Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Shallow Water Depths Mapping Using ALOS "“ AVNIR Satellite Imagery at Pari Islands, Seribu Archipelago, Jakarta Sanova, Aulia Seto Sandi; Saputro, Siddhi; Helmi, Muhammad
Jurnal Laut Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2018): February
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lkuntan.v1i1.23987

Abstract

Pari Island has wide shallow water area. Very shallow condition mapping method need more time.satelite remote sensing technology now can be to use mapping shallow water area faster and easier. Aims of this research are mapping the shallow water area and knowing ALOS-AVNIR satellite imagery abilities.This research was done at May "“ July 2009 and the field survey was done at Pari Island  June 8th "“ 22nd 2009. Materials that use acquired 30th April 2008 ALOS-AVNIR satellite imagery and water depth data. This research was using descriptive method. Jupp 1988 method was use to classify the imagery. Water depth data was captured by Echosounder and measure stick.Classification of shallow water depth resulted 5 classes of depth generally, Those depth classes are 0"“0.5 m, 0.5"“1m, 1-3 m, 3-5m, 5-10m, and 10m. Accuration test showed that ALOS-AVNIR satellite imaging acquired 30th April 2008 able to result a good information of shallow water depth.
TUTUPAN LAMUN Thalassia hemprichii DI PERAIRAN DUSUN KARANG UTARA, PULAU LEMUKUTAN, KABUPATEN BENGKAYANG, KALIMANTAN BARAT Dwi Gusmalawati; Aulia Seto Sandhi Sanova
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 2, No 3 (2018): JFMR VOL 2 NO 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.446 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.7

Abstract

Ekosistem padang lamun merupakan habitat bagi ikan dan biota perairan lainnya.  Berbagai jenis penyu juga menjadikan daerah padang lamun sebagai daerah mencari makan, khususnya di perairan Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Tutupan lamun, khususnya jenis Thalassia hempricii di perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan belum diketahui. Data mengenai tutupan lamun ini akan dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan wilayah perairan tersebut. Penelitian dilakukan pada 4 stasiun di perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Stasiun pengamatan memiliki panjang 50 m tegak lurus terhadap garis pantai. Setiap stasiun dibagi menjadi 5 plot transek. Pemilihan plot transek dilakukan dengan metode purposive random sampling. Transek kuadrat yang digunakan adalah berukuran 1 x 1 m dengan setiap pixelnya berukuran 20 cm x 20 cm. Hasil nilai rata-rata persentase tutupan lamun pada stasiun 1, 2, 3 dan 4 adalah 2,68%; 2,34%, 11,4% dan 9,8% secara berurutan. Kondisi persentase tutupan lamun Thalassia hempricii di Perairan dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan ini termasuk dalam kategori sedikit. Parameter fisika-kimia air laut di Perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan adalah arus 0,2 m/s, suhu 30,5oC, salinitas 32o/oo , kedalaman 0,5-1 m, dan pH 8,5.
TUTUPAN LAMUN Thalassia hemprichii DI PERAIRAN DUSUN KARANG UTARA, PULAU LEMUKUTAN, KABUPATEN BENGKAYANG, KALIMANTAN BARAT Gusmalawati, Dwi; Sanova, Aulia Seto Sandhi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 2 No. 3 (2018): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2018.002.03.7

Abstract

Ekosistem padang lamun merupakan habitat bagi ikan dan biota perairan lainnya.  Berbagai jenis penyu juga menjadikan daerah padang lamun sebagai daerah mencari makan, khususnya di perairan Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Tutupan lamun, khususnya jenis Thalassia hempricii di perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan belum diketahui. Data mengenai tutupan lamun ini akan dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan wilayah perairan tersebut. Penelitian dilakukan pada 4 stasiun di perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Stasiun pengamatan memiliki panjang 50 m tegak lurus terhadap garis pantai. Setiap stasiun dibagi menjadi 5 plot transek. Pemilihan plot transek dilakukan dengan metode purposive random sampling. Transek kuadrat yang digunakan adalah berukuran 1 x 1 m dengan setiap pixelnya berukuran 20 cm x 20 cm. Hasil nilai rata-rata persentase tutupan lamun pada stasiun 1, 2, 3 dan 4 adalah 2,68%; 2,34%, 11,4% dan 9,8% secara berurutan. Kondisi persentase tutupan lamun Thalassia hempricii di Perairan dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan ini termasuk dalam kategori sedikit. Parameter fisika-kimia air laut di Perairan Dusun Karang Utara, Pulau Lemukutan adalah arus 0,2 m/s, suhu 30,5oC, salinitas 32o/oo , kedalaman 0,5-1 m, dan pH 8,5.
Coral Reef Substrate Coverage in Taka Bonerate National Park Sanova, Aulia Seto Sandhi; Nugroho, Hanityo Adi; Mahardini, Angka; Agus, Elsa Lusia; Rahman, Saleh; Sutanto, Steven; Retawimbi, Aditano Yani
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 1 (2025): Januari - Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i1.8575

