric analysis. The results showed that the concentration of microplastics was higher in the dry season than in the rainy season, with an average value of 2,608 mg/L and 2,247 mg/L, respectively. From the ANOVA regression analysis showed that there was a difference in concentration based on seasons (p-value of 0.007), but there was no difference based on tidal and tidal conditions (p-value of 0.840).
Effect of Extreme ENSO and IOD on the Variability of Chlorophyll-a and Sea Surface Temperature in the North and South of Central Java Province Kunarso Kunarso; Dwi Haryo Ismunarti; Azis Rifai; Bayu Munandar; Anindya Wirasatriya; Raden Dwi Susanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 28, No 1 (2023): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.28.1.1-11

Abstract

Chlorophyll-a (chl-a) and Sea Surface Temperature (SST) are important indicators of air-sea interaction and primary productivity. It has been widely known that the variability of chl-a and SST in the waters of Central Java Province (CJP) is influenced by the monsoonal cycle. Previous studies did not clearly describe the variability of chl-a and SST when compared to other cycles. This present study investigated the variability of chl-a and SST influenced by monsoonal cycles, IOD, and ENSO in both CJP waters. Our analysis is based on satellite observations and uses daily data to compile climatological data. The analysis found differences between the variability of chl-a and SST during the monsoonal cycle and ENSO-IOD extreme conditions. During the monsoonal cycle, the maximum (minimum) chl-a (SST) in northern CJP is 0.7 mg.L-1 (28.5ºC) is observed in the West Monsoon, and in the southern CJP is 1.5 mg.L-1 (25.5ºC) is observed in the East Monsoon. In addition, the analysis reveals that the ENSO and IOD extremes do not clearly alter the variability of chl-a and SST in the northern CJP. However, ENSO and IOD extremes have clearly altered the variability of chl-a and SST in the southern CJP. The highest impact to variability of chl-a and SST occurred during IOD+ extreme (2019), where the range of value chl-a (SST) in south CJP is 0,35–4,57 mg.L-1 (23,29 – 30,49ºC). The value of chl-a (SST) is greater than 4 mg.L-1 (less than 24ºC) are observed in the east monsoon. It is caused by the intensity of lifting the mass of water from deeper waters to the sea surface, which possibly supplies the nutrients in the surface waters. The result of the investigation showed that the increasing of chl-a and decreasing of SST in the northern CJP dominant by monsoonal cycle and southern CJP dominant by monsoonal cycle and ENSO – IOD. 
Prediksi Perubahan Garis Pantai Di Pantai Tanjung Lesung, Kec. Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten (Studi Kasus: 2022-2047) Maria Kurniawati Lena Liwun; Aris Ismanto; Elis Indrayanti; Bayu Munandar; Hendry Siagian
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i2.50149

