Sinaga, Hasanuddin
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DOSA DALAM PRESPEKTIF ISLAM DAN KRISTEN Sinaga, Hasanuddin; Aminullah, Muhammad
Tajdid Vol 8 No 1 (2024): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v8i1.2728

Abstract

Kajian ini bertujuan ini mengetahui tentang konsep dosa dalam ajaran Kristen dan Islam. Kajian ini juga mencoba membandingkan antara konsep dan pemahaman dosa dalam al-Qur’an dan Al-Kitab sehingga mendapatkan pemahaman yang utuh tentang kajian tersebut. Dalam Kristen dosa adalah salah satu ajaran pokok yang wajib diyakini karena berhubungan dengan kelahiran Yesus sebagai anak Tuhan yang hadir sebagai penyelamat umat manusia, dan berkaitan juga dengan pengorbanan Yesus di tiang salib sebagai penebusan atas dosa asal manusia yang diakibatkan oleh perbuatan Adam dan Hawa. Sedangkan dalam Islam, konsep dosa dipandang sebagai perbuatan yang menjadi tanggung jawab secara individu oleh setiap manusia langsung kepada Tuhannya. Terdapat perbedaan yang signifikan antara dosa dalam Islam dan Kristen, namun dosa menjadi sebuah titik dimana manusia menyesali segala perbuatan dosa dan dibuktikan dengan perubahan yang lebih baik.
Di Balik Tradisi Kitab Kuning Pesantren: Memverifikasi Otentisitas Hadis dalam Syarah Tijāni Al-Darārī Sinaga, Hasanuddin; Zakiyah, Aulia; Mahdi, Fahrizal
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v11i1.48313

Abstract

Penelitian ini menelaah kembali otentisitas sebelas hadis yang dikutip Syekh Muḥammad Nawawī al-Jāwī dalam Syarah Tijāni ad-Darārī. Melalui metode studi pustaka dan teknik takhrīj al-ḥadīth, setiap riwayat ditelusuri sumbernya. Hasilnya, sembilan kutipan sesuai dengan redaksi induk, sedangkan dua (hadis ke-3 dan ke-9) mengalami pergeseran lafaz. Dari sisi kualitas sanad, empat hadis terjamin oleh Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim; tiga sanad lainnya (hadis ke-7, 8, 9) dinilai ṣaḥīḥ di luar Ṣaḥīḥayn; satu sanad (hadis ke-3) tergolong ḍaʿīf; dan tiga hadis hanya ditemukan pada kitab non-kanonik. Temuan ini menegaskan bahwa literatur kuning memuat kombinasi dalil kuat dan riwayat lemah, sehingga verifikasi selektif perlu dilakukan sebelum dijadikan hujjah akidah.
ETIKA SEBAGAI DASAR PENDIDIKAN ISLAM: PERBANDINGAN PENDEKATAN RASIONAL IBN MISKAWAYH DAN VISI SPIRITUAL AL-GHAZALI Khoir, Ummul; Sinaga, Hasanuddin
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 9 No 2 (2025): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v9i2.5346

Abstract

Etika memiliki posisi fundamental dalam pendidikan Islam, karena ia menjadi landasan pembentukan karakter, pengembangan intelektual, serta orientasi spiritual peserta didik. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji secara komparatif pandangan Ibn Miskawayh dalam Tahdzīb al-Akhlāq dan Al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ʿUlūm al-Dīn mengenai peran etika dalam pendidikan Islam. Ibn Miskawayh menekankan pendekatan rasional yang berakar pada filsafat Yunani, khususnya Aristotelianisme, dengan konsep keseimbangan antara potensi akal, amarah, dan syahwat sebagai dasar pembentukan akhlak. Pendidikan menurutnya diarahkan untuk melatih jiwa melalui pembiasaan dan pengendalian diri, sehingga menghasilkan individu yang berkepribadian seimbang serta mampu berkontribusi dalam kehidupan sosial. Sementara itu, Al-Ghazālī mengedepankan visi spiritual yang memadukan fikih, tasawuf, dan teologi. Etika dalam Iḥyā’ tidak hanya dipahami sebagai upaya rasional, tetapi juga sebagai proses tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) yang berorientasi pada kedekatan dengan Allah. Pendidikan baginya harus menumbuhkan keikhlasan, kesadaran ibadah, serta keseimbangan antara pengetahuan dan amal. Tujuan akhir pendidikan menurut Al-Ghazālī bukan sekadar kebahagiaan duniawi, melainkan kebahagiaan ukhrawi. Melalui perbandingan ini, terlihat bahwa pemikiran Ibn Miskawayh menawarkan dimensi rasional-filosofis yang relevan dengan pembinaan etika sosial, sementara Al-Ghazālī menghadirkan dimensi religius-spiritual yang menekankan keselamatan akhirat. Integrasi keduanya memberikan kontribusi penting bagi pengembangan konsep pendidikan Islam yang utuh, mencakup akal, moral, dan spiritualitas.
Sumber-Sumber Tafsir Al-Qur’an dari Masa ke Masa: Pemetaan Riwayah, Dirayah, Isyarah, dan Isra’iliyyat Sinaga, Hasanuddin
Jurnal Ilmiah Guru Madrasah Vol 4 No 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jigm.v4i2.80

Abstract

The sources of Qur’anic interpretation refer to the references used to understand the meanings of the verses, both as explanatory tools and as comparative frames in the process of exegesis. Differences in the use of these sources have contributed to the diversity of interpretive approaches and exegetical products throughout Islamic history, without implying that any single interpretation is absolute. This article employs a descriptive and analytical library-based approach to map four major sources of Qur’anic interpretation discussed in the literature, namely al-riwāyah (transmitted reports), ad-dirāyah (al-ra’y or rational reasoning), al-isyārah (intuitive or allusive interpretation), and isrā’īliyyāt (narratives originating from the Ahl al-Kitāb tradition). The analysis shows that al-riwāyah maintains the connection between interpretation and early authoritative traditions, ad-dirāyah expands exegetical engagement through scholarly reasoning and methodological tools, al-isyārah enriches the ethical and spiritual dimensions of interpretation as long as it does not negate the outward meaning of the text, and isrā’īliyyāt is generally treated in a limited manner as supplementary narrative material subject to strict scrutiny. This mapping indicates that the dynamics of Qur’anic interpretation are shaped by the complementary interaction of these sources in response to changing historical and intellectual contexts.