Kajian mengenai karya ulama Nusantara tidak cukup berhenti pada inventarisasi teks dan penjelasan kandungannya, tetapi perlu diarahkan pada pembacaan terhadap struktur pengetahuan yang membentuk argumentasi di dalamnya. Artikel ini menganalisis konstruksi epistemologi ilmu dalam Tanqīḥ al-Qaul al-Ḥathīth fī Sharḥ Lubāb al-Ḥadīth karya Syekh Nawawi al-Bantani dengan menggunakan tipologi epistemologi Muhammad Abid al-Jabiri yang meliputi bayani, irfani, dan burhani. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis dan analisis isi. Sumber primer penelitian adalah Tanqīḥ al-Qaul, terutama bab Fī Faḍīlat al-'Ilm wa al-'Ulamā', sedangkan karya al-Jabiri serta penelitian tentang Syekh Nawawi dan tradisi intelektual Islam Nusantara digunakan sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi pengetahuan Syekh Nawawi tidak memperlihatkan bayani, irfani, dan burhani sebagai tiga sistem yang bekerja secara seimbang. Nalar bayani menempati posisi dominan karena Al-Qur'an, hadis, dan otoritas ulama menjadi sumber serta titik awal penetapan kebenaran. Unsur burhani muncul ketika Syekh Nawawi memberikan penjelasan rasional terhadap hubungan ilmu, tindakan, dan akibat moral suatu perbuatan, tetapi rasionalitas tersebut tetap bergerak dalam horizon normatif teks. Sementara itu, kecenderungan irfani terutama muncul pada orientasi batin penuntut ilmu melalui keikhlasan, warā', kedekatan kepada Allah, dan penyatuan ilmu dengan amal. Temuan ini menunjukkan pola epistemologi hierarkis-komplementer yang dapat dirumuskan sebagai bayani sebagai basis otoritas, burhani sebagai mekanisme rasionalisasi, dan irfani sebagai orientasi etis-spiritual. Pola tersebut memperlihatkan karakter khas epistemologi turats pesantren yang tidak memisahkan teks, akal, dan pembentukan moral subjek pencari ilmu.