Abstract

Pantai Tanjung Lesung merupakan proyek strategis nasional yang menjadi potensi wisata pantai untuk perkembangan perekonomian Provinsi Banten. Kerusakan daerah pesisir telah terjadi dari tahun ke tahun di wilayah ini. Kondisi ini perlu dilakukan mitigasi untuk mengurangi resiko rusaknya infrastruktur dan sangat mengganggu permukiman, pariwisata, dan aktivitas masyarakat yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi perubahan garis pantai di Pantai Tanjung Lesung yang terjadi dalam 25 (2002 – 2047) tahun yang akan datang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan pengembangan wisata pantai dengan mencegah terjadinya abrasi dan akresi di titik-titik krusial. Pemodelan perubahan garis pantai pada penelitian ini, menggunakan modul LITLINE, salah satu modul utama dari LITPACK dari MIKE 21. Pengumpulan data dilakukan dengan survey lapangan dan pengambilan data dari instansi terkait. Analisis hasil model perubahan garis pantai di Pantai Tanjung Lesung, Kab. Pandeglang menunjukkan potensi terjadinya proses abrasi dan akresi untuk 25 tahun ke depan. Selama 25 tahun dari tahun 2022 – 2047 garis pantai Tanjung Lesung mengalami abrasi sebesar 48.69 m dan akresi sebesar 51,7 m. Nilai rata – rata perubahan garis pantai adalah 11,5 dan 11,75 pada kejadian abrasi dan akresi secara berurut. Akumulasi akresi dengan kala periode 5 tahun hingga 2047 di daerah teluk adalah sebesar 61,65 m, sedangkan akumulasi abrasi dengan kala periode 5 tahun hingga 2047 adalah sebesar 72,49 m.   Tanjung Lesung Beach is a national strategic project that becomes a potential for coastal tourism for the economic development of Banten Province. Damage to coastal areas has occurred from year to year in this region. This condition needs to be mitigated to reduce the risk of infrastructure damage and greatly disrupt settlements, tourism, and other community activities This study aims to predict shoreline changes at Tanjung Lesung Beach that will occur in the next 25 (2002–2047) years.. The results of this study are expected to be considered in planning the development of coastal tourism by preventing abrasion and accretion at crucial points. The modeling of shoreline changes in this study uses the LITLINE module, one of the main modules of LITPACK from MIKE 21. Data collection is carried out by field surveys and data collection from relevant agencies. Analysis of the results of the model of shoreline change at Tanjung Lesung Beach, Pandeglang district shows the potential for abrasion and accretion processes for the next 25 years. For 25 years, from 2022 to 2047, the Tanjung Lesung coastline experienced 48.69 m of abrasion and 51.7 m of accretion. The average value of shoreline change is 11.5 and 11.75 for accretion and sedimentation events, respectively. The accumulation of accretion with a period of 5 years to 2047 in the bay area is 61.65 m, while the accumulation of abrasion with a period of 5 years to 2047 is 72.49m.
Pelatihan Pengamatan Kondisi Terumbu Karang Menggunakan Metode Reef Check di Taman Nasional Taka Bonerate, Sulawesi Selatan Hanityo Adi Nugroho; Muhammad Yusuf; Aulia Seto Sandhi Sanova; Aditano Yani Retawimbi; Bayu Munandar; Elsa Lusia Agus
Journal of Community Development Vol. 5 No. 1 (2024): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v5i1.245

Abstract

Taman Nasional Taka Bonerate (TNTB) merupakan kawasan konservasi yang mempunyai ekosistem asli pesisir dan dikelola dengan sistem zonasi. Sistem ini bertujuan untuk kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Beberapa ekosistem pesisir yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan wisata diantaranya adalah terumbu karang dan Lamun. Kegiatan ini bertujuan untuk pelatihan pengamatan kondisi terumbu karang sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem taman nasional. Kegiatan ini meggunakan metode reef check, dimana metode ini merupakan yang paling efektif dalam pemantauan terumbu karang. Keunggulan metode ini yaitu mudah dilakukan, tetapi memiliki hasil yang detail untuk pengelolaan kawasan terumbu karang. Metode ini telah terstandarisasi internasional dan dikenal dengan EcoDiver. Kegiatan dilaksanakan tanggal 28-29 November 2023 di Pulau Tarupa, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Peserta kegiatan adalah masyarakat dan karang taruna Pulau Tarupa, Balai TNTB dan mahasiswa Undip. Kegiatan terbagi menjadi 2 sesi, hari pertama pelatihan di ruang dan hari ke-2 pelatihan di laut. Materi pelatihan yaitu pengenalan metode reef check, pemilihan lokasi pendataan, identifikasi indikator ikan, identifikasi indikator substrat, dan identifikasi indikator invertebrata. Simulasi pendataan pertama dilakukan di darat dengan menggelar line transect sepanjang 100 m, kemudian line transect di bagi 4 segmen pendataan dengan jeda 5 m. Selanjutnya peserta melakukan simulasi pendataan kedua di pantai pulau Tinabo besar mengunakan peralatan selam. Simulasi ini peserta dibagi menjadi 2 tim berdasarkan 2 kedalaman pendataan terumbu karang yaitu kedalaman 2-6 m dan 6-12 m. Kegiatan ini telah meningkatkan pengetahuan masyarakat dan stackholder terkait tentang pemantauan kondisi ekosistem terumbu karang, khususnya di TNTB.