Abstract

Coral reef monitoring using Reef Check Method has been widely applied for conservation acts due to its handy protocols. This study aims to evaluate the coral reef conditions in the zonal areas of Taka Bonerate National Park by analyzing the substrate composition of its waters. Conducted in November 2023 using the Reef Check method, the research focused on four stations: Tinabo Besar, Tinabo Kecil, Tinanja, and Taka Lasalimu. The substrate composition was categorized into living and non-living substrates at depths of 5 and 10 meters. At 5 meters depth, the highest percentage of living substrate cover, specifically hard coral (HC), was recorded at Tinanja (74%), while the highest non-living substrate cover, dead coral/rubble (RB), was observed at Tinabo Kecil (38%). At 10 meters depth, Tinanja again showed the highest living substrate cover (HC, 40%), whereas Tinabo Kecil had the highest non-living substrate cover (RB, 41%). The findings indicate that the coral reef Substrate in the TBNP zonal area is in good condition, although some locations show damage suspected to be caused by environmentally unfriendly fishing practices. This can serve as a reference for the future management of coral reefs in TNTBR. Further research is needed to comprehensively complete the data on coral reef health, such as data on reef fish and associated invertebrates.
Pelatihan Pengamatan Kondisi Terumbu Karang Menggunakan Metode Reef Check di Taman Nasional Taka Bonerate, Sulawesi Selatan Hanityo Adi Nugroho; Muhammad Yusuf; Aulia Seto Sandhi Sanova; Aditano Yani Retawimbi; Bayu Munandar; Elsa Lusia Agus
Journal of Community Development Vol. 5 No. 1 (2024): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v5i1.245

Abstract

Taman Nasional Taka Bonerate (TNTB) merupakan kawasan konservasi yang mempunyai ekosistem asli pesisir dan dikelola dengan sistem zonasi. Sistem ini bertujuan untuk kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Beberapa ekosistem pesisir yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian dan wisata diantaranya adalah terumbu karang dan Lamun. Kegiatan ini bertujuan untuk pelatihan pengamatan kondisi terumbu karang sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem taman nasional. Kegiatan ini meggunakan metode reef check, dimana metode ini merupakan yang paling efektif dalam pemantauan terumbu karang. Keunggulan metode ini yaitu mudah dilakukan, tetapi memiliki hasil yang detail untuk pengelolaan kawasan terumbu karang. Metode ini telah terstandarisasi internasional dan dikenal dengan EcoDiver. Kegiatan dilaksanakan tanggal 28-29 November 2023 di Pulau Tarupa, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Peserta kegiatan adalah masyarakat dan karang taruna Pulau Tarupa, Balai TNTB dan mahasiswa Undip. Kegiatan terbagi menjadi 2 sesi, hari pertama pelatihan di ruang dan hari ke-2 pelatihan di laut. Materi pelatihan yaitu pengenalan metode reef check, pemilihan lokasi pendataan, identifikasi indikator ikan, identifikasi indikator substrat, dan identifikasi indikator invertebrata. Simulasi pendataan pertama dilakukan di darat dengan menggelar line transect sepanjang 100 m, kemudian line transect di bagi 4 segmen pendataan dengan jeda 5 m. Selanjutnya peserta melakukan simulasi pendataan kedua di pantai pulau Tinabo besar mengunakan peralatan selam. Simulasi ini peserta dibagi menjadi 2 tim berdasarkan 2 kedalaman pendataan terumbu karang yaitu kedalaman 2-6 m dan 6-12 m. Kegiatan ini telah meningkatkan pengetahuan masyarakat dan stackholder terkait tentang pemantauan kondisi ekosistem terumbu karang, khususnya di TNTB.
Estimation of R404A Refrigerant Cooling Load and System Efficiency of a Small-Scale Cold Box for Strenghten The Fisheries Cold Chain in Timbolsloko, Demak Hanityo Adi Nugroho; Samsudi R; Rubijanto JP; M. Ahnaf F; Aulia SS; Aditano YR
Vokasi UNESA Bulletin of Engineering, Technology and Applied Science Vol. 3 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya or The State University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vubeta.v3i2.40752

Abstract

The cooling system of the fishing boat is extremely crucial in maintaining the quality of the catch during storage. In this study, the system performance and cooling load are analyzed in a box of dimensions 1.8 m × 2.4 m × 1.2 m with R404A refrigerant at an evaporation temperature of -21.8°C and a condensation temperature of 37.6°C. Total daily cooling load is 15.504 kWh, which includes heat transmission load of 5.653 kWh, product load of 6.656 kWh, internal load of 0.542 kWh, equipment load of 1.61 kWh, and infiltration load of 1.043 kWh. System performance by pressure-enthalpy (P-h) analysis provides actual Coefficient of Performance (COP) as 4 with 94% refrigeration efficiency. The 100 mm polyurethane insulation utilized are enhance energy efficiency and environmental sustainability. This cooling system design was found to be optimal for maintaining the box temperature at -20°C with high efficiency, serving to benefit the small-scale fisheries sector under tropical conditions.
PENYADARTAHUAN MASYARAKAT TERHADAP PERAN EKOLOGIS AKAR BAHAR SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG BERBASIS MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Aulia Seto Sandhi Sanova; Aditano Yani Retawimbi; Angka` Mahardini; Mualim Tahar; Muhammad Najwan Kamil; Muhammad Yusuf; Nenik Kholilah
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 7 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i7.3981

Abstract

The success of coral reef ecosystem conservation depends heavily on the active participation of local communities as key stakeholders. Black coral is crucial for providing habitat for numerous marine species, but is vulnerable to human exploitation due to its slow growth. Although Indonesia has legal protection for black coral, its commercialization as a souvenir continues unchecked in Karimunjawa National Park, primarily due to low public awareness. This community service activity aimed to increase understanding of black coral ecology, its vulnerability, and population status, while also fostering dialogue among community members to promote conservation adherence. The approach used included field surveys, stakeholder coordination, oral presentations, and focus group discussions (FGDs) with 15 participants from diverse backgrounds in Karimunjawa. The program's effectiveness was assessed through pre- and post-tests, demonstrating a significant increase in knowledge—from 57% correct answers initially to 92% after the intervention. Participants also expressed their hopes for addressing conservation issues in their communities. Overall, targeted education proved effective in raising awareness, laying the foundation for community-led ecosystem protection. This deeper understanding is expected to strengthen future marine conservation efforts.