Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TikTok Berbasis Etnosains Pati: Efektivitasnya Terhadap Peningkatan Literasi Sains Siswa Imma Nada; Hanik Malichatin
Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan (JPSP) Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : UIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/7ykzfj27

Abstract

Perkembangan teknologi digital mendorong inovasi media pembelajaran berbasis teknologi. Salah satu media yang banyak digunakan generasi muda adalah TikTok, yang berpotensi menjadi media pembelajaran menarik dan interaktif. Literasi sains merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran IPA. Namun, hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa literasi sains siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD. Di MTs Shirathul Ulum Pati, siswa juga mengalami kesulitan mengaitkan konsep unsur, senyawa, dan campuran dengan fenomena dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan etnosains dapat membantu siswa memahami konsep sains melalui budaya dan kearifan lokal, seperti pembuatan garam tradisional, bandeng presto, dan petis di Kabupaten Pati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan TikTok berbasis etnosains terhadap literasi sains siswa, peningkatan literasi sains setelah penerapan media, serta respons siswa pada materi unsur, senyawa, dan campuran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis pre-eksperimental dan desain one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 38 siswa kelas VIII B yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui tes, angket, dan dokumentasi. Instrumen berupa soal pilihan ganda untuk mengukur literasi sains dan angket untuk mengetahui respons siswa. Analisis data meliputi uji normalitas, paired sample t-test, dan N-gain dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi < 0,001 sehingga H₀ ditolak dan H₁ diterima. Rata-rata nilai pretest meningkat dari 58,42 menjadi 77,36 pada posttest, dengan N-gain sebesar 0,4822 dalam kategori sedang. Respons siswa terhadap media pembelajaran memperoleh rata-rata 81,35% dengan kategori tinggi. Dengan demikian, penggunaan TikTok berbasis etnosains menunjukkan pengaruh signifikan terhadap literasi sains siswa serta peningkatan setelah penerapan media pembelajaran tersebut.  
Nine-Tier Diagnostic Test Berbasis Permasalahan Kontekstual: Pengembangan Instrumen Miskonsepsi Calon Guru IPA Berorientasi Filsafat Sains Iseu Laelasari; Hanik Malichatin
Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan (JPSP) Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : UIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/38vp6k46

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan nine-tier diagnostic test berbasis permasalahan kontekstual untuk mengidentifikasi miskonsepsi sains dasar pada tiga dimensi filsafat sains, yaitu ontologis, epistemologis, dan aksiologis, serta mengevaluasi validitas, reliabilitas, dan kepraktisannya. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Uji coba skala besar melibatkan 45 calon guru IPA yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui lembar validasi ahli materi dan ahli evaluasi, tes empiris, serta angket respons pengguna. Hasil validasi menunjukkan nilai rata-rata Aiken’s V sebesar 0,83, yang mengindikasikan validitas isi yang tinggi. Analisis empiris menunjukkan bahwa butir instrumen memenuhi kriteria validitas berdasarkan korelasi item-total dengan nilai signifikansi di bawah 0,05, sedangkan koefisien reliabilitas sebesar 0,84 menunjukkan konsistensi internal yang tinggi. Dari aspek kepraktisan, instrumen memperoleh skor 82,91% dengan kategori sangat praktis. Selain menghasilkan informasi mengenai pemahaman konseptual calon guru IPA, instrumen ini menawarkan kerangka diagnostik yang memandang miskonsepsi tidak hanya sebagai kekeliruan dalam memahami konsep sains, tetapi juga sebagai persoalan yang berkaitan dengan hakikat objek pengetahuan (ontologis), proses pembentukan dan pembenaran pengetahuan (epistemologis), serta nilai dan relevansi pengetahuan bagi manusia dan kehidupan (aksiologis). Temuan ini memberikan bukti awal bahwa nine-tier diagnostic test memiliki potensi sebagai instrumen diagnostik untuk mengidentifikasi miskonsepsi sains dasar secara lebih komprehensif. Namun, pengujian pada sampel yang lebih besar dan beragam masih diperlukan untuk memperkuat bukti validitas dan reliabilitas serta mengevaluasi ketepatan klasifikasi diagnostik instrumen dalam konteks yang lebih luas.