Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ALLELOPATHY EFFECT OF Ageratum conyzoides LEAVES AND Imperata cylindrica ROOTS ON SEED GERMINATION AND PLANT GROWTH OF MUNG BEANS Utari, Nofi; Anisah, Siti Nur; Krisdianto, Krisdianto; Sulistijorini, Sulistijorini
Media Pertanian Vol 10, No 1 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i1.14370

Abstract

Ageratum conyzoides, and Imperata cylindrica  are cosmopolite weeds in agricultural land that can reduce the productivity of cultivated plants. This study aims to analyze the effect of A. conyzoides  leaves biomass and I. cylindrical former plant media on the percentage of germination and growth of mung beans (Vigna radiata). The research was conducted by making 3 (three) replications of each Treatment. Treatment A (application of A. conyzoides  leaf biomass to the planting media), Treatment B (used I. cylindrica planting media), and Control Treatment. Anova test and Tukey HSD test were conducted using R-Studio. The results showed that Treatments (A) and (B) reduced the success of mung bean germination compared to the control (97%), with A at 60% and B at 50%. The changes in leaf number and root length are very noticeable compared to plant height.  The allelopathic effect was stronger in A than B. Biomass of A. conyzoides  and used media of I. cylindrica has the potential to inhibit germination and early growth of mung beans.
Fauna Asosiasi Kerang Lampu (Lingula spp.) di Perairan Kalimantan Timur Rakmawati, Rakmawati; Umam, Hairul; Utari, Nofi
Bioed : Jurnal Pendidikan Biologi Vol 13, No 2 (2025): Bioed : Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jpb.v13i2.21291

Abstract

Kerang lampu merupakan salah satu fauna penyusun ekosistem perairan intertidal. Kerang lampu merupakan anggota filum Brachiopoda, yang juga dikenal sebagai tauge laut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fauna intertidal yang berasosiasi langsung dengan kerang lampu di perairan Kalimantan Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling di perairan Pantai Pendopo, Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggali substrat pada area plot sedalam 5-10 cm menggunakan garpu pancing. Spesimen yang diperoleh kemudian diawetkan menggunakan alkohol 70%. Identifikasi, analisis, dan deskripsi spesimen dilakukan di Laboratorium Biosistematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lambung Mangkurat. Analisis jenis substrat (komponen substrat) dilakukan di Laboratorium Ekologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lambung Mangkurat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan delapan spesies fauna intertidal yang berasosiasi langsung dengan kerang lampu. Kedelapan spesies ini berasal dari enam famili yang berbeda, yaitu famili Arcidae, Veneridae, Oxudercidae, Muricidae, Balanidae, dan Holothuriidae.
Penerapan Demplot Talas (C. esculenta) Berbasis Permakultur sebagai Upaya Penguatan Ketahanan Pangan di Desa Hinas Kiri Gunawan; Utari, Nofi; Sasi Gendro Sari; Krisdianto
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (MEDITEG) Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (MEDITEG)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/mediteg.v10i2.382

Abstract

Program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Hinas Kiri, Pegunungan Meratus, telah berlangsung sejak 2017 dengan melibatkan masyarakat Dayak Meratus sebagai mitra utama. Kegiatan ini berfokus pada solusi terhadap degradasi lahan akibat praktik tebang-bakar dan rendahnya pendapatan dari ladang berpindah. Pendekatan yang diterapkan adalah Model Permakultur Talas, yang mengombinasikan Talas (Colocasia esculenta) dengan pohon lokal seperti Meranti, Sengon, Kopi, Kelor, Bambu, dan Karet melalui teknik Miyawaki. Rangkaian kegiatan meliputi perancangan agroforestri partisipatif, rehabilitasi lahan, pelatihan petani, serta pemantauan aspek ekologi dan ekonomi. Hasil implementasi menunjukkan peningkatan tutupan vegetasi hingga ±35% per musim, kenaikan bahan organik tanah sebesar 50% dalam tiga tahun, serta peningkatan indeks keanekaragaman hayati dari H’ = 1,2 menjadi H’ = 2,8. Secara ekonomi, sistem memberikan pendapatan stabil dengan tren kenaikan ±2% per tahun, mencapai titik impas pada tahun ketiga, ROI ±300% pada tahun kedelapan, serta kontribusi mitigasi iklim melalui penyerapan 5–12 ton CO₂/ha/tahun. Sebagai inovasi, model ini menawarkan pendekatan yang dapat di replikasi di daerah lain dengan karakteristik ekologis dan sosial yang serupa, memberikan potensi untuk skala yang lebih luas dalam upaya rehabilitasi lahan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis agroforestri berkelanjutan.