Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INFESTASI MONOGENEA PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DARI DESA GENUK, UNGARAN BARAT DAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) DARI KP. NGLARANG, GUNUNGPATI, JAWA TENGAH Laia, Nilam Permata; Desrina, - -; Haditomo, A.H. Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.877 KB)

Abstract

Monogenea merupakan salah satu jenis parasit yang sering menginfestasi ikan dan biasanya ditemukan di organ eksternal seperti, kulit, sirip dan insang dengan menancapkan haptor. Parasit monogenea memiliki bentuk tubuh fusiform dan haptor pada bagian posteriori dengan sejumlah kait marginal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis ikan yang tampak pada ikan nila dan ikan lele sebagai ikan uji, mengetahui nilai intensitas dan prevalensi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode random sampling dan pengamatan laboratorium. Ikan yang digunakan yaitu ikan nila dan ikan lele masing-masing sebanyak 50 ekor diambil dari kolam budidaya milik warga. Ikan nila diambil dari Genuk,Ungaran Barat dengan rerata panjang 12.72±1.89 cm dan rerata berat 14.24±2.78 g, sedangkan ikan lele diambil dari Kp. Nglarang, Gunungpati dengan rerata panjang 14.67±1.70 cm dan rerata berat 17.34±3.71 g. Pengamatan monogenea dilakukan dengan pembuatan preparat ulas (smear) yang di ambil dari insang, kulit dan sirip dengan menggunakan cover glass dan diletakkan pada slide glass yang telah ditetesi akuades, kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x, 100x dan 400x. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah monogenea yang ditemukan ada dua jenis yaitu Cichlidogyrus sp. pada ikan nila (O. niloticus) dan Actinocleidus sp. pada ikan lele (C. gariepinus). Gejala klinis yang tampak pada ikan nila yaitu sirip punggung dan sirip ekor geripis, operculum kemerahan, insang tampak pucat dan produksi lendir berlebih. Gejala klinis pada ikan lele yaitu pada tubuh terdapat ulcer atau luka, tubuh kemerahan, sirip geripis, sirip kemerahan dan produksi lendir berlebih. Nilai intensitas Cichlidogyrus sp. dan Actinocleidus sp. adalah sama, yaitu 2 ind/ekor, namun nilai prevnalensi keduanya berbeda, prevalensi Cichlidogyrus sp. yaitu 68% dan prevalensi Actinocleidus sp. yaitu 14%.Monogenea is a group of ectoparasites of fish and usually found on the skins, fins and gills with plugging the haptor. Monogenea parasitic had a fusiform body shape on the haptor at posterior with some marginal hooks. This research aims to determind the clinical symptoms of tilapia and catfish, and the intensity and prevalence of monogenea. The methods used in this research were random sampling and laboratory observation. The fish used were tilapia fish and catfish each of many as 50 tails taken from the ponds owned by residents. The tilapia was taken from Genuk, West Ungaran with average length of 12.72±1.89 cm and average weight is 14.24±2.78 g, while the catfish was taken from Kp. Nglarang, Gunungpati with average length 14,67±1,70 cm and average weight 17.34±3.71 g. The observation of monogenea was done started with preparation review (smear) taken from the gills, skin and fins using a cover glass and placed on a slide glass contained a drop of aquadest, the slides was observed under the microscope with maginification 10x, 100x and 400x. There were two monogenea found in this research namely Cichlidogyrus sp. in tilapia fish (O. niloticus) and Actinolcleidus sp. in catfish (C. gariepinus). Clinical symptoms found on tilapia were dorsal and tail fins were torn, reddish operculum, pale gills and excess mucus production. Clininal symptoms in the catfish were wound on body, reddish body, fins were torn and excess mucus production. The value of the intensity of Cichlidogyrus sp. and Actinocleidus sp. was same i.e. 2 ind/tail, however the value of the prevalence of both were different, the prevalence of Cichlidogyrus sp. i.e. 68% and the prevalence of Actinocleidus sp. i.e. 14%. 
INFESTASI Octolasmis PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) HASIL BUDIDAYA DARI DESA SURODADI, KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH Herlinawati, Annisa; Sarjito, - -; Haditomo, A.H. Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.517 KB)

