Garam merupakan salah satu komoditas unggulan masyarakat pesisir, termasuk Kelompok Petambak Garam Santri di Gampong Meunasah Lancang, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Dayah Bustanul Insan. Dengan kapasitas produksi sekitar 7 ton per bulan dan harga jual garam krosok Rp2.800–3.000/kg serta garam halus Rp6.000–6.500/kg, kelompok ini masih menghadapi kendala berupa belum optimalnya identitas merek dan desain kemasan, belum adanya legalitas merek, serta ketergantungan pada penjualan garam sebagai satu-satunya sumber pendapatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan nilai tambah dan daya saing usaha kelompok melalui dua strategi utama, yaitu penguatan branding kemasan produk garam, serta diversifikasi produk melalui pembuatan sabun cuci piring cair berbasis garam. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui tahap persiapan (koordinasi dan identifikasi kebutuhan mitra) serta pelaksanaan inti selama satu hari pada 16 Agustus 2026 yang meliputi sosialisasi, pelatihan, demonstrasi, praktik langsung, dan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test terhadap 20 peserta, serta melibatkan 3 (tiga) mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala. Hasil kegiatan menunjukkan tersusunnya identitas merek (nama merek, logo, dan rancangan desain label kemasan) untuk produk garam mitra, serta dihasilkannya produk sabun cuci piring cair berbasis garam beraroma lemon dengan merek “Ciber Cinta Bersih” dalam kemasan botol 450 mL. Proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merek telah diajukan, dan proporsi peserta pada kategori “sangat baik” meningkat pada seluruh aspek pemahaman yang diukur, yaitu produksi sabun, alat dan bahan, branding kemasan, serta legalitas merek. Dengan demikian, kegiatan ini berhasil membuka alternatif sumber pendapatan baru bagi kelompok serta memperkuat kapasitas mitra dalam mengembangkan usaha garam rakyat berbasis potensi sumber daya lokal secara lebih berkelanjutan