M Habib Kusnadi
Universitas Lampung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fenomena Campur Kode dalam Interaksi Pengguna Threads sebagai Representasi Identitas Digital M Habib Kusnadi; Farida Ariyani; Eka Sofia Agustina; Sumarti
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 9 No. 2 (2026): November (on process)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v9i2.17263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode serta menganalisis fungsi dan faktor sosial-linguistik yang memengaruhi penggunaannya dalam interaksi pengguna media sosial Threads. Fokus kajian diarahkan pada unggahan dan komentar pengguna Threads yang memuat percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, bahasa daerah, maupun ragam bahasa populer sebagai cerminan praktik berbahasa masyarakat digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologis. Teori yang digunakan adalah teori campur kode Muysken yang meliputi bentuk insertion, alternation, dan congruent lexicalization, serta didukung perspektif sosiolinguistik digital untuk melihat hubungan antara pilihan bahasa dan representasi identitas digital. Data diperoleh melalui metode simak, teknik catat, dan dokumentasi terhadap tuturan publik pada unggahan serta komentar pengguna Threads. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk insertion menjadi bentuk campur kode yang paling dominan, terutama melalui penyisipan kata dan frasa bahasa Inggris seperti deadline, skill, sorry, please, bestie, dan content creator. Bentuk alternation muncul melalui penggunaan klausa bahasa Inggris yang disandingkan dengan kalimat bahasa Indonesia, sedangkan congruent lexicalization tampak pada pencampuran unsur bahasa yang menyatu secara alami dalam struktur tuturan digital. Praktik campur kode dalam Threads dipengaruhi oleh faktor efisiensi berbahasa, pengaruh budaya populer, kebutuhan ekspresif, konteks komunikasi informal, dan upaya membangun citra diri. Temuan ini menunjukkan bahwa campur kode sebagai fenomena linguistik berfungsi sebagai strategi representasi identitas digital pengguna dalam ruang komunikasi media sosial.