Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis Proyek (Project-Based Learning) untuk Mengakomodasi Kekhasan Potensi Daerah dalam Pendidikan Kesetaraan Paket C Okta Rosfiani; Cecep Maman Hermawan; Tanti Sri Kuswiyanti; Devanita Novia Ardana
Jurnal Pendidikan Transformatif (jupetra) Vol. 5 No. 6 (2026): Oktober 2026
Publisher : Yayasan Aya Sophia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/jupetra.v5i6.2363

Abstract

Penelitian ini berangkat dari persoalan mendasar kesetaraan pendidikan Paket C, yaitu ketidaksesuaian kurikulum dengan kekhasan dan potensi lokal yang berakibat pada rendahnya relevansi pembelajaran, dominasi metode yang berpusat pada guru, dan kecenderungan hilangnya pembelajaran. Tujuan penelitian adalah dan menguji efektivitas Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis Proyek ( Project-Based Learning /PjBL) yang mengakomodasi kekhasan potensi daerah dalam Pendidikan Kesetaraan Paket C. Penelitian menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Partisipatorik ( Participatory Action Research /PAR) yang melibatkan tutor, peserta didik, dan pengelola PKBM sebagai mitra penuh dalam tiga tahap: persiapan partisipatif, implementasi siklus PAR (perencanaan, tindakan, observasi, refleksi), serta evaluasi dan diseminasi partisipatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, FGD, wawancara mendalam, dokumentasi produk proyek, dan lembar refleksi, kemudian dianalisis secara tematik dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) peserta didik memerlukan pembelajaran yang aplikatif untuk bekerja dan berwirausaha, tutor memerlukan dukungan metodologis untuk beralih dari pendekatan yang berpusat pada guru , dan PKBM memiliki sumber daya lokal yang belum dioptimalkan; (2) prototipe model PjBL kontekstual yang dikembangkan menempatkan potensi lokal—kerajinan tangan dan kesenian berbasis komunitas sebagai konteks pembelajaran melalui siklus PAR yang kolaboratif; dan (3) model efektif meningkatkan keterampilan abad ke-21 peserta didik (kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, dan kreativitas), motivasi serta keterlibatan peserta didik, dan kapasitas tutor dalam merancang pembelajaran berbasis lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PjBL kontekstual merupakan model yang relevan untuk memperkuat kebermaknaan kesetaraan pendidikan bagi peserta didik marginal, dan merekomendasikan penelitian lanjutan dengan siklus PAR tambahan, instrumen yang lebih terstandardisasi, serta perluasan uji coba ke PKBM dengan karakteristik potensi lokal yang beragam.
Pelatihan dan Pendampingan Penerapan Strategi Deep Learning dalam Pembelajaran Tematik bagi Guru-Guru SD Negeri dan Swasta di Wilayah Tangerang Selatan Okta Rosfiani; Cecep Maman Hermawan; Tanti Sri Kuswiyanti; Devanita Novia Ardana
Jurnal Pendidikan Transformatif (jupetra) Vol. 5 No. 6 (2026): Oktober 2026
Publisher : Yayasan Aya Sophia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/jupetra.v5i6.2370

Abstract

Pembelajaran abad ke-21 menuntut guru SD mampu merancang pembelajaran yang mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) melalui strategi Deep Learning. Namun pembelajaran tematik di SD wilayah Tangerang Selatan masih cenderung berpusat pada guru, terfragmentasi, dan terfokus pada hafalan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan praktis guru SD negeri dan swasta di Tangerang Selatan dalam menerapkan strategi Deep Learning pada pembelajaran tematik, membentuk komunitas praktisi, dan menghasilkan perangkat pembelajaran inovatif. Metode yang digunakan adalah Model Aksi Partisipatif dengan siklus perencanaan–aksi–observasi–refleksi, dipadukan dengan pendekatan training of trainers (ToT). Kegiatan dilaksanakan dalam tahap empat: pemetaan kebutuhan, intensifikasi pelatihan, pendampingan implementasi melalui coaching dan co-teaching, serta penguatan komunitas praktisi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman konsep guru tentang Deep Learning dan HOTS, perbaikan kualitas perangkat pembelajaran tematik yang dihasilkan, serta pergeseran peran guru dari penyampai materi menjadi fasilitator. Meskipun demikian, perubahan praktikum belum merata karena kendala waktu, beban administrasi, dan variasi kemampuan siswa. Terbentuknya komunitas praktisi berbasis sekolah menjadi faktor penting bagi program keinginan. Kegiatan ini mendukung SDG 4, IKU Perguruan Tinggi, Asta Cita UMJ, dan bidang fokus RIRN. Rekomendasi bagi program serupa adalah memperkuat pendampingan berkelanjutan, menyediakan instrumen asesmen HOTS yang aplikatif, dan melibatkan kepala sekolah sejak tahap perencanaan.