Abstract

Kepiting bakau (S. serrata) memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga layak untuk dibudidayakan. Salah satu masalah pada budidaya kepiting adalah adanya parasit octolasmis. Parasit octolasmis dapat menyebabkan terganggunya sistem respirasi, penurunan bobot tubuh, kondisi inang menjadi lemah, dan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis parasit octolasmis yang menginfeksi kepiting bakau, mengetahui gejala klinis kepiting bakau yang terinfeksi parasit octolasmis, dan mengetahui nilai intensitas, prevalensi, dan dominasi parasit octolasmis. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Maret 2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi, dan metode pengambilan sampel menggunakan metode random sampling. Materi yang digunakan yaitu 100 ekor kepiting bakau yang berasal dari Desa Surodadi, Kabupaten Demak dengan panjang rerata 8,47 ± 0,53 cm dan bobot rerata 119,8 ± 25,71 g. Pengamatan parasit octolasmis dilakukan pada organ target yaitu organ insang pada kepiting bakau untuk selanjutnya diamati dibawah mikroskop. Parasit octolasmis yang telah ditemukan sebanyak dua jenis yaitu Octolasmis cor dan Octolasmis angulata. Gejala klinis pada kepiting bakau yang terinfeksi parasit octolasmis adalah insang berwarna hitam dan adanya struktur seperti kecambah pada bagian insang. Nilai intensitas intensitas (37), prevalensi (36%) dan dominasi (57,8%) dimiliki oleh parasit Octolasmis cor, sedangkan nilai intensitas (24), prevalensi (40%) dan dominasi (42,1%) dimiliki oleh parasit Octolasmis angulata. Mud crab has a high economic value so very potential feasible to be cultivated. One of the problems in the cultivation of mud crab is the presence of parasites octolasmis. The parasites can causes disruption of octolasmis respiration system, decreased body weights, condition of the host to be weak, and death. This study aimed to know parasites octolasmis that infected mud crab, the determine clinical signs of mud crab infected parasites octolasmis, and determine intensity, prevalence, and dominasi of parasites octolasmis. This research was conducted in January to March 2017. The methode used in this research is a exploratory and a random sampling methode. This research used 100 of mud crab that culture from the Surodadi Village, Demak with an average length of 8,47 ± 0,53 cm and an average weight of 119,8 ± 25,71 g. Observation parasites octolasmis gills at mud crab to be observed under a microscope. Parasites that have been found are two types, namely Octolasmis cor and Octolasmis angulata. Mud crab whose infected by parasites octolasmis have clinical signs such as the gills are black and the structure like sprouts. The intensity (37), prevalence (36%), and dominasi (57,8%) is parasites Octolasmis cor and intensity (24), prevalence (40%), and dominasi (42,1%) is parasites Octolasmis angulata.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) UNTUK MENGOBATI INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) Khaerani, Laela Rizki; Prayitno, Slamet Budi; Haditomo, A.H. Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.039 KB)

Abstract

Belimbing wuluh merupakan salah satu tanaman buah asli Indonesia dan daratan Malaya. Buah belimbing wuluh berbentuk elips hingga seperti torpedo dengan panjang 4-10 cm. Buahnya mengandung senyawa flavonoid dan triterpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak buah belimbing wuluh (A. bilimbi L.) terhadap kelulushidupan ikan mas (C. carpio) yang diinfeksi bakteri A. hydrophila. Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas (C. carpio) dengan bobot individu rata-rata 12,76±1,62 g/ekor. Ikan dipelihara selama 14 hari dengan padat tebar 1 ekor/L. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan A, B, C, dan D dengan konsentrasi masing-masing 0 ml/L, 3000 ml/L, 6000 ml/L, 9000 ml/L. Data yang diamati meliputi gejala klinis, kelulushidupan, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa hari ke-1 setelah penyuntikan bakteri A. hydrophila, ikan mas menunjukkan gejala klinis berenang pasif, borok, haemorhage, bernafas tidak teratur, warna tubuh memudar, luka dibekas suntikan, sirip gripis. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa perlakuan B, C dan D rata-rata memperlihatkan proses penyembuhan mulai dari hari ke-5 pasca perendaman. Kenaikan persentase kelulushidupan tertinggi pada perendaman ikan mas yang diinfeksi A. hydrophila menggunakan ekstrak buah belimbing wuluh ditunjukkan oleh perlakuan C sebesar 70%. Perlakuan B dan D juga memperlihatkan kenaikan persentase kelulushidupan yaitu sebesar 53,33% dan 66,67%. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan ikan mas (C. carpio). Kesimpulan yang diperoleh yaitu ekstrak buah belimbing wuluh dapat menyembuhkan infeksi bakteri A. hydrophila pada ikan mas. Star fruit is one of originally from Indonesia and Malaya lands. The shape of this fruit is ellipse such as torpedo with length up to 4-10 cm. The fruit contains flavonoid and triterpenoid. This research aimed to observe the effect of submersion of Averrhoa bilimbi on the survival of common carp (C. carpio) intra muscularly by bacteria A. hydrophila. The test fish used in this research were common carp (Cyprinus  carpio) with average individual weight 12,76±1,62 g/head. The fish were looked after reased 14 days with stocking density 1 individual/L. This research was carried out using Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 times repetition. Treatment A, B, C, and D were star fruit  extractsat concentration of 0 ml/L, 3000 ml/L, 6000 ml/L, 9000 ml/L respectively. The variable observed in this research consisted of clinical symptom, survival, and water quality. The result of the research shows that day 1 after the injection of bacteria A. hydrophila, common carp showed clinical symptoms passive swim, ulcer, haemorhage, Breathing irregularly , the color of the body faded , a wound in the former an injection, and slightly damaged fin. The result shows that treatment B, C and D commonly shows healing process starting from day 5 after submersion. The highest in survival rate of common carp post infected by A. hydrophila than submensed in extract of star fruit shown by treatment C, B, and D at 70%, 53,33%, and 66,67% respectively. The water quality during the research was appropriate for common carp life (C. carpio). The conclusion was that extract of Averrhoa bilimbi can heal infection of bacteria A. hydrophila in common carp.