Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PENGUATAN WAWASAN PARA GURU MADRASAH IBTIDAIYAH AL-WATHONIYAH TENTANG STRATEGI MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA Adlan Fauzi Lubis; Muhammad Hilali Basya
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknik Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknik (JPMT)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jpmt.2.2.71-76

Abstract

Program Pengabdian Masyarakat ini berdasar dari adanya sebuah permasalahan, yaitu minimnya pengetahuan para guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Wathoniyah tentang strategi meningkatkan minat baca siswa.  Rendahnya minat baca siswa disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya: 1) metode belajar yang menekankan kemampuan menghafal; 2) tidak memiliki sarana perpustakaan yang memadai; dan 3) minimnya jenis buku yang dapat membangkitkan minat baca siswa. Berdasarkan beberapa hal tersebut, para guru membutuhkan strategi yang inovatif dalam meningkatkan minat baca anak didik. Pengabdian masyarakat ini bertujuan: 1) memperkaya wawasan para guru tentang metode belajar yang dapat mendorong siswa memiliki rasa ingin tahu dan minat untuk membaca beraneka macam buku; 2) memperkaya wawasan para guru tentang manajemen perpustakaan dan jenis-jenis buku yang bisa membangkitkan minat baca di kalangan siswa tingkat Madrasah Ibtidaiyah atau sekolah tingkat dasar (SD); 3) mendorong MI Al-Wathoniyah, khususnya para guru, untuk merumuskan strategi dalam meningkatkan minat baca siswa. Metode pelaksanaan pengabdian ini dibagi menjadi tiga tahapan; yaitu pendekatan terhadap mitra, partisipasi mitra, dan evaluasi dan keberlanjutan program pasca pelaksanaan pengabdian ini. Adapun hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah adannya keinginan dari para guru untuk menciptakan sistem dan suasana yang kondusif dalam menumbuhkan antusiasme siswa dalam membaca. Di samping itu, para guru juga menyadari pentingnya membiasakan kepada para siswa tentang cara membaca yang efektif dan menyenangkan.
Media Sosial dan Pergulatan Masyarakat Muslim Indonesia di Inggris: Merayakan ‘Ingatan’ tentang Tanah Air dalam Konteks ‘Lokal’ M. Hilali Basya
MAARIF Vol 13 No 1 (2018): Islam dan Media: Kontestasi Ideologi di Era Revolusi Digital
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v13i1.10

Abstract

Semakin meningkatnya teknologi komunikasi membuat cara berinteraksi masyarakat dan otoritas keilmuan mengalami pergeseran. Saat ini media sosial (medsos) seperti Facebook (FB) dan Whatsapp (WA) menjadi media yang paling sering digunakan dalam berkomunikasi, baik dalam bentuk percakapan singkat maupun diskusi yang mendalam. Meskipun percakapan secara langsung (face to face) antar individu dan diskusi dalam forum masih tetap terjadi, namun aktifitas semacam ini mengalami peningkatan dalam dunia maya terutama melalui FB dan WA. Konsekuensinya, sebuah diskusi yang sebelum dominasi medsos hanya melibatkan narasumber atau komentator secara terbatas dan sesuai dengan keahliannya, saat ini bisa menempatkan siapapun berada dalam posisi tersebut. Semua orang, termasuk yang awam sekalipun, bisa menjadi narasumber yang sepertinya sangat memahami sebuah topik. Artikel ini mengkaji tentang bagaimana masyarakat Muslim Indonesia di Inggris menggunakan medsos. Sebagian besar dari mereka adalah dosen, aktifis, ulama muda, birokrat, dan lain-lain yang sedang menempuh pendidikan tingkat S2 atau S3. Hidup dalam nilai-nilai, norma, dan kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat Inggris yang tentu saja memiliki perbedaan dengan di Indonesia menjadi konteks sosial yang menarik untuk dikaji. Fokus yang ingin dijelaskan dalam artikel ini adalah bagaimana pengaruh konteks sosial tersebut terhadap cara masyarakat Muslim Indonesia di Inggris menggunakan media sosial.
Populisme Islam, Krisis Modal Sosial dan Tantangan Terhadap Demokrasi: Refleksi Pemilu 2019 M. Hilali Basya
MAARIF Vol 14 No 1 (2019): Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi Islam di Indonesia Pasca-Pilpres
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v14i1.48

Abstract

Gerakan masif yang memprotes dan menolak hasil Pemilu 2019 di Indonesia mengindikasikan adanya ketidakpercayaan politik (political distrust) terhadap kedua lembaga Pemilu, yaitu KPU dan Bawaslu, dan Pemerintah. Sebagian besar dari kelompok yang menyuarakan penolakan tersebut terhubung dalam identitas yang sama, yang menekankan kecintaan terhadap agamanya dan perasaan termarjinalisasi. Apa makna ketidakpercayaan tersebut dalam konteks gerakan Islam kontemporer dan negara demokrasi adalah fokus utama artikel ini. Artikel ini berupaya untuk mendiskusikan populisme Islam dalam pemilu 2019 yang secara khusus akan mengeksplorasi bagaimana dan mengapa populisme Islam tumbuh di masa pasca Orde Baru—terutama di Pemilu 2019—, seperti apa karakternya, dan bagaimana dampaknya terhadap masa depan demokrasi di Indonesia.
Political Distrust and Islamic Populism: Study on Tarbiyah Community in Pemilu 2019 Muhammad Hilali Basya
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.433 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i1.4987

Abstract

This article aims to describe the extent to which Tarbiyah community distrust to the General Elections Committee (KPU) and the Indonesian government as well as factors causing this political distrust. Massive movements protesting and rejecting the result of the Pemilu (General Election) 2019 by supporters of one of the presidential candidates, Prabowo Subianto, were launch when the General Elections Committee (KPU) announced the victory of the incumbent, Joko Widodo. One of the most dominant groups involved in these protests was Tarbiyah community. The method used in this study is qualitative research method by conducting in-depth interviews of Tarbiyah members. The study found that political distrust among them is a symptom of Islamic populism. The Islamic populism imagines itself as the movement that can save Indonesian Muslims from corrupt elites.Artikel ini berupaya menjelaskan sejauh mana ketidakpercayaan politik di kalangan komunitas Tarbiyah terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pemerintah serta faktor-faktor yang menyebabkannya. Gerakan masif yang memprotes dan menolak hasil Pemilu 2019 muncul di kalangan pendukung Prabowo Subianto (salah satu calon Presiden) ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil Pemilu yang menegaskan kemenangan petahana, Joko Widodo (Presiden Indonesia pada periode 2014-2019). Salah satu kelompok yang paling dominan terlibat dalam protes ini adalah komunitas Tarbiyah. Studi yang menggunakan metode kualitatif ini mewawancarai secara mendalam anggota Tarbiyah. Studi ini menjelaskan bahwa ketidakpercayaan politik di kalangan komunitas Tarbiyah merupakan gejala populisme Islam. Populisme Islam mengimajinasikan dirinya sebagai gerakan yang berusaha menyelamatkan Muslim Indonesia dari para elit yang korup. 
Hadits sebagai Sumber Hukum Islam Menurut Orientalis Anwar Rizqi; Hilali Basya; Lukmanul Hakim; Saiful Bahri; Sopa Sopa
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 6 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i6.2690

Abstract

This study aims to determine Joseph Schacht’s thoughts on hadith as Islamic law and to determine the influence of Joseph Schacht’s thoughts on Islamic law. Schacht is one of the orientalists who has a significant influence in the study of Islamic studies, especially regarding the authenticity of hadith. He argues that most of the hadith circulating today are products of the second and third centuries of Hijriah, not directly from the Prophet Muhammad SAW. The research method used is a qualitative method with a historical-critical approach. The main data sources are the works of Joseph Schacht, especially his books and articles that discuss the status of hadith in Islamic law. This study also includes a literature review of the responses and criticisms of contemporary Islamic scholars towards Schacht’s views. The data are analyzed to identify Schacht’s main arguments, as well as how these views influence the methodology of modern Islamic law studies. The results of the study show that Schacht argues that hadith is more of a recording of an oral tradition that developed after the death of the Prophet Muhammad SAW. According to him, the process of collecting, distributing, and verifying hadith was often influenced by social and political factors at the time, raising doubts about the authenticity and reliability of hadith as a source of law. Its influence was not only limited to academics, but also influenced the public’s view of the importance of historical criticism in understanding the intellectual heritage of Islam. This study emphasizes the importance of a more critical and balanced approach in the study of Islamic law, which can help develop interpretations that are more relevant to contemporary demands and values.
Cultural capital, Islamism, and political distrust in Indonesia General Election: an ethnicity-based community engaged in Islamic Defenders Front (FPI) Basya, Muhammad Hilali; Hamka, Hamka
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 13, No 2 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v13i2.253-277

Abstract

Although there have been many studies investigating Islamist movements andtheir views concerning the relationship between Islam and politics, very rarestudies examining the ways particular ethnicity-based Islamist group invent andrevitalize their cultural capital in dealing with Islamism. Based on the case of therole of FPI (the Islamic Defenders Front) group in Jakarta rejecting the resultof Pemilu 2019 (Indonesian General Election), this study aims to investigatethe way a young Batavian community that is engaged in the FPI (a semi radicalIslamist organization) interpret their Batavian values and tradition in dealing with Islamism. This research uses a case study approach that investigates culturalcapital and its influence to a young Batavian community joining the FPI. Thisstudy relies more on in-depth interviews with the members as well as observation.Based on the fieldwork this article shows that tension in national political levelin Pemilu 2019 which polarized society had encouraged these young Batavians tobe engaged in an organization connecting them to wider Islamic groups. Insteadof Muhammadiyah or Nahdatul Ulama (NU), their cultural capital is moresupportive encouraging them to be engaged with the Islamic Defenders Front(FPI). Through this engagement in FPI and participation in political distrustrejecting the result of Pemilu 2019 they were not only involved with nationalissues, but also local issues dealing with their domination as an indigenous groupliving in an urban area.
Muhammadiyah’s Fatwa about Hewan Kurban in 2005: A Study on Muhammadiyah’s Method in Producing Fatwa Muhammad Hilali Basya
Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies Vol. 15 No. 1: June 2019
Publisher : Fakultas Studi Islam dan Peradaban, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/AIIJIS.2019.0093.14-31

Abstract

The Majelis Tarjih of Muhammadiyah had issued a fatwa about hewan kurban (slaughtered animal for ‛Id al-Adha) in 2005. The fatwa asked Muslims to prioritize their money to support and aid sufferers of natural disaster in in Aceh and other places. The fatwa is controversial, because it produces new form of ‛Idul Adha. This article aims to explore the method used by the Majelis Tarjih in issuing the fatwa.
Implementation of The MUI’s Fatwa No.14/2020 Concerning Worship During Pandemic: Study on Muslim Society in Ternate Jenjang Waldiono; Muhammad Hilali Basya
Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies Vol. 17 No. 2: December 2021
Publisher : Fakultas Studi Islam dan Peradaban, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/afkaruna.v17i2.12835

Abstract

This article describes how Muslims deal with fatwa through examining the extent to which Muslims in Ternate (North Maluku) respond to MUI’ fatwa concerning the application of ibadah (worship) during the Covid-19 (Coronavirus) pandemic. In order to control and prevent the infection of the virus widely, people are required to stay at home and to keep their distance from crowds, including attending congregational worship (shalat jamaah) in mosques as issued in the MUI’s fatwa. The fieldwork was conducted in Ternate between March-May 2021, using qualitative research methods through participatory observation and interview. This article shows that the obedience of Muslim society in Ternate to the MUI’s fatwa is not only determined by aspects of the religious authority of the MUI, but also by local government, local religious leaders, and pragmatic considerations of the society as well as their perception about the dangerous impact of the Covid